Jumat, 21 Juli 2017

Melodi Kehidupan

Melodi Kehidupan


Linda Tiratana


Sepuluh tahun telah berlalu namun kenangan pahit itu tak
pernah lekang oleh waktu, seakan terus berputar seperti
adegan film yang direka ulang, bermain-main di pikiran Satta
selalu saat ia berada di tempat ini. Siang itu memang panas
tapi udara di sekitarnya sangat sejuk, mungkin pohon-pohon
cemara yang tumbuh di sekeliling tempat ini menghalangi
pancaran matahari langsung sehingga membuat tempat itu
begitu teduh. Satta melepaskan jaketnya membiarkan angin
yang berhembus perlahan menyentuh kulitnya yang putih
secara langsung, sentuhan itu dia rasakan seperti belaian
hangat seorang ibu. Rambutnya yang bergaya harajuku tak
beraturan dia biarkan berantakan diterpa angin, menutupi
sebagian wajahnya yang mulai basah oleh air mata. Dengan
perlahan Ia meletakkan setangkai mawar putih di atas sebuah
pemakaman dengan batu nisan bertuliskan “Naomi”, sebuah
nama yang dia rindu untuk dipanggil mama. Terakhir kali dia
temui ketika dia berusia tujuh tahun. Waktu itu ia meminta
mamanya untuk cepat pulang ke rumah, karena dia ingin
memainkan sebuah lagu dengan biola yang dibelikan mamanya,
sebagai hadiah untuk mamanya yang hari itu tepat berulang
tahun. Namun kondisi yang ada telah merenggut semuanya,
mamanya yang tergesa-gesa mengalami kecelakaan dan pergi
48 Seri Kumpulan Cerpen
untuk selama-lamanya. Kesedihan Satta tak berujung sampai
di situ, papanya yang tidak bisa menerima kenyataan selalu
menyibukan diri dengan pekerjaannya, bahkan hampir tidak
pernah pulang ke rumah apalagi bertemu dengan Satta.
Sejak saat itulah hati Satta seperti yatim piatu... sendiri…
tumbuh tanpa pijakan yang bisa menuntunnya…. “Mama
I miss you.” kalimat pertama yang selalu dia ucapkan saat
berbicara sendiri di tempat peristirahatan terakhir mamanya.
“Thanks Mom hari ini aku sudah tamat SMU… maunya sih aku
pergi ke tempat Mama... tapi waktu terus berputar di hidup
aku….” hasrat terpendam yang tak malu-malu dia katakan
pada mamanya “Canna mengajak aku untuk kuliah bareng,
bagaimana yah Mam?” mamanya pun tak bisa menjawab, kali
ini Satta harus pulang dengan tanda tanya di hatinya.
Sepulang dari pemakaman ia langsung memarkirkan sepeda
motornya di depan rumah Canna tepat bersebelahan dengan
rumahnya. Keluarga Canna bukan sekedar tetangga, tapi
melebihi keluarga sendiri buat Satta, karena cuma merekalah
yang dia punya yang selalu memberikan cinta dan kasih
untuknya. Setelah bertemu Canna, mereka bercengkrama
cukup lama membahas tujuan hidup mereka, kuliah, kerja,
usaha, merantau, seniman, relawan, cinta, kehidupan,
kematian…. Mungkin seperti remaja yang lain mereka masih
sangat rentan dengan jati diri, terutama Satta yang memang tak
punya pijakan dan motivasi hidup. Karena tidak menemukan
kata sepakat mereka meneruskan jalan hidup masing-masing.
Dua kepala dengan kondisi latar hidup yang berbeda, membuat
karakter dan sifat mereka kadang berlawanan, Canna yang
periang, ramah, aktif dengan lingkungannya terus maju untuk
kuliah mengejar mimpinya menjadi dokter dan aktif menjadi
Melodi Kehidupan 49
relawan di wihara untuk menumbuhkan dan mengembangkan
cinta kasihnya pada sesame. Ada juga keinganan hatinya untuk
mencari cinta sejati (hehehe...), cukup terencana dengan baik.
Sedangkan Satta, jalannya masih remang-remang bahkan bisa
dibilang gelap dan suram, lebih mengikuti arus yang datang,
terus mengalir tanpa ada tujuan.
Sejak memasuki liburan sekolah hari-hari Satta semakin sepi,
tak ada yang ingin dia kerjakan selain berkeliling dengan sepeda
motornya dan berhenti di tempat-tempat yang dianggap
menarik untuk diabadikan. Satta memang sedikit berbeda
dari remaja lainnya, dia cenderung pendiam dan menutup
diri dari lingkungannya. Tragedi masa lalunya membuat dia
tumbuh dalam kesendirian. Sepanjang hidupnya ini selain
Canna, dia hanya berteman dengan sepeda motornya yang
setia menemani dia menyusuri jalan raya di tengah malam
ketika perasaannya sedang kacau. Teman lainnya yaitu kamera,
karena dia memang senang dengan fotografi. Di komputer dan
dinding kamarnya banyak koleksi foto hasil jepretannya yang
tidak kalah bagus dengan fotografer handal, tapi kebanyakan
temanya tentang pemandangan alam yang mengisyaratkan
kesepian. Terakhir, temannya yang selalu memberi kekuatan
ketika dia merindukan mamanya yaitu sebuah biola usang yang
umurnya lebih dari separuh umur Satta. Tapi biola itu masih
terlihat bagus, menarik dan masih bisa digunakan, walaupun
selama ini Satta sangat jarang memainkannya, karena ketika
dia memainkannya hatinya menjadi sakit, air matanya terus
mengalir. Harapan itu tak mungkin lagi jadi kenyataan, sebagus
apa pun melodi yang dia mainkan, mamanya tetap tak akan
pulang untuk mendengarkannya. Tapi itulah satu-satunya
hadiah terindah yang terakhir kali diberikan mamanya, oleh
50 Seri Kumpulan Cerpen
sebab itu dia merawatnya dengan sepenuh hati.
Berkali-kali Canna mengajak Satta pergi ke wihara mengikuti
puja bhakti dan bantu-bantu kegiatan wihara, atau sekedar
duduk-duduk di wihara. Maksudnya biar Satta tidak seperti
anak ayam kehilangan induknya, bengong-bengong di kamar
dan keluyuran tidak jelas tempatnya. Tapi itulah Satta, dia
tidak suka dengan suasana yang ramai dan melibatkan banyak
orang. Bagi dia, dunianya cukup ada dirinya dan hal-hal yang
dia suka, yang lain tak perlu masuk ke dalamnya. Tetapi malam
ini sepeda motor Canna mogok, dan dia terpaksa meminta
bantuan Satta untuk mengantarnya ke wihara. Satta yang
memang tak punya kegiatan bersedia saja, “Ingat, aku hanya
mengantar kamu sampe depan yah, jangan coba-coba suruh
aku masuk temenin kamu” syarat itu begitu cepat keluar dari
mulut Satta. “Oke Sat, tapi harus cepat yah hari ini aku ada
rapat dengan pengurus yang lain, semua sudah pada datang
tapi belum bisa mulai karena data yang penting masih ada di
aku”.
Canna sudah bersiap-siap menaiki sepeda motor Satta, dengan
kecepatan penuh dan memang jaraknya yang tidak terlalu
jauh, tidak sampai lima belas menit mereka sudah berada di
depan wihara. “Thank you very much brother” Canna langsung
melompat turun dan sedikit berlari meninggalkan Satta,
memasuki wihara dengan tergesa-gesa. Melihat suasana yang
ramai Satta juga langsung menarik gas sepeda motornya yang
masih menyala, dalam perjalanan tiba-tiba dia baru sadar
“Ya ampun...katanya data penting? kenapa dia begitu mudah
melupakannya!”. Ternyata data Canna tertinggal di sepeda
motor Satta, Satta pun langgsung memutar balik sepeda
Melodi Kehidupan 51
motornya, untungnya masih belum terlalu jauh. Setibanya
di parkiran wihara dia langsung menelpon Canna, namun
sayang handphonenya tidak aktif. Malam ini memang malam
Cap Go, banyak orang datang ke wihara untuk sembahyang.
Pintu masuk wihara penuh sesak dengan kerumuan orang,
dari yang kecil, remaja, dewasa dan orang tua. Ditambah
lagi dengan kepulan asap yang membuat mata perih. Di hati
Satta mulai timbul perdebatan, cepat-cepat kabur dari sini
dan membiarkan sahabatnya dalam kesulitan, atau masuk
menembus keadaan yang tidak dia sukai dan mencaricari
Canna yang entah di mana keberadaannya. Namun di
telinganya terngiang-ngiang kata ‘penting’ yang dari tadi terus
diucapkan Canna, akhirnya hatinya pun luluh.
Helm dan jaketnya dia tinggalkan di sepeda motor. Dengan
sedikit kegelisahan dia mulai melangkah masuk setapak demi
setapak menembus tempat persembahyangan menuju aula.
Lebih mengerikan daripada memasuki sebuah hutan, seperti
itulah yang dirasakan Satta. Seketika langkahnya terhenti,
“Sejak kapan wihara berubah seluas ini yah? Di mana sih
Canna? Ughhh” Satta mulai menggerutu di dalam hati, merasa
kesal karena dia memang sudah lama sekali tidak pernah ke
tempat itu, keadaannya sudah banyak yang berubah tak tahu
ruang mana yang harus dia masuki. Seperti kata pepatah
‘malu bertanya sesat di jalan’ nah itulah yang terjadi dengan
Satta.
Langkah kakinya membawa dia ke pintu masuk Dhammasala.
Samar-samar dia mendengar melodi yang sangat indah, tapi
dia tau pasti itu bukan suara biola atau alat musik lainnya,
seperti nyanyian tapi entah bahasa apa yang digunakan.
52 Seri Kumpulan Cerpen
Semakin dipertajam pendengarannya, membuat langkahnya
tertarik untuk memasukinya. Perlahan-lahan dia membuka
pintu yang tidak tertutup rapat itu, berjalan ke dalam hanya
sepuluh langkah, dia pun duduk bersimpuh. Ternyata di
depannya terdapat altar rupang Buddha dan seorang gadis
yang sebaya dengannya sedang membacakan bait-bait
paritta. Denting-denting melodi itu mengalun perlahan, Satta
memejamkan matanya membiarkan melodi itu menyatu
dengan tubuhnya, mendamaikan hatinya seperti air yang
ditemui di gurun pasir, begitu menyejukkan. Sejenak dia lupa
dengan luka hatinya yang selalu melekat di pikirannya.
Kejadiannya hanya berlangsung beberapa menit, Satta yang
masih terlena dengan keindahan melodi itu pelan-pelan
membuka matanya, ia pun terperanjat kaget karena ternyata
gadis itu sudah ada di sampingnya “Maaf, ada yang bisa
saya bantu?” suara merdu gadis itu kembali memecahkan
kesunyian. Seperti habis tersengat listrik tegangan tinggi,
Satta masih terpaku membisu, namun matanya tak lepas dari
gadis itu. Raut wajah gadis itu ternyata seindah suaranya,
rambutnya panjang lurus terurai, matanya sipit, kulitnya
kuning berkilau, mengenakan kemeja merah muda dengan
lengan sebatas siku, dipadu dengan rok putih bermotif bunga
sangat kontras dan cantik sekali. “Maaf, saya pengurus di
sini nama saya Khema ada yang bisa saya bantu?” dengan
tersenyum dan beranjali gadis itu kembali bertanya kepada
Satta. “Saya...” senyuman itu membuat pikiran Satta semakin
kacau, bersusah payah dia mengingat tujuannya, “Oh iya...
saya sedang mencari teman, apa kamu mengenal Canna?”
malu-malu Satta menatap gadis itu. “Kebetulan sekali saya
Melodi Kehidupan 53
juga mau bertemu dengan dia, mari saya antar” kebaikan
hatinya tersirat pada ucapannya. Satta lalu menyerahkan data
yang dia bawa kepada gadis itu “Tolong berikan ini kepada
dia!”, setelah mengucapkan terima kasih tanpa panjang
lebar bahkan tanpa menyebutkan namanya, Satta langsung
bergegas keluar, dia tidak mau membiarkan dirinya semakin
larut pada makhluk indah yang satu itu.
Karena adanya kontak dengan sesuatu yang menyenangkan,
maka ia pun langsung terseret oleh sensasi yang muncul dan
tak dapat mengetahui bagaimana hal tersebut bisa terjadi.
Pertemuannya dengan gadis itu memang hanya sesaat saja,
namun bayangan, senyuman, dan suaranya yang merdu terus
menghantui Satta. Membuat dia lebih bersemangat namun
terkadang membuatnya gelisah. Ingin tahu lebih banyak
tapi tak mampu bertanya, ingin bertemu tapi tak tahu entah
bagaimana caranya. Ia ingin sekali bisa mengulang peristiwa
itu, ketika hatinya terasa damai dan tenang. Entah apa
yang sudah terjadi, resah gelisah selalu menghampirinya,
menimbulkan tanda tanya di hatinya.
Detik ini rupanya dewi fortuna sedang berpihak kepadanya,
gadis itu melintas di depannya saat Satta melamun sendiri
di kafe. Tanpa berpikir panjang ia langsung mengikuti gadis
itu. Dengan tidak menunjukan keberadaannya, ia pun
mulai memainkan tangannya dengan lincah di atas kamera,
fokus utamanya hanya satu “Khema”. Senyum Satta terus
berkembang melihat sosok yang ada di foto. Timbul pertanyaan
di dalam hatinya “benarkah ini yang aku cari?” satu hal yang
tampak jelas terlihat olehnya, dirinya telah mengijinkan gadis
itu masuk ke dalam dunianya yang sempit.
54 Seri Kumpulan Cerpen
Pagi itu begitu cerah, Satta berniat menghabiskan waktunya
untuk memotret. Setelah pamit dengan keluarga Canna,
ia pun melajutkan sepeda motornya menuju tepi danau
di pinggiran kota. Suasana hatinya yang bahagia ternyata
hanya berkembang sesaat, ketika melewati tikungan tajam
di pertigaan jalan... “Brukkkk” sepeda motornya keserempet
oleh mobil truk dari arah berlawanan yang ingin mendahului
mobil di depannya. Kejadiannya begitu cepat, darah segar
mulai membanjiri tubuh Satta, kesadaran terakhir yang dia
ingat yaitu bahwa dia berharap sekali kesempatan itu datang,
kesempatan dia untuk bisa bersama dengan gadis itu, gadis
yang sudah mengalunkan melodi indah di hatinya. Setelah
itu dia tak tahu lagi apa yang terjadi, yang ada hanya kosong
berkepanjangan.
Keluarga Canna sangat shock mendengar kabar itu, mereka
sibuk mengatur pengobatan Satta di rumah sakit. Mereka juga
sudah berusaha mengabari papanya Satta tapi hasilnya nihil,
papanya tetap tak bisa dihubungi, terpaksa segala tanggung
jawab tentang pengobatan Satta diambil alih oleh keluarga
Canna. Luka luarnya tidak terlalu parah hanya butuh beberapa
jahitan di kaki dan tangannya, tapi butuh operasi besar
karna tulang kaki sebelah kanannya patah harus dipasang
pen. Pengobatannya berjalan lancar namun kesadaran Satta
semakin melemah setelah operasi itu, Satta berada dalam
keadaan koma.
Canna sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya, setiap
hari bila tidak ada kesibukan dia selalu berada di sisi Satta,
ruangan yang didominasi warna putih. Keheningan yang
hanya dipecahkan detak jantung dari peralatan medis,
Melodi Kehidupan 55
membuat Canna ikut merasakan penderitaan sahabatnya. Ia
pun bercerita apa saja tak perduli Satta bisa mendengarnya
atau tidak, kata dokter itu bisa membantu meningkatkan
kesadarannya.
Sudah satu minggu berlalu, kondisi Satta tetap tak ada
perubahan. Selain keluarga Canna, hanya ada beberapa orang
yang mengunjunginya termasuk Key, anak laki-laki berusia
sekitar sepuluh tahun, salah satu pasien yang ada di rumah
sakit itu juga. Malam itu Canna mengajak teman-temannya
untuk membacakan paritta di ruangan tempat Satta dirawat,
bait demi bait terus mengalun penuh harap untuk kesembuhan
Satta. Detik itu juga, entah di mana dirinya berada, samarsamar
Satta mendengar melodi itu, suara yang begitu dekat di
hatinya seolah-olah menunjukan jalan untuk kembali ke dalam
hidupnya. Jemarinya mulai bergerak-gerak, mulutnya seakan
ingin mengatakan sesuatu. Melihat perubahan yang terjadi
setelah usai membacakan paritta, Canna langsung berlari
memanggil dokter. Setelah diperiksa pelan-pelan Satta mulai
membuka matanya, remang-remang dia melihat gadis itu,
gadis yang suaranya daritadi ia cari-cari, namun kesadarannya
masih lemah mulutnya tak mampu berkata-kata, hanya seulas
senyum melintas di bibirnya. Dia berusaha mengingat hal-hal
apa saja yang telah terjadi, pertemuannya kembali dengan
gadis itu telah mengalahkan rasa sakitnya. Di dalam hati dia
bersyukur bahwa kesempatan itu masih berpihak kepadanya.
Beberapa hari dalam keadaan koma membuat dia lambat untuk
berpikir, satu yang menjadi tanda tanya di hatinya, mengapa
gadis itu bisa ada di hadapannya? Suara-suara itu membuatnya
semakin kacau, ternyata teman-temannya Canna berpamitan
56 Seri Kumpulan Cerpen
pulang atas saran dokter. Namun Satta tidak perduli dengan
mereka, dengan suara-suara itu, fokusnya tetap tertuju pada
seseorang. Akhirnya, sebelum menemukan jawabannya dia
telah dihadapkan pada kenyataan, pendengarannya memang
masih belum jelas tapi samar-samar, matanya melihat gadis
itu bergandengan tangan dengan sahabatnya. Saat Canna
kembali ke kamarnya dia melihat Satta tertidur, tapi dari sudut
matanya mengalir butiran air mata. Canna pun menggenggam
tangan Satta untuk memberikan semangat “Berjuanglah
sahabat! Demi kehidupan yang lebih baik dan demi orangorang
yang menyayangi kamu”.
Kata dokter masa kritis Satta sudah lewat, maka malam itu
Canna berpamitan pulang dan meninggalkan Satta sendiri,
“Istirahatlah yang cukup, besok pagi aku akan kembali lagi”
Setelah Canna tak terlihat lagi, Satta pun membuka matanya.
Hatinya berteriak benarkah hidupnya bisa lebih baik? Benarkah
masih ada orang-orang yang menyayanginya? Secara medis
masa kritisnya memang sudah berlalu, tapi krisis mentalnya
baru saja menjalar. Di saat pikiran sedang kacau reaksi-reaksi
mulai timbul, tumbuh dan berkembang menjadi keputusasaan.
Dunianya yang kecil kini menjadi ciut, takkan ada celah lagi
untuk yang lain masuk. Secepat waktu berlalu, rasa syukur
yang tadi sempat dia ucap pun berubah menjadi penyesalan,
“Aku memang belum mengenalmu, tapi itu tak jadi alasan aku
tidak bisa jatuh hati padamu, kamu telah membangunkan
aku dari mimpi burukku, saat ini pun kehadiranmu mampu
mengembalikan kehidupanku, tapi untuk apa aku harus tetap
hidup? Lebih baik aku terkubur dibalut mimpi yang indah
daripada harus melihat kenyataan bahwa kamu adalah kekasih
sahabatku. Mom kenapa kamu biarkan aku kembali?, hidup
Melodi Kehidupan 57
ini telalu berat untuk aku jalani sendiri, harus bagaimanakah
menjalani hari-hari selanjutnya?.” Satta pun terlelap dengan
segala bentuk pikiran yang membelenggu hatinya.
Esok paginya cuaca begitu cerah, mentari seakan tak pernah
lelah untuk bersinar, pancarannya menembus kaca jendela
dan menerangi kamar Satta, seolah menyambut datangnya
kembali sang pangeran. Kehangatannya mengusik Satta
untuk membuka mata, setelah cukup beristirahat, Satta
baru merasakan sakit yang ada di tubuhnya, dia sadar kalau
kakinya belum bisa digunakan untuk berjalan. Tiba-tiba Canna
sudah ada di pintu “Morning brother, bagaimana kondisimu
sekarang? Apa yang kamu rasa?” Satta yang sedang melamun
sempat kaget namun berusaha untuk tersenyum, dia tidak
mau sahabatnya mengetahui apa yang sedang begejolak di
dalam hatinya, “Seperti yang kamu lihat, aku takkan semudah
itu dibiarkan lenyap” tatapannya matanya menerawang jauh
sekali, senyum sinis mengembang dibibirnya, “Thank Can...
selama ini kamu sudah merawat aku dengan baik”. Canna
membuka kaca jendela lebar-lebar berharap udara segar yang
mengalir dapat menjernihkan pikiran Satta, “It’s Okay Sat...
tapi aku tidak bisa menghubungi ayah kamu.” Canna merasa
bersalah kata-katanya seperti menegaskan bahwa Satta tak
punya keluarga. “Tak apa Can, dari dulu sudah seperti itu”,
bagi Satta itu memang hal yang biasa. “Sebagai gantinya aku
bawain ini buat kamu, biar kamu tidak kesepian, soalnya
kata dokter paling cepat satu minggu lagi kamu baru bisa
pulang” Canna menyerahkan biola kesayangan Satta, “Tapi
sayang kamera kamu hancur saat kejadian itu, nanti kalau
sudah sembuh aku antar kamu deh buat cari kamera baru”,
kali ini Satta yang merasa bersalah, bagaimana mungkin dia
58 Seri Kumpulan Cerpen
menghianati sahabat yang begitu tulus menyayangi dia.
Hembusan angin yang menerpa wajahnya seolah berbisik dan
mendorongnya untuk sekali lagi meyakinkannya, “Semalam
sepertinya ramai sekali? Mereka semua teman kamu?” Satta
tak berani manatap mata Canna. “Ya, mereka ingin mendoakan
kamu agar cepat sembuh. Semuanya temen di wihara, cuma
satu orang yang bukan, kamu liat gadis yang di sebelah aku?”.
Tiba-tiba saja bayangan gadis itu tergambar jelas, wajahnya,
senyumnya, suaranya melintas dengan cepat dipikiran Satta,
namun kata-kata terakhir Canna membuyarkan semuanya,
“Dia pacarku, kami baru jadian seminggu yang lalu, tepat saat
kamu kecelakaan.” Canna yang tak tahu luka hati Satta terus
bercerita, niatnya hanya satu yaitu berbagi kebahagiaan. Satta
memang bahagia melihat sahabatnya bahagia, tapi di sisi lain
terasa ada yang hilang, yaitu kesempatan bersama gadis itu
tak mungkin menghampirinya, sama seperti dawai biolanya
yang tak dapat mengukir senyum di wajah mamanya.
Ketika hari menjelang sore, Canna berpamitan pulang.
Sebelum beranjak dia sempat mengatakan kalau akan datang
tamu istimewa, tapi Satta tak begitu antusias. Sejak menuai
kekecewaan, baginya kata istimewa menjadi begitu tak
berharga. Tiba-tiba saja langit cerah berganti mendung, seperti
mengerti apa yang dia rasakan. Dia pun mulai memainkan
biolanya, denting melodi mengalun dengan merdu namun
terdengar menyayat hati. Setelah usai terdengarlah suara
tepuk tangan, “Permainanmu sangat bagus sekali, tapi buatku
itu terlalu sedih, perkenalkan namaku Key” dia mengulurkan
tangannya. “Kamu pasti Satta!” senyum yang manis
mengembang di wajahnya. Entah sejak kapan datangnya,
Melodi Kehidupan 59
bocah ini sudah duduk di dekat Satta. “Apa yang kamu lakukan
di sini?” melihat seragam yang dia pakai sama dengannya,
Satta jadi teringat tamu istimewa yang dikatakan Canna. “Aku
senang sekali kakak sudah sadar, tiap hari aku selalu datang
ke sini dan berharap bisa mengenalmu, kata kak Canna
kamu sangat hebat memainkan biola, kamu juga fotografer
handal, kelak bila sudah besar aku ingin sekali seperti kakak,
bisa menghibur orang-orang dengan melodi yang indah.”
Celotehnya. “Tapi tak bisa membuat orang yang kamu cintai
tersenyum, tak bisa membuat orang yang kamu cintai tetap
berada di sisimu” Satta nampak tak sepaham. “Setidaknya itu
lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa untuk orang yang
kita cintai dan mencintai kita.” katanya mantap. “Maksudmu?”,
sebenarnya Satta malas berbicara, tapi keceriaan bocah
itu menggelitik hatinya. “Kakak tau tidak? Sudah tiga bulan
aku berada di sini, aku terkena leukimia, setiap hari hanya
menunggu malaikat yang mau mendonorkan sum-sum tulang
belakangnya untukku... ” bocah itu mengatakannya hampir
tanpa beban membuat Satta malu dengan dirinya sendiri, “...
Bayangkan kalau selama itu aku hanya terbaring di tempat
tidur, tak melakukan apa-apa, pasti aku benar-benar terlihat
seperti anak yang berpenyakitan, dan sudah pasti itu membuat
papa dan mamaku sedih. Nah makanya saat kondisiku fit,
aku suka bejalan-jalan keliling rumah sakit ini. Aku yakin
ketika mampu membuat orang-orang yang ada di sekitarku
tersenyum pasti itu dapat mejauhkan kesedihan di hati orang
yang aku cintai, mama dan papa aku.” Sorot matanya yang
teduh menatap mata Satta yang mulai berkaca-kaca. “Ternyata
kamu jauh lebih hebat dari aku.” Dia sadar kesedihannya yang
membelenggu tak sebanding dengan bocah itu, tapi otaknya
60 Seri Kumpulan Cerpen
begitu dangkal membuat reaksi dalam menghadapinya
menjadi berlebihan. “Apa yang membuatmu seperti itu?”
Rasa ingin tahunya membuat dia bertanya, bocah itu bangkit
dari tempat duduknya dan membuka jendela di ruangan itu
lebar-lebar, “Kau lihat mendung tak selalu akan turun hujan,
angin itu telah membawa awan hitam berlalu, sebentar lagi
bias-bias cahaya akan membentuk sebuah pelangi dengan
warna-warni yang indah, kakak tahu warna pelangi?” dia
bertanya tanpa menoleh kearah Satta. “Mejikuhibiniu” jawab
Satta. “Benar sekali, lihat itu!” Tangannya menunjuk pelangi
yang mulai terbentang di cakrawala, “Aku sangat suka melihat
pelangi, indah bukan?” Kali ini dia membalikkan badannya
memastikan Satta melihat apa yang dia lihat. “Yah, lebih
indah dari yang pernah aku lihat.” Pelanginya yang berbeda
atau suasana hatinya yang berbeda? tapi begitulah yang
dirasakan Satta, kata-kata bocah itu telah menjernihkan lensa
matanya. “Kakak tahu kenapa di sana tidak ada warna hitam
dan putih?” tanyanya tersenyum. “Tidak.” Pertanyaannya
terasa aneh dia pun menjawab dengan singkat. “Sebenarnya
dengan mata hati kita bisa lihat, di awal pelangi itu ada warna
hitam, terus bergulir menjadi warna-warni indah hingga
berakhir dengan warna putih, sama dengan dimensi waktu
yang kita punya, saat lalu, saat ini dan saat nanti.” Satta yang
serius mendengarkan manggut-manggut dan berpikir sejenak
“Apa hubungannya dengan warna pelangi?” rupanya ia masih
belum mengerti. “Hitam itu diibaratkan masa lalu kita yang
gelap penuh dengan kesedihan, keputusasaan, kekecewaan,
kehilangan, kegagalan, semuanya cukup tersimpan di dalam
hati, tak perlu kita tunjukan kepada seluruh penghuni dunia.
Jangan berhenti sampai di situ, beralihlah untuk saat ini.
Melodi Kehidupan 61
Terus bergerak dengan melodi-melodi indah seperti langkah
pelangi yang penuh dengan warna-warni, menghias langit
yang biru dan mengukir senyum bagi mata-mata orang yang
memandangnya, hingga saat nanti warna putih bisa terlihat
di ujung kehidupan kita, bersih dan terang.” Senyum tulus itu
terlihat di wajahnya, kata-kata yang baru saja diucapkannya
seolah menghancurkan dinding kegelapan Satta, selama ini
dia hanya hidup di masa lalu, tak bisa menerima kenyataan,
tak membiarkannya berlalu, terus terjebak dalam lingkaran
kesedihannya dengan membangun dunia yang sempit di
atas dunia yang nyata. Sunyi sebentar, “Terima kasih karena
kamu sudah mengajarkan aku banyak hal, kupikir aku bisa
melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda sekarang,
menerima dan memafkan saja ternyata tidaklah cukup, aku
harus mengikhlaskannya, itu berarti mejalani hidupku ke
depan, mulai memikirkan masa depan daripada masa lalu.”
Bocah itu mengangguk, “Ya, kakak mengartikannya dengan
bagus sekali, tapi masa lalu dan masa depan tak nampak pada
pelangi, itu berarti kita harus berjuang untuk saat ini.” Sunyi
lagi. “Bagaimana caranya melukis warna-warni yang indah
itu?” Bocah itu kini duduk di samping Satta. “Dengan berbagi
apa saja yang kamu punya, supaya orang-orang yang berada
di sekitarmu bahagia dan hidupmu menjadi berarti untuk
makhluk lain.” Katanya sambil tersenyum lebar. “Semudah
itu?” Satta tak percaya. “Yah ayo kita mulai, bisakah kakak
memainkan sebuah lagu untukku?” Sikap manjanya mulai
terlihat. “Tentu saja adik manis” Satta bersiap-siap memainkan
biolanya. “Tapi tidak seperti tadi, bisakah kau mainkan lagu
Doraemon kesukaanku?” Dia terlihat malu-malu dan antusias
sekali. “Yahhh lagu ini khusus buat kamu, dengarlah....” Melodi
62 Seri Kumpulan Cerpen
itu mulai mengalun dengan indah membuat sukacita bagi
orang yang mendengarnya, bahkan setelah mereka berpisah
melodi itu terus bergema di hati Satta, jauh lebih indah dari
melodi gadis itu, karena melodi itu tercipta dari dirinya sendiri
yang disertai ketulusan hati.
Sepanjang malam Satta terus tersenyum, tak percaya bocah
itu ternyata benar-benar tamu istimewa. Seperti namanya
yang berarti kunci dia telah membuka pintu hati Satta yang
tertutup rapat tanpa celah, dan Satta merasa aneh saat Key
mengatakan bahwa ia tahu semua tentang itu dari peri pelangi
(hehehe..) dasar anak-anak paling senang dengan cerita dari
Negeri dongeng. Tapi Satta tidak perduli, kenyataannya bocah
itu telah mengajarkan arti kehidupan dan menyalakan sumber
melodi yang ada di hatinya. Ketika malam semakin larut dia
pun terlelap dengan nyenyak, menyiapkan energi untuk esok
yang lebih cerah dengan kehidupan yang lebih baik, untuk
orang-orang di sekitarnya seperti yang dikatakan sahabatnya,
tak ada lagi keputusasaan, tak ada lagi patah hati, tak ada
lagi dunia yang sempit. Entah sadar atau mimpi Satta melihat
mamanya tersenyum bahagia. ^^

*petikan
Penderitaan atau Dukkha bisa datang menghampiri siapa
saja dan usia tidak menjamin yang tua lebih bijaksana,
semua tergantung pola pikir kita dalam menyikapinya.
Masa lalu memang tak bisa dipisahkan, tapi bukan berarti
harus tenggelam pada masa lalu, hiduplah saat ini dengan
melukis warna-warni yang indah di setiap langkah kita.
Kebahagiaan dan kedamaian yang sesungguhnya terletak
di dalam diri kita, seindah apa pun melodi yang kita dengar,
tetap tak seindah melodi yang kita ciptakan sendiri dengan
ketulusan hati. Dengan segala keterbatasan yang kita
punya, mari kumandangkan melodi indah dalam diri kita
hingga tercipta satu harmoni yang selaras, saling berbagi,
saling memberi, saling membantu, sampai akhirnya hidup
kita benar-benar berarti.

Guru Kecil

Guru Kecil


Selfy Parkit


Kedatangannya dari jauh memang sudah terlihat, walau agak
samar tapi Aku yakin itu dia. Wajahnya yang semu kemerahan,
dengan rambut ikat kepang ke atas dan ransel merah muda
di pundaknya membuat ia terlihat semakin kecil. Gerakannya
yang jingkrak-jingkrak dan gemerincing bunyi kerincingan di
kaki kecilnya, menandakan kalau ia memang masih hijau, masih
belum tercemar polusi duniawi. Langkahnya tak beraturan,
ringan namun terlihat mantap. Tak ada beban di pikirannya
dan hatinya, dunia seperti surga bermain yang indah.
Semakin dekat semakin melebarlah tawanya, mulailah
dipamerkannya gigi putihnya itu sambil mengayunkan lengan
kecil beserta jemari-jemarinya yang lentik. Seketika bibirnya
yang mungil menyuarakan kata yang tak asing kudengar,
“Lao Shi... Lao Shi!!!” dari kejauhan suara kecil itu terdengar
semerdu bunyi harpa, bahkan lebih merdu dari biasanya.
Berjingkrak-jingkraknya semakin menjadi, langkahlangkah
kecil itu mulai cepat, daun-daun di sekeliling mulai
berhamburan. Tap… tap... tap… tak terasa segumpal daging
kecil itu sudah mendarat tepat di dekapanku. “Lao Shi, Good
Moning” sahut si pemilik bibir merah delima. “Bilang, Zao
An!” “Zao An…” tirunya sambil terkekeh-kekeh.
Entah sampai kapan kekehan ini akan kudengar, sampai si kecil
mulai mengertikah? Aku berharap tidak, Gadis harus menjadi
orang yang tegar, orang yang kokoh, bahkah lebih kokoh dari
gunung. Di umurnya yang masih 3 tahun masih belum banyak
yang ia mengerti. Tapi Gadis mengerti cinta. Hanya karena
cintalah Gadis mampu bertahan dalam kerasnya dunia. Dunia
yang telah merenggut kedua orangtuanya dari kehidupannya.
Tapi toh Gadis masih bisa tersenyum, masih bisa bermain
dengan kakak pengasuh panti asuhan, masih bisa terkekehkekeh.
“Beberapa hari ini di panti dia agak rewel semenjak dikasih
tontonan Barnie, tapi kalau sudah sampai di sekolah ya
begitu tuh, jingkrak-jingkrakan tak karu-karuan” sahut kakak
pengasuh yang mengantarnya ke sekolah. Aku hanya bisa
tersenyum lebar. Untungnya warisan peninggalan orangtua
Gadis mampu membiayainya sekolah. Tapi walau bagaimana
pun mampukah harta duniawi itu mengobati luka hati? Kurasa
tidak. Apalagi karena harta pulalah Gadis harus menjadi
yatim piatu, korban dari perampok yang tak mampu bertahan
dari kerasnya kehidupan. Aku menghela nafas panjang,
membanyangkannya saja sudah membuat sesak.
Gadis kecil itu berjalan mendahuluiku, lenggak-lenggok
parasnya dari belakang sudah banyak menghiburku.
Memperhatikannya membuatku tak mampu menahan tawa.
Meledaklah tawaku di ruang kelas yang masih kosong. “Lao Shi
kok ketawa?” tanyanya sedikit curiga. Melihat mimik wajahnya
yang lucu membuatku berusaha keras menghentikan tawaku.
Sambil menarik nafas dalam Aku berusaha menenangkan diri.
“Gadis tahu, kalau hari ini adalah hari ulang tahun Gadis?”
“Ulang tahun ya! Horree.. asik…!!!” serunya gembira sambil
bertepuk tangan. “Hmm.. sebagai hadiahnya, Gadis boleh
minta apa saja sama Lao Shi… Gadis boleh minta kue ulang
tahun berbentuk Princess, atau boneka Barnie yang seperti
yang di TV kemarin” tawarku mengodanya. Gadis terdiam
sejenak sambil jemarinya tak henti melinting-linting rambut
depannya yang masih tersisa. “Hmm… apa ya.. tapi Gadis
tidak mau kue ulang tahun berbentuk Princess, atau boneka
Barnie.”katanya dengan tampang serius. “Loh, kalau tidak
mau kue dan bonekanya Gadis mo apa dong?” sahutku
menawarkan kembali kepadanya. “Bener?” tanyanya lugu.
“Iya….” Jawabku memastikannya. Mulutnya yang kecil itu
mulai mengucapkan kalimat-kalimat panjangnya. “Kata Barnie,
anak-anak punya mama papa, Gadiskan masih anak-anak
ya! Gadis mau mama papa bisa?” seketika hatiku terenyuh,
kupeluk Gadis erat-erat, air mataku meleleh tak terasa. “Loh
kok Lao Shi nangis, ih Lao Shi cengeng, yah ga ada ya mama
papanya, kalau ga ada Gadis mau Lao Shi aja deh!” sahutnya
enteng sambil terkekeh-kekeh. Mataku basah, kupeluk Gadis
dua kali, bibirku mulai tersenyum menghiburnya, namun
bukan Aku yang sesungguhnya menghibur Gadis, Gadislah
yang sudah menghburku. Guru kecil yang mengajarkanku
kehidupan.

*petikan
Guru yang mengajarkan kita kebahagiaan adalah
penderitaan. Guru yang mengajarkan kita untuk dapat
bahagia adalah penderitaan. Semakin kita berusaha
menolak penderitaan, semakin jauh kita dari kebahagiaan.

Selamat Jalan koko

Selamat
Jalan koko

Cici Metta


“Aku bagai rajawali kokoh yang telah jatuh dan siap terinjak.
Tidak ada lagi kepakan sayapku yang menjadi kebanggaanku.
Namun aku beruntung, di sisa hidupku ini kutemukan sebuah
arti hidup.”
Itulah curahan hati kakakku Ming saat ia divonis gagal ginjal.
Keluarga yang dicintainya menginginkan kematiannya.
Catatan hariannya sangat menyentuh hati dan membuat kita
sadar agar bisa menghargai kehidupan. Akhirnya ia menyadari
bahwa hidup bukan hanya menggapai kekayaan duniawi,
mengejar mimpi belaka, tetapi juga harus mengisinya dengan
cinta kasih, kebaikan dan kasih sayang.
KEPERGIAN KAKAK TERCINTA MEMBUATKU MENANGIS
BERHARI HARI
Panasnya mentari, tidak memberiku kehangatan. Sejuknya
angin berhembus, tidak menyejukan hatiku. Hatiku beku
dan penuh kesedihan. Aku tidak pernah rela melepaskan
kepergiaan kakakku selamanya. Aku menangis berhari hari,
penuh air mata dan kerinduan. Karena kepergiannya terkesan
tragis dan begitu menderita di akhir hidupnya.
Koko, itulah sebutanku pada kakak pertamaku. Kakakku
adalah kakak pertama, kami enam bersaudara. Aku terlahir
sebagai adik perempuan yang kedua. Tidak begitu banyak
memori yang terekam dalam ingatanku. Namun saat koko
mengantarkan ku kesekolah, berjalan kaki saat aku masih SD
kelas satu selalu teringat sampai hari ini.
Kehidupan koko terbilang cukup sukses, dan cukup kaya.
Diusianya yang keempat puluh ia sudah memiliki segalanya.
Mobil, rumah mewah, vila, tanah, toko, emas, deposito dan
tabungan yang cukup menjamin masa tuanya. Karena ia sangat
gigih dan selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya.
Masa kecil kami yang sulit membuatnya termotivasi selalu
untuk menjadi orang sukses dan kaya.
“Aku harus menjadi orang kaya,” begitulah kata koko dalam
menggapai mimpi-mimpinya.
Ternyata kekayaan duniawi, tidak menjamin kehidupannya
akan berlangsung dengan damai dan harmonis. Keinginannya
memiliki kartu miskin di saat ia menderita sakit, membuatku
menitikan air mata. Asuransi kesehatan yang seharusnya dapat
dipergunakan untuk memenuhi biaya pengobatan tidak dapat
dipergunakannya. Istri dan anak-anaknya mempergunakan
untuk jalan jalan keluar negeri. Kasih sayang yang telah
diberikannya selama ini, lenyap begitu saja bagai tenggelam
arus terbawa ombak.
Takut menjadi miskin adalah penyebab utama dari semua
kisah ini. Koko telah pergi dengan kerelaan hatinya. Ia tidak
mau makan dan minum saat-saat terakhir hidupnya saat
dirawat dirumah sakit. Kondisinya semakin parah dan akhirnya
ia meninggal. Aku sering berpikir, jangan-jangan koko sengaja
mengakhiri hidupnya. Namun kutepis semua pikiran itu,
biarlah ia pergi dengan damai dan tenang.
Selamat Jalan Koko, tidurlah dengan indah, semoga Cahaya
Terang akan selalu bersamamu selalu, menyertai koko hingga
tercapainya Pantai Seberang.
USAHA PAPAKU MENGALAMI KEPAILITAN
Usaha papaku adalah pabrik cor logam, seingatku usaha
papa adalah melebur besi dan membentuk cetakan sesuai
permintaan pelanggan. Sebagai anak pertama dari delapan
bersaudara, papa memiliki tanggung jawab yang besar. Papa
dan mamaku menikah diusia yang cukup dini, diusianya yang
keenam belas.
Kakekku adalah orang yang cukup ulet, merintis pabrik yang
dikelolanya dari kecil. Kebutuhan keluarga semua dicukupi dari
usaha ini. Kami adalah keluarga besar, dan tinggal serumah.
Terkadang konflik juga datang di keluarga ini. Namun kakekku
cukup bijaksana dalam menilai dan menyelesaikan masalah.
Sejak kakekku meninggal akibat penyakit stroke yang
dideritanya. Papa mewariskan usaha kakek diusianya yang
cukup muda. Papa juga memiiki segalanya sejak kecil.
Hidup serba berkecukupan. Papa adalah anak pertama dari
delapan bersaudara. Mungkin papa adalah orang yang sangat
beruntung, terlahir dalam keluarga berada.
Tapi hidup tidak dapat diduga, bagai roda yang selalu
berputar. Usaha papa mengalami bangkrut atau pailit. Entah
salah dimana, akupun tidak tahu karena usiaku masih sangat
kecil disaat itu. Yang pasti sejak saat itu aku mulai merasakan
tidak nyamannya hidup susah.
KARENA KECEWA KAKAKKU MARAH DAN PERGI DARI
RUMAH
Sejak usaha papa mengalami pailit, Koko mulai berjualan apa
saja makanan, baju, sepatu ataupun menyewakan video dari
rumah kerumah. Koko berusaha hidup mandiri. Koko juga
sangat rajin membantu mama mengurusi adik-adik saat itu.
Mengantar kami kesekolah, mencuci baju dan menyetrika.
Kami berlima adik yang beruntung rasanya. Memiliki kakak
yang perhatian.
Kami hidup serumah, dengan beberapa keluarga lainnya.
Hidup dengan keluarga besar membutuhkan kesabaran yang
tidak sedikit. Untungnya mama cukup sabar, menghadapi
sikap dan prilaku dari keluarga papa juga mama sendiri, saat
papaku gagal menjalankan usaha keluarga. Mama mampu
menyejukan hati kami, bagiku mama adalah segala-galanya.
Air mata ku selalu jatuh, mengingat saat masa sulit yang
pernah kami lewati. Namun aku sadar, aku jauh beruntung.
Masih memiliki tempat tinggal. Dan keluarga yang baik. Jauh
lebih sulit orang diluar sana, yang masih lebih menderita.
Entah mengapa suatu saat koko marah besar dengan sikap
papa, yang terkesan membela dan mengutamakan adikadiknya.
Keputusan koko untuk pergi dari rumah, karena
ajakan temannya membuat koko semakin menjauh dari
kehidupan keluarga. Aku tidak begitu paham, apa yang
terjadi sebenarnya. Papa sepertinya lebih memperhatikan
kebutuhan adik-adiknya daripada anaknya sediri. Mungkin
tanggung jawab moral yang dilimpahkan almarhum kakekku
kepada papaku untuk mengurus keluarga inilah yang mejadi
penyebabnya.
KOKO MENJADI PENGUSAHA YANG CUKUP SUKSES
Tahun demi tahunpun berganti, koko menikah dan mulai
merintis usaha yang digelutinya. Kehidupannya mulai mapan
diusianya yang masih cukup muda. Memiliki dua putri
yang cantik, rumah mewah dan harta kekayaan menurutku
sangatlah pantas mereka disebut keluarga ideal.
Namun sayang, koko melupakan kami. Koko terlena dengan
kesuksesannya. Disaat kami membutuhkan koko untuk
menopang keluarga, koko tidak pernah membantu ekonomi
keluarga sedikitpun.
“Ming, bantulah keluarga,” begitulah kata papa memohon
pada koko. Entah apa yang terjadi, aku sulit menerima
kenyataan. Mengapa koko sangat keras hati dan tidak pernah
peduli kepada adik-adiknya juga papa dan mama. Belakangan
baru kuketahui, keuangan koko dikendalikan oleh istrinya
yang berasal dari keluarga broken home dan juga kurang kasih
sayang orang tuanya.
Mungkin ini juga salah satu penyebabnya, mengapa koko
tidak bisa membantu kehidupan kami, dan selalu terdiam bila
diminta bantuan. Rasa kecewa karena sikap papa terhadapnya
dimasa lalu menambah beku hatinya untuk melihat keadaan
kami.
“Ma, mengapa mama dan papa tidak pernah marah atas sikap
koko. Mengapa koko begitu terhadap kita,” tanyaku penuh
heran .
“Cia, kami tidak pernah merasa marah ataupun dendam atas
apa yang dilakukannya, mama dan papa selalu mencintai
kalian. Suatu saat kamu akan mengerti, karena kelak kamu
juga akan mempunyai anak,” begitulah mama menjelaskan
perlahan.
“Mengapa papa juga tidak pernah marah atas sikap koko?”
tanyaku pada papa.
“Cia, berkali kali mama dan papa memberi nasehat, berkali kali
koko mengabaikan . Perasaan yang kami miliki jauh lebih sakit
dari rasa sakit apapun. Kalian kami besarkan dengan penuh
kasih dan sayang, Papa hanya menerima ini sebagai bagian
dari karma, suatu saat kokomu akan sadar, bahwa apa yang
dilakukannya adalah salah,” papa menjawab dengan datar.
Pendidikan mama dan papa tidak lah tinggi, mereka menikah
diusia sangat dini . Namun papa ku suka sekali ke cetya saat
masih muda, dan terkadang memberikan ceramah Dhamma.
Beliau sangat hobi membaca. Membaca buku-buku Dhamma
adalah salah satunya.
Aku sangat terharu memiliki orang tua seperti mereka.
Rasanya aku tidak pernah sanggup membalas budi mereka.
Air matakupun jatuh berlinang. Terima kasih ma, pa kalian
orang tua yang sangat berarti bagi kami.
Papa dan mama adalah pemaaf yang luar biasa. Selalu
membuka pintu maaf, memaafkan kami anak-anak yang
terkadang membuat kecewa hatinya. Kami beruntung sekali
pernah terlahir sebagai anak-anaknya. Papa dan Mama adalah
Matahari dan Bulan yang selalu bersinar dalam kehidupan
kami.
PAPA MENINGGAL KARENA STROKE DAN MAMA
MENINGGAL KANKER RAHIM
Papa cukup sabar dan tabah dalam menghadapi himpitan
ekonomi, dengan susah payah akhirnya papa berhasil
menyekolahkan kami kuliah sampai Sarjana. Papaku meninggal
akibat penyakit stroke yang dideritanya. Dan mamaku
meninggal setahun kemudian setelah kematian papa karena
kanker.
“Ma, mengapa papa meninggal begitu cepat, di saat aku
belum mampu membahagiakan papa,” tanyaku. Mamaku
hanya terdiam. Mama sangat tenggelam dalam kesedihan dan
kemelekatan. Sejak kepergian papa, mama selalu menangis
dan ingin pergi selamanya.
“Pa, bawa mama pergi,” begitu lah mama sering berharap.
Aku selalu merasa tidak pernah dapat membalas budi
kebajikan mereka sampai kapanpun. Bila kerinduanku datang,
airmataku jatuh karena selalu mengingat penyesalanku. Aku
selalu merasa tidak pernah membahagiakan mereka disaat
mereka masih hidup. Mama Papa, aku hanya bisa mendoakan
kalian setiap saat, agar terlahir di alam bahagia.
KOKO TERDIAGNOSA GAGAL GINJAL KRONIS
Begitu ironisnya kehidupan ini. Tidak dapat diduga dan tidak
dapat disangka. Koko yang terlihat segar bugar, dan terlihat
bahagia dengan kehidupannya divonis gagal ginjal. Bagaikan
disambar petir, kami menerima berita ini. Bagaimana mungkin
koko bisa terkena penyakit ini, karena belum lama ini, koko
jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarganya. Aku selalu
membayangkan kelak bisa seperti koko, hidup sukses maju
dan bahagia.
Pagi itu, masih sangat gelap, aku suka bangun pagi . Membuat
kesibukan kesibukan kecil sebelum memulai hari.
“Cia,….” koko ku menyapa secara online di computer.
“Bagaimana ko, sudah ada kemajuan? “tanyaku.
“ Sulit bernafas, engap engap,”ujar koko .
“ Yang sabar ya ko, coba koko tarik nafas perlahan dan buang
perlahan ,” ujarku.
“ Ya, cia.”koko pun berusaha bernafas.
Begitu susah untuk bernafas, dan satu helaan nafas sangat
berarti untuk mereka yang sakit ginjal kronis. Minum dibatasi,
makan dibatasi, terkadang kesulitan untuk bernafas. Maka
selagi nafas masih ada, berbuatlah yang terbaik untuk
kehidupan ini. Seringkali kita lupa menghargai setiap nafas
kehidupan yang masih dimiliki.
Di terakhir hidupnya, koko sangat dekat padaku. Sesekali ia
datang kerumah dan menginap di rumah. Berkeluh kesah
mengenai sikap istri dan anak anaknya. Terkadang ia sering
bermain bersama fefe, anakku.
“Yang sabar ya ko,’ ujarku. Hanya itu yang dapat kulakukan
untuknya. Hanya bisa menghibur hatinya.
38 Seri Kumpulan Cerpen
Walau hatiku terkadang penuh amarah terhadap koko, atas
sikapnya pada mama dan papaku. Namun rasa sayangku
kepadanya mengalahkan kebencianku pada sikapnya. Sebisa
mungkin aku memberikan dukungan semangat hidupnya.
Walaupun sedikit perhatian, koko sangat merasa senang dan
disayang.
ISTRI DAN ANAK-ANAK BERHARAP KEMATIANNYA
Mulanya aku kurang paham, apa yang terjadi pada kehidupan
kakakku. Aku menganggap semua akan baik-baik saja. Karena
setahuku kemampuan ekonomi keluarga koko cukup terjamin.
Koko sudah diikutsertakan dalam salah satu perusahaan
asuransi. Biaya cuci darah pun lumayan dapat terbantu.
Namun hidup memang bagai sinetron, koko diterlantarkan
oleh keluarganya sendiri. Takut jatuh miskin adalah penyebab
utama, hal inilah yang membuat mengapa mereka sangat
menginginkan kepergian koko.
CATATAN HARIAN ALMARHUM
Akhirnya kupahami melalui catatan catatan hariannya koko di
facebook. Ungkapan hati, penyesalan, juga kekecewaannya
dan sampai pada keputusannya untuk meninggalkan kami
semua selamanya.
Penuh air mata kulihat catatan hariannya. Kehidupan
koko, yang bagiku sudah termasuk lumayan ternyata tidak
berakhir bahagia. Penyakit gagal ginjal selama dua tahun ini,
menyiksanya secara lahir dan batin.
Aku terlahir prematur dan sering sakit-sakitan, mama menjaga
dan merawatku dengan baik sejak kecil . Aku sangat menyesali
Selamat Jalan Koko 39
sikapku pada papa dan mama. Hanya karena keegoisan dan
kebodohanku untuk melihat kasih sayang orang tuaku. Aku
membenci sikap papa yang selalu mengutamakan saudara
saudaranya daripada aku putra pertamanya.
Kokoku pernah kecewa, dikecewakan sekali oleh papa.
Merasakan pahitnya kehidupan, saat usaha papa mengalami
kebangkrutan. Aku baru paham sekarang, anak bisa kecewa
dan begitu sakit hatinya pada sikap atau kekeliruan orang tua.
Tapi orang tua berbeda, kasih sayang nya begitu dalam. Tidak
pernah orang tua mengeluhkan kekecewaan yang dirasakan
oleh sikap anak anak.
Kubaca setiap catatan terakhir hidupnya. Dan aku menghela
nafas berkali kali.
Jika kupikirkan kembali, apa yang dirasakan mama dan papaku
jauh lebih sulit. Dengan ekonomi yang tidak berkecukupan.
Papa dan mama tidak bisa mengobati dirinya. Aku mulai
sadar, apa yang kulakukan keliru. Jika saja waktu dapat
terulang , aku ingin memperbaikinya…
Aku menderita sakit ginjal, diusiaku yang keempat puluh.
Mempunyai kekayaan duniawi, namun tidak sanggup
membeli kehidupan. Sejak aku sakit, istriku mulai menghitung
berapa pengeluaranku. Mulai tidak membutuhkan diriku.
Aku bagaikan seekor rajawali yang siap terinjak-injak. Anakanakku
sudah mulai berani berkata tidak pantas padaku. Aku
merasa hidupku sudah tiada arti. Keluargaku mengharapkan
kematianku. Agar tidak menjadi miskin dan hidup susah.
Bahkan biaya pengobatanku dijatah, dan aku harus bekerja
untuk cuci darah.
“Cia, koko tidak ingin pulang kerumah,” tiba tiba saja koko
menjemput ku ke kantor.
“Kenapa ko, itu kan rumah koko,’ujarku.
“Rumahku bagai neraka, tidak ada ketenangan didalamnya,”
begitu kata koko memendam kekecewaan yang dalam.
“Ya sudah, koko menginap saja disini dahulu. Tenangkan hati
ya,” hanya itu yang bisa kuucapkan. Ia begitu bersemangat
bercanda dengan fefe anakku. Kerinduan kasih sayang disaat
terakhir hidupnya, terobati sedikit.
Keputusanku
Aku tidak akan pernah kembali kerumah, biarlah kucari jalan
hidupku sendiri. Biarlah aku hidup dalam kedamaianku.
Jika aku pergi selamanya. Aku akan menitipkan pesan pada
saudaraku agar tidak mengijinkan istri dan anak-anakku
untuk berada disekitar mayatku. Biarlah kucari sendiri jalan
hidupku mulai detik ini.
Keputusasaan yang sangat dalam, sedih sekali aku membaca
catatan hariannya, aku tak kuasa untuk tidak menangis.
Koko, mengapa ini terjadi pada koko. Koko memiliki
kekayaan duniawi, tapi tidak berada dalam kedamaian dalam
kehidupannya. Bekerja dan menghasilkan uang adalah prinsip
hidupnya. “Aku harus menjadi kaya,” begitulah kata koko.
Masih beruntungnya teman temanku yang memiliki penyakit
sama, tapi mereka mendapatkan cinta dan kasih sayang.
Istri dan anak anak teman temanku mendukung mereka
sepenuh hati. Memberikan dorongan semangat untuk hidup,
memberikan perhatian yang begitu dalam.
Berbeda dengan kehidupanku, disaat aku sakit, anak anak
dan istriku mencela dan selalu berharap aku pergi selamanya.
Karena aku tidak produktif lagi menghasilkan uang. Disaat aku
harus melakukan cuci darah, dan dapat menguras tabungan.
Aku diwajibkan bekerja. Mereka khawatir akan jatuh miskin.
Impian putriku agar bisa sekolah di luar negeri, membutakan
mata hati keluargaku sendiri.
Hari minggu, saat aku sedang ke vihara, koko tiba-tiba pergi
dari rumahku. Dan aku hanya ditinggalkan pesan. Terima kasih
Cia atas kebaikanmu, walau selama ini koko jarang dekat
denganmu. Kamu adik yang baik… begitulah tulisan koko
yang terakhir. Air mataku pun mengalir jatuh saat membaca
dan mengingatnya.
Tidak kusangka itulah pesan terakhir koko, sebelum
ajal menjemput. Karena kesibukanku aku tidak sempat
menjenguknya. Aku sempat menelponnya dan menanyakan
keadaannya. Kabar yang kuterima, ia kembali ke rumah dan
keluarganya sudah menerima kembali. Aku hanya berharap
koko mendapatkan kasih sayang dari keluarganya disaat
terakhir hidupnya.
Kondisi kesehatannya semakin parah dan Ia dirawat di rumah
sakit. Ia berusaha tegar dan tabah menjalani kehidupannya.
Di akhir hidupnya ia banyak merenung dan berdoa. Menyesali
setiap perbuatannya, namun tetap berusaha membawa
pikirannya ke arah yang baik.
Catatan terakhir, sebelum ajal menjemputnya.
Jika aku berpikir dengan bijaksana, sejauh ini aku yang
salah. Aku terlalu egois untuk menilai cinta keluargaku. Aku
terkadang emosi terhadap keluargaku. Rasa marah dan
kecewa, atas apa yang kualami menjadikanku buta. Buta dan
lupa untuk memahami arti hidup sebenarnya. Berdoa hanya
disaat kesulitan dan lupa apa itu arti kasih sayang yang
sesungguhnya.
Akhirnya kupahami yang terjadi, tiada yang patut ditangisi
ataupun disesali. Masih banyak yang harus dilakukan saat
nafas masih ada. Akhirnya kusadari arti hidup, bukan hanya
mengejar kesenangan duniawi. Hati yang keras menggapai
mimpi belaka. Takan berguna tanpa tahu arti hidup. Isilah
hidup dengan penuh kebajikan dan dekatkanlah hatimu pada
Ajaran Nya selalu, dimanapun dan kapanpun.
Selamat jalan koko ku tersayang. Damailah dalam tidur
panjangmu.
Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi tidak
bijaksana dan tidak terkendali, sesungguhnya lebih baik
kehidupan sehari dari orang yang bijaksana dan tekun
bersamadhi. Dhammapada 111.



*Petikan
Hidup tidak pernah mudah untuk dijalankan. Kita tidak
pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri dan keluarga
kita. Oleh karena itu selalulah mencoba bersyukur atas
apa yang ada dan berbakti pada keluarga. Agar tidak
meninggalkan rasa penyesalan, sebab penyesalan selalu
datang terlambat.

Senyum Bidadari

Senyum Bidadari



Lani

Gambar terkaitRindu menggebu di hati Dara. Semalam dia bermimpi tentang
Ibunya yang jatuh sakit, suasana hatinya menjadi rusak,
dadanya pun terasa sesak bernafas. Ibunya Dara tinggal di
kampung sedangkan Dara di kota untuk mencari uang dan
bekerja sebagai pelayan rumah makan atau istilah kerennya
waitress. Tiada hari tanpa bekerja, meski hari libur atau
pun tanggal merah. Semua hari baginya sama, dua belas
jam dalam sehari Dara habiskan untuk bekerja. Kadang
dalam hatinya memberontak namun apalah daya orang kecil
hanya bisa bermimpi. Sesuatu yang paling murah dan gratis
hanyalah sebuah mimpi, yang entah kapan bisa terwujud.
Dara mendesah, membelalakan kedua bola matanya ketika
mentari pagi terbit secerah lampu kamar yang lupa dia
matikan. Segera Dara mencari handphonenya dan menelpon
kakaknya untuk menanyakan kabar Ibunya. Badannya panas
dan berkeringat. Beberapa kali tidak bisa terhubung karena
sinyal yang kurang mendukung, setelah lima kali baru bisa
tersambung.
“Halo kak,” kata Dara.
“Ya, ada apa Dara?” jawab kakak Dara.
“Bagaimana keadaan Ibu?” lanjut Dara.
“Ibu lagi gak enak badan tapi udah minum obat, bagaimana
dengan kamu? Kapan pulang?” tanya Kakak Dara penuh
harap.
“Semoga Ibu cepat sembuh ya, aku baik-baik saja disini dan
belum tahu kapan pulangnya,” jawab Dara.
Hatinya menangis. Kapan pulang? Ingin sekali pulang, namun
mimpi bukan hanya sekedar untuk ditunggu lalu terwujud
namun perlu usaha dan harapan.
“Kamu jaga kesehatan disitu ya,” kata kakak Dara.
“Siap kak, aku akan segera pulang. Jaga Ibu ya, salam untuk
Ibu,” balas Dara.
Telepon pun ditutup dengan desahan nafas menahan rindu
pada Ibu dan keluarga di kampung. Waktu menunjukkan
pukul tujuh pagi, segera Dara bergegas mandi dan bersiap
untuk bekerja kembali. Matanya melihat sebungkus mie,
Dara teringat masa lalu ketika satu bungkus mie dijadikan
lauk untuk empat orang oleh Ibunya. Matanya berkaca,
bahwa hidup ini mungkin tidak adil menurutnya. Dara hanya
bermimpi mempunyai uang sebanyak-banyaknya untuk
membuat Ibu dan kakaknya bahagia, supaya orang-orang pun
tahu bahwa mereka juga bagian dari masyarakat yang tak
perlu dikucilkan karena kemiskinan. Maka Dara rela bekerja
tanpa libur bahkan kadang sampai lembur untuk menambah
tabungannya supaya Ibunya bisa menonton televisi, bisa
memasak dengan kompor gas tanpa perlu kayu bakar lagi,
rumahnya bisa terang tanpa mengandalkan cahaya bulan
seperti dikota-kota dan tetangganya yang gemerlapan cahaya
lampu, serta mempunyai rumah yang berdinding batu bata
bukan bilik dari tanaman ilalang yang kapan saja bisa terbakar
jika terkena panas. Sebagian sudah terwujud dan masih
banyak yang belum terwujud, maka Dara masih bermimpi
untuk segera mewujudkannya.
Senyum pun tersungging dibibirnya, Dara yakin jika dia
bekerja dengan giat, semangat, dan menyambut hari dengan
senyuman maka dunia pun akan tersenyum balik padanya
maka mimpi-mimpi pun akan segera terwujud.
“Semangat!!” ujarnya.
Sekarang Dara sudah rapi dan siap berangkat bekerja, untuk
memotongi sayuran, memasak nasi atau melayani pelanggan
rumah makan dengan masakan yang enak. Dara berjalan kaki
dari tempat mess-nya, sepanjang jalan angin menyertainya
seolah mengajaknya bicara memberitahunya bahwa hidup
ini sebenarnya tidak sesulit dan sekejam yang dia bayangkan.
Namun itu hanya terlihat seperti gerakan pantomim yang tak
bisa dimengerti oleh Dara, atau seperti tulisan novel yang
indah namun sang pembaca hanya mengagumi covernya
tanpa tahu isi dan jalan cerita dari judul novel tersebut. Dara
melihat kesekeliling, bahwa pagi ini indah apalagi kalau apa
yang kita inginkan terwujud, maka hidup akan terasa ajaib.
Dara melihat rumput-rumput yang bergoyang bersenandung
menghiburnya. Langkahnya terhenti karena kakinya menginjak
kertas merah yang sepertinya penting dan milik seseorang.
Kertas undian. Dara menoleh kanan kiri namun tidak ada
orang yang mau mengakuinya, maka Dara mengambilnya dan
menyatakan bahwa itu miliknya, wajar bukan!
“Dara!” dari kejauhan seseorang memanggilnya dan sudah
menatapnya dengan bengis. Itu bos-nya, sipemilik warung
makan yang sudah siap dengan kemarahan yang tidak jelas.
Itu sudah biasa, menjadi menu makanan setiap pagi bagi
Dara. Langkah kaki Dara makin dipercepat sebelum amukan
masal dengan percuma dia lewatkan.
“Ya bu bos,” jawab Dara.
“Lelet! Cepetan potong-potong sayuran itu, saya mau
sembahyang dulu.” Suruh bos perempuannya.
Dara hanya mengangguk. Berfikir sejenak bahwa kadangkadang
apa yang dimakan enak oleh orang adalah hasil
jerih payah orang kecil. Dan uang adalah penguasa nomor
satu yang tak terkalahkan sedangkan Tuhan hanya sebagai
alasan manusia menyimpan salah dan berharap berkah. Dara
mendendangkan sebuah lagu dimulutnya sebagai pengobat
hatinya yang sejak tadi pagi tak karuan. Suatu hari nanti, Dara
yakin akan suatu hari nanti segalanya akan tampak indah
sebagaimana adanya dan akan dia tunjukkan pada dunia
tentang mimpinya.
Sepuluh bulan kemudian...
Hati Dara kosong. Dara ingin pulang, tak bisa ditawar lagi.
Akhirnya Dara meminta ijin pulang kampung selama tujuh
hari. Uangnya belum banyak namun kerinduan membuatnya
mengubur sejenak mimpinya, Dara hanya ingin merasakan
belaian tangan Ibunya, tidur disampingnya dan membuatkan
masakan menu spesial.
Kereta melaju membawa sejuta gemuruh didada, sudah satu
tahun Dara tidak pulang kampung. Akan sangat berbeda
rasanya, akan banyak perubahan yang terlihat terutama
suasana desa. Delapan jam perjalanan tidak terasa, Dara
terhibur dengan adanya bencong-bencong yang berdendang,
macam-macam orang yang saling membanggakan diri. Dara
hanya membanggakan satu orang di dunia ini yaitu Ibunya.
Para pedagang tak henti-hentinya mondar-mandir membawa
dagangan serta berbagai macam aroma keringat tak sedap
hanya demi satu kata “UANG.”
Kereta berhenti di stasiun kecil, itulah tanda kalau Dara
harus turun sekarang, lima menit waktu untuk segera turun.
Buru-buru Dara menggendong tas ranselnya serta barang
bawaan yang dibungkus pakai kardus. Inilah tempat asalnya,
tempat dimana dia dilahirkan dan pertama kali harus berani
melangkah maju dengan mimpinya. Mimpi yang sangat
penting bagi orang kecil seperti dirinya. Dara memanggil
tukang ojek, ada ratusan yang siap mengantarnya, bukan
gratis tetapi sudah menjadi pekerjaan mereka sebagai tukang
ojek setiap harinya. Rumahnya jauh dari stasiun, terpencil
masih jauh dari modern namun banyak warganya sudah
terpengaruh oleh tayangan televisi dan pengaruh-pengaruh
dari luar kampung yang kadang hanya membuat perpecahan
dan pertengkaran, misalnya soal kepercayaan dan agama,
tradisi dan cara bersosial.
Wuzz! Angin mengombang–ambingkan rambutnya yang
tanpa helm. Kejutan! Dara akan memberikan kejutan pada
Ibunya. Pohon-pohon masih berdiri kokoh dan hijau, udara
sore hari masih sangat sejuk seperti dipagi hari. Rumah-rumah
di sepanjang jalan sudah berubah, tidak ada lagi yang seperti
gubug tua. Dara tersenyum, dia hanya ingin bertemu Ibunya
tanpa harus peduli dengan sekelilingnya yang membuat
dirinya merasa tidak puas. Sekelilingnya hanya membuat
dirinya tersiksa akan keinginan yang terus harus dipenuhi.
Dari kejauhan sepuluh meter matanya sudah melihat rumah
yang masih berdinding papan kayu dan bambu. Itu rumah
Dara, rumah tempat dia dilahirkan dan menjadi dewasa dalam
kemiskinan.
“Pak, disini saja,” kata Dara kepada tukang ojek.
“Ya neng,” jawab si tukang ojek yang kemudian menurunkan
barang-barang bawaaan Dara.
“Terimakasih pak,” Dara mengulurkan uang ditangannya.
Segera Dara berlari menuju rumah dengan girang. Sepi tidak
ada tanda-tanda kehidupan, yang ada hanya nyala sebuah
lampu minyak dan lilin yang menerangi rumahnya. Dara panik,
dia mencari disetiap sudut namun tak menemukan juga,
siapapun tidak ada. Dara membuka pintu,dilihatnya salah
seorang tetangga sedang melintas dan Dara memanggilnya.
Hasil gambar untuk senyum bidadari kartun nangisJantung Dara serasa mau copot ketika dia diberitahu bahwa
Ibunya masuk rumah sakit sejam yang lalu. Seluruh badannya
melemah, kekuatan dan keceriannya seakan luluh lantah tanpa
jejak. Dara merasa linglung sejenak, Ibu adalah nyawanya,
tawanya juga tangisnya, ketika tidak ada orang yang mengerti
tentang dirinya atau bahkan tidak peduli dengan dirinya Ibu
adalah orang pertama yang akan mengusap rambutnya,
membelainya dan membuatnya selalu tersenyum. Meski Dara
tahu diam-diam Ibunya sering menangis dan kecewa dengan
hidup ini, tapi Ibu selalu tersenyum tegar dan memberikan
kehangatan pada anak-anaknya.
Dari pintu Dara mengintip Ibunya yang sedang terlelap,
perlahan Dara menghampiri dengan langkah kaki sangat
hati-hati. Dara menggenggam tangan Ibunya yang keriput,
memandang wajah Ibunya dengan seksama. Wajah itu kini
telah menua, masa mudanya tercermin di wajah Dara
yang cantik tanpa jerawat. Dulu Ibu sangat cantik, menawan
bagai mawar yang mengundang kumbang-kumbang, bagai
bidadari yang tegar menghadapi kejamnya perubahan.
Senyum manis yang selalu mengembang dan membuat
pesona tersendiri bagi orang-orang yang mencintainya. Ibu...
Dara meneteskan air matanya, dia ingin melihat senyum yang
seperti bidadari itu tersungging dibibirnya kembali. Ketika
Dara menghapus air mata yang tidak sengaja menetes, Dara
melihat Ibunya tersenyum, tangannya menggenggam dengan
kuat.
“Ibu,” panggil Dara.
“Anakku,” jawab Ibunya.
“Aku sayang Ibu,” kata Dara.
Ibunya tidak berkata apa-apa lagi. Senyum terakhir Ibunya itu
membuat pukulan yang amat berat bagi Dara. Dara tidak tahu
harus menyalahkan siapa, nasib hanya menuntunnya bukan
menuntutnya atau menghakiminya. Tangisan Dara pecah,
menggelegar seperti petir. Ini adalah awal kehidupannya yang
baru, tanpa seorang Ibu.
“Aku sayang mama,” kata Irene anaknya Dara yang berusia
tujuh tahun.
“Mama juga sayang kamu nak,” jawab Dara.
Irene menangis dipangkuan Dara ketika Irene mendengarkan
kisah tentang neneknya, yang photonya terpajang didinding
ruang tamu. Wajahnya mirip dengan Dara, sama persis
tiada beda, begitu juga dengan senyuman bidadarinya yang
memiliki lesung pipit dikedua pipinya.
Dara menjadi orang yang berkecukupan ketika dia
memenangkan undian satu milyar yang tanpa sengaja telah
ditemukannya, satu hal yang Dara sadari adalah bukan banyak
uang yang menjadi mimpinya dan kebahagiaannya tetapi
senyum Ibunya yang terpenting dalam hidupnya. Kemiskinan
tidak menjadikan seseorang menjadi hina tetapi kebahagiaan
batin membuat diri seseorang mulia.


*Petikan
Ungkapkanlah rasa sayang kepada orang-orang yang kita
cintai sebelum semuanya terlambat.

Percayakah Anda?

Percayakah Anda?

Hendry Filcozwei Jan



”Jessi... mau apa?” aku berusaha untuk tetap bersabar, meski
kepala ini rasanya mau pecah. Sudah hampir dua jam Jessica
menangis. Aku tidak tau apa yang diinginkannya. Makan
sudah, minum susu sudah, perutnya sudah kuusap dengan
minyak telon kalau-kalau Jessi sakit perut. Diberi mainan
tidak mau, dibacain cerita juga masih menangis. “Jessi, tolong
Mama dong...” aku coba kembali membujuk Jessica putriku
yang berusia 4 tahun dan berharap ia mengerti.
Kepalaku pusing. Kaos yang kupakai sudah basah, mandi
keringat karena stres. Andry suamiku sedang dapat tugas
kantor ke Semarang selama seminggu. Otomatis aku tak bisa
minta bantuannya untuk mengasuh Jessi sebentar, supaya
aku bisa istirahat sejenak. Kami tinggal di kompleks Permata
Kopo, Bandung. Baru 2 tahun kami tinggal di kompleks ini.
Rumah kami lumayan jauh dari gerbang kompleks. “Lebih
tenang dan relatif lebih nyaman,” suamiku memberi alasan
ketika dia memilih rumah ini.
“Permisi.... permisi...” kudengar suara teriakan dari arah luar
yang nyaris hilang ditelan suara hujan deras yang disertai kilat
dan petir. “Siapa pula ini?” pikirku. Nggak tau orang lagi stres,
malah bertamu di waktu yang sama sekali tidak tepat.
Kubuka pintu sambil tetap menggendong Jessi dengan tangan
kiriku. Seorang gadis berdiri di teras rumahku dalam keadaan
nyaris basah kuyub. “Ada apa?” aku bertanya dengan nada
ramah, meski suasana hatiku sedang tidak baik.
“Tidak ada apa-apa Bu. Maaf, saya cuma mau numpang
berteduh. Tiba-tiba hujan deras dan kebetulan saya lihat pintu
pagar rumah ini terbuka. Maaf kalau saya lancang.”
“Oh... tidak apa. Mari masuk.” Hmmm... pasti si pengantar air
galon tadi lupa menutup pintu pagar, batinku.
“Tidak usah Bu, di sini saja.”
“Tidak perlu sungkan, masuk dan duduk di dalam saja”
tawarku.
Singkat cerita, dia masuk setelah sebelumnya mengibaskan
rambut dan tangannya serta mengelap wajahnya dengan sapu
tangan agar tak terlalu banyak tetesan air yang membasahi
lantai rumahku. Sementara itu, tangis Jessi belum juga reda.
“Adik manis, kenapa menangis?”
“Ya nih... gak tau kenapa, dari tadi menangis saja.”
“Sini sama Cici yuk...” dia menyorongkan tangan ingin
menggendong Jessi.
Ajaib, entah mengapa Jessi sepertinya mau. Dia menatap
wajah gadis itu dan tangisnya sedikit berkurang. Kubiarkan
saja saat gadis itu mengambil Jessi dari gendonganku. Tidak
ada reaksi penolakan dari Jessi, itu sedikit membuatku lega.
Sejak pembantu lama berhenti karena pulang kampung dan
menikah, Jessi tidak cocok dengan 3 pembantu baru yang
kami ambil dari yayasan. Akhirnya aku memutuskan tidak
menggunakan jasa pembantu, meski untuk itu aku harus
merelakan karirku di sebuah bank swasta.
Tangis Jessi perlahan berkurang dalam gendongannya.
“Mau Cici ceritain?” Jessi mengangguk meski dari gerakan di
bahu Jessi aku bisa melihat gerakan yang menandakan sisa
tangisnya.
“Sebentar ya, saya ambilkan minum dulu” kataku sambil
melangkah ke dalam. Ada rasa khawatir juga meninggalkan
anak dengan orang yang baru kukenal beberapa menit
lalu. Tapi aku berpegang pada naluriku saja sebagai wanita,
tampaknya ia gadis baik-baik.
“Tidak usah repot-repot Bu. Sudah boleh numpang berteduh
pun saya sudah berterima kasih.”
“Tidak apa” kataku.

Aku lega mendapati mereka berdua masih di ruang tamu
dan Jessi sudah mulai tersenyum dalam gendongan gadis
itu. Terkadang kita merasa aneh, mengapa kita bisa merasa
benci atau merasa tidak suka pada orang yang baru kita kenal.
Atau kita begitu nyaman ngobrol dengan orang yang baru
kita kenal. Agak sulit menjelaskan kejadian seperti itu, sama
halnya dengan Jessica yang langsung bisa nempel pada gadis
itu. Menurut sumber yang pernah saya baca, itu karena ada
kedekatan kita di masa lalu. Karma masa lampau. Mungkin
gadis itu adalah teman atau sahabat atau ibu Jessica di masa
lalu. Siapa tau?
“Ayo diminum teh hangatnya” kuletakkan segelas teh manis
di meja.
“Terima kasih Bu.”
“Siapa namanya?” tanyaku.
“Oh ya, nama saya Metta.”
“Saya Celine.”
“Metta mau ke mana?” tanyaku lagi.
“Baru pulang mengajar les privat Bu” jawabnya sopan.
“Panggil saja Ci Celine saja. Ngajar di mana?”
“Itu di rumah bercat biru yang di ujung sana.”
“Oh... rumah Pak Jaya?”
“Ya...” dia mengangguk. “Kalau cuaca cerah, biasanya saya
jalan kaki ke depan kompleks baru naik angkot. Tapi kalau
hujan, saya naik becak. Tadi mendung, tapi tak terlalu gelap
sih, saya jalan kaki saja. Nggak taunya tiba-tiba hujan deras.”

“Jangan takut dan gentar, tidak akan terjadi apapun pada
dirimu yang bukan bagianmu (karmamu)” begitu kutipan
yang pernah saya baca pada pembatas buku Dhamma yang
saya dapatkan dari Andry. “Janganlah meremehkan kebajikan
walaupun kecil dengan berkata: Perbuatan bajik tidak akan
membawa akibat. Bagaikan sebuah tempayan akan terisi
penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian
pula orang bijaksana sedikit demi sedikit memenuhi dirinya
dengan kebajikan” itu yang pernah Andry ucapkan ketika aku
menangis mempertanyakan kebenaran Dhamma.
Apa arti “Apa yang kita tanam, itu yang kita petik?” Selama ini
saya menanam kebajikan, tapi yang saya terima sebaliknya.
Saya sudah berusaha berjalan di jalan Dhamma. Saya berusaha
jujur, tapi mengapa saya yang difitnah rekan sekantor, padahal
bukan saya yang melakukannya. Saya berbaik hati memberikan
pinjaman uang ketika teman saya butuh. Tapi apa balasannya?
Dia tak mau membayar hutangnya, bahkan selalu menghindar
ketika bertemu. Hilang uang, hilang teman.
“Kita tidak pernah tahu masa lalu kita, meski ada orang-orang
tertentu bisa melihat kehidupan masa lalu. Kita sekarang
sedang membayar hutang karma kita di masa lalu. Setiap
menerima sesuatu yang tidak menyenangkan, berusahalah
untuk ingat bahwa hutangmu sekarang semakin berkurang.
Bukankah itu lebih menenangkan kita? Buddha Dhamma
tidak mengajarkan kita untuk percaya begitu saja, tapi
ehipassiko. Kita lakukan, kita selidiki, dan nanti kita sendiri
akan merasakan bukti kebenaran Dhamma” untuk kesekian
kalinya Andry mengingatkanku.

Kubuka resleting bagian samping tas tangan untuk membayar
makan siangku di sebuah restoran Chinese food. Hari ini
aku ke Jakarta naik mobil travel bersama Jessica. Kami akan
menghadiri pernikahan saudara suami di sebuah hotel
berbintang. Suamiku masih ada tugas kantor di Jakarta
sehingga aku terpaksa ke Jakarta bersama Jessica. Aku minta
Andry menjemputku di sebuah mall, dari sana baru kami pergi
ke resepsi pernikahan.
“Oh... tidak! Dompetku sudah tidak di tas. Ternyata aku
kecopetan. Tas tanganku robek tapi rapi seperti habis disayat
dengan cutter. Aku shock. Kubuka resliting tas bagian tengah,
handphone-ku masih ada di sana. Untung saja (ini agak aneh
ya, sudah kecopetan masih merasa beruntung?)
“Hadirkan cinta, satukan rasa di dada, pancarkan kasih
pada sesama...” suara Iyet Bustami yang membawakan lagu
Hadirkan Cinta karya Joky mengalun dari ponsel-ku. Kuangkat,
kulihat dari nomor tak dikenal, tak ada nama yang muncul.
Kujawab “Halo... dengan siapa ini?”
“Ci Celine, apa kabar? Saya Metta. Masih ingat?”
“Oh... Metta. Kabar baik” jawabku, sopan santun khas orang
Timur meski aku sedang dalam masalah. Aku tak punya uang
untuk membayar tagihan makan siangku.
“Cici ada di mana? Maaf saya lupa kasih tau nomor lama saya
sudah gak aktif, sekarang ganti nomor ini ”
“Oh nggak apa. Cici ada di Jakarta, sekarang di Mall of
Indonesia.”
“Hah...? Gak salah denger nih? Bener sedang di Moi?”
“Ya. Emang kenapa?”
“Metta juga sedang di Moi. Karma baik nih. Kok bisa sama ya?
Lama gak telpon, sekali Metta telpon, eh...kita di tempat yang
sama. Cici di mana? Metta ke sana sekarang. Jessica ikut ‘kan?
Sudah kangen nih...”
“Ada di sini” saya menyebut nama restorannya. “Jessica juga
ada di sini, dia juga kangen sama Cici Metta”
Seperti kisah dalam sinetron saja ya? Sedang kesulitan, pas
sekali ada yang datang menolong. Itulah yang aku alami. Aku
tertolong oleh karma baikku?

“Hadirkan cinta, satukan rasa di dada, pancarkan kasih pada
sesama...” suara Iyet Bustami membuyarkan lamunanku. Aku
menoleh ke ponsel-ku yang tergeletak di atas meja. “Papa
Andry Sayang memanggil” itu tulisan di layar ponsel-ku.
“Ya, Papa sekarang ada di mana?”
“Sebentar lagi sampai ke rumah.”
“Kok lama baru diangkat?”
“Tadi lagi di toilet” aku berbohong (eh... kok bohong sih?).
“Sudah siap ‘kan?”
“Siap... Bos” aku bercanda.
“Maaf ya Ma, agak terlambat sedikit karena jalan Kopo Sayati
macet. Ada tabrakan antara motor dan mobil.”
Hari ini kami akan pergi makan malam merayakan 8 tahun
Percayakah Anda ? 21
pernikahan kami. Jessica, buah hati kami, sedang asyik
menonton televisi dan sudah siap dengan baju cantik
favoritnya.
Suara panggilan telpon dari suamiku tadi “membangunkan”
aku dari lamunan panjang. Lamunan kisah perkenalanku
dengan Metta. Selintas beberapa masalahku, rewelnya
Jessica, difitnah teman sekerja, kehilangan teman dan uang,
kecopetan, serta ditolong Metta pada keadaan tak terduga.
Yang terpenting dari semua itu, saya kagum atas ajaran Buddha
yang memberi keleluasaan untuk ehipassiko, membuktikan
sendiri kebenaran Dhamma. Tidak hanya percaya saja.
Saya sudah membuktikan kebenaran hukum karma, “Apa
yang engkau tanam, itu pula-lah yang akan engkau petik.”
Percayakah Anda?

Asal Usul Pohon Salak

Asal Usul Pohon Salak
Willy Yanto Wijaya



Lekak lekuk daratan Jawa yang subur dan bergunung-gunung menyamai beragam bentuk dan benih kehidupan. Kerajaan-kerajaan angung pernah timbul dan tenggelam, sebagian mewariskan jejak-jejak sejarah yang bertahan. Hingga saat ini, sebagian besar lagi telah terkubur nan dalam oleh debu waktu.

Hasil gambar untuk kartun salakUdara sejuk khas pegunungan membelai lembut kehidupan para penduduk desa di sebuah lereng gunung. Halimun pagi dan air dingin yang mengalir keluar langsung dari mata air adalah cicipan langka yang jarang bisa dirasakan oleh penduduk perkotaan. Kehidupan yang bersahaja namun tidak berkekurangan juga adalah kebajikan yang selalu disyukuri oleh penduduk desa.

Mentari pagi perlahan mulai menghangati udara dingin. Aktivitas di perkebunan salak pun menggeliat, maklum musim panen sudah menjelang. Di sepanjang sisi jalan lereng yang sempit itu memang merupakan kebun salak yang lumayan luas.
Seorang kakek tua tampak sedang membersihkan rumput di sela-sela pohon salak. Kakek itu tampak berhati-hati dan cukup cekatan menghindari duri-duri menganga di pelepah daun salak. Mencabuti rumput, membuang tangkai daun yang layu, menggemburkan tanah adalah hal-hal yang selalu dinikmati kakek di kebun salak.
Dan ada satu hal lagi yang sangat disukai kakek yaitu mengamati perilaku serangga dan hewan kecil lainnya di pohon salak, selalu ada hal baru yang bisa dipelajari, ujar kakek suatu kali.
“Ayo, cepat tangkap! Jangan biarkan kabur!” terdengar teriakan beberapa bocah dari kejauhan. “Awas! Jangan kegigit” sahut bocah lainnya. Kakek yang penasaran segera pergi menghampiri. Ternyata bocah-bocah tersebut sedang mengejar dan mencoba menangkap seekor ular kecil. Ular yang berusaha kabur tersebut dihalang-halangi oleh ayunan ranting. Kakek tua menyadari apa yang dilakukan para bocah, lalu berseru, “Hentikan, anak-anak. Biarkan ular itu pergi.” Seakan enggan melepaskan mainan baru mereka, para bocah pun akhirnya membiarkan ular kecil tersebut kabur. Salah satu bocah lalu menyelutuk, “Tapi kek, kan ular itu bisa bahaya nanti kalau uda gede.” “Iya kek, kalo si ular uda gede ntar kamu bisa dimakan loh,” sambung bocah satunya lagi sambil menunjuk si bocah pertama, diikuti oleh tawa bocah-bocah lainnya. 

Kakek pun ikut terkekeh lalu berkata, “Kita butuh ular untuk mengendalikan jumlah tikus. Kalau jumlah tikus kebanyakan, habis deh buah salak kita.” “Oooh iya, tapi ular apa ndak bakal makan buah salak kita juga tho?” tanya seorang bocah dengan lugu. “Ular mah ndak doyan makan salak, geblek!” Tawa pun pecah diantara bocah-bocah dan kakek. Kakek pun melanjutkan, “Iya, kita butuh ular untuk menjaga keseimbangan kebun salak kita.” “Oh ya kek, koq kulit salak mirip sama kulit ular ya?” tanya seorang bocah dengan rasa ingin tahu. “Iya kek, saya dulu juga pernah salah sangka kulit salak itu sisa kulit ular yang habis ganti kulit lho.” Kakek tertawa, lalu dengan suara rendah seakan berbisik berkata, “Nah, ada satu cerita rahasia yang belum pernah diketahui orang, cuma kakek yang tahu, cerita tentang kenapa kulit salak mirip kulit ular, mau dengar?” “Mau, mau, mau,” sahut para bocah tidak sabaran. “Eits, tapi sebenarnya ini cerita rahasiaa..” kakek sedikit jual mahal. “Yaahh, kakek..” tampak raut kecewa menghias wajah bocah-bocah. “Baiklah, kalau kalian janji akan menghargai setiap bentuk kehidupan, merawat alam dan kebun salak kita, dan rajin belajar, kakek akan cerita. Gimana? Setuju?” “Setujuuuu...” sahut mereka serempak.

Dahulu kala, di sebuah kaki gunung, hiduplah sekelompok
bangsa ular. Ada seekor anak ular yang suka mengikuti
ibunya kemanapun ibunya pergi. Ketika ibu ular pergi
mencari mangsa, anak ular akan mengikuti dari belakang dan
menemani ibu ular. Suatu hari, ibu ular melakukan perjalanan
jauh yang cukup melelahkan, anak ular pun mengikuti dari
belakang. Ibu ular sebenarnya agak cemas karena mereka
akan menjelajahi bentang teritori asing yang belum begitu
familiar. Tiba di sebuah padang ilalang, kekhawatiran ibu ular
pun terbukti. Di ketinggian angkasa, tampak seekor rajawali
mengepak-kepakkan sayapnya, dan terbang berkitar-kitar. Ibu
ular yang menangkap gelagat tidak baik ini, segera mengajak
Seri Kumpulan Cerpen
anaknya menuju hutan rimbun menyeberangi sungai di
tepian padang. Akan tetapi, bahkan sebelum mereka sempat
merayap belasan meter, cakar tajam rajawali sudah melesat
menyambar. Ibu ular berusaha melindungi anaknya, mendesis
marah dan siap menggigit rajawali untuk menyuntikkan
bisanya yang mematikan. Akan tetapi, kibasan sayap rajawali
membingungkan ibu ular, dan dalam sekejap saja anak ular
sudah berada dalam cengkeraman cakar rajawali yang tajam.
Rajawali terbang melesat ke angkasa, tampak darah segar
mengalir di sela cakarnya, darah akibat luka di tubuh anak
ular. Ibu ular terhenyak dan berusaha mengejar rajawali,
namun rajawali tidaklah mungkin terkejar.
Sambil mencengkram anak ular, rajawali terbang melesat
di ketinggian angkasa, bersiap menyantap hasil buruannya.
Di ketinggian ranting pohon, seekor rajawali lainnya sedang
kelaparan, melihat rajawali yang membawa anak ular,
bermaksud ingin merebutnya. Rajawali kelaparan tersebut
pun menyambar dan terjadilah duel di ketinggian angkasa.
Tidak dinyana, anak ular terlepas dari cengkraman rajawali
dan terjatuh diantara semak belukar di dekat perumahan
penduduk desa.
Seorang bocah desa, sebut saja namanya Ponijan, mendengar
krasak krusuk, lalu keluar dari rumah dan menemukan
seekor anak ular yang sekarat bersimbah darah. Ponijan
mendekat, dan melihat ternyata ular kecil tersebut masih
hidup. Merasa iba, Ponijan pun membawa masuk ular kecil
tersebut, membersihkan luka-lukanya, memberi makan dan
merawatnya. Hanya dalam beberapa hari, ular kecil pun
sembuh dan menjadi jinak ke Ponijan.
Asal Usul Pohon Salak
Setelah memastikan kondisi ular kecil, Ponijan pun
melepaskannya kembali ke alam bebas. “Ular kecil, keluargamu
pasti cemas dan sedang menunggumu, kembalilah.” Ular kecil
merasa sangat berhutang budi pada Ponijan dan berharap
dapat membalas kebaikannya suatu hari.
Di suatu liang yang lembab, tampak seekor ular betina yang
sedang bermuram. Ular ini tampak sayu dan kelelahan, dan
seakan kehilangan gairah hidup. Sudah beberapa hari ular ini
terus mencari anaknya yang hilang, berharap anaknya masih
hidup, meskipun rasanya hampir mustahil. “Ibu.. Ibu..” Seakan
mendengar alunan suara surgawi, ibu ular terperanjat bahagia
melihat anaknya kembali. Ya, ular kecil akhirnya berhasil
kembali ke sarangnya setelah menjelajah kesana kemari dan
berkali-kali tersesat. Ular kecil kemudian menceritakan kepada
ibunya bagaimana ia terlepas dari cengkraman rajawali dan
diselamatkan oleh seorang bocah desa.
Hari demi hari berlalu dengan tentram dan damai, sampai
terjadilah peristiwa yang kelak menjadi musibah besar.
Sekelompok bocah desa yang nakal menemukan sebuah
sarang ular di dekat akar-akar pohon tua. “Lihat! Ada ular yang
masuk ke lubang sana!” “Wah! Kayanya tuh lubang sarang
ular.” “Ayo, siapkan perangkap besar, mungkin ada banyak
ular disana. Juga ayo kita siapkan pelapis kaki dan ranting
panjang.” Setelah mempersiapkan beberapa peralatan,
bocah-bocah nakal itupun menyulut api dan memasukkan
ke dalam liang ular. Tidak berapa lama, kontan saja, ular-ular
berhamburan keluar, dan sebagian besar masuk ke perangkap
karung goni yang telah disiapkan. Beberapa ekor ular berhasil
Seri Kumpulan Cerpen
menghindar dari perangkap dan kabur. “Wah, paling tidak ada
belasan ekor yang berhasil kita tangkap. Panen kulit ular deh
kita.” “Tunggu, coba kita gali lubang bawah tanah ini juga.”
Mereka menemukan puluhan butir telur ular, yang sebagian
mereka pakai untuk timpuk-timpukan, sisanya mereka bawa
pulang.
Hasil gambar untuk ular kartun lariBeberapa ekor ular yang berhasil kabur kemudian pergi
menemui Raja Ular, dan menceritakan apa yang telah terjadi.
Mendengar apa yang telah terjadi, Raja Ular murka besar
dan meminta agar semua ular berkumpul. “Hingga detik ini,
tidak pernah sekalipun kita mengusik kehidupan manusia.
Akan tetapi, bocah-bocah manusia keparat itu membunuh
rekan-rekan kita, menghancurkan sarang kita, mencuri dan
menghancurkan telur-telur kita. Saatnya kita membalas
tindakan biadab mereka!” Raja Ular lalu mengarah ke beberapa
ekor ular yang berhasil kabur tersebut, “Kalian masih ingat
bocah-bocah yang mana saja yang menghancurkan sarang
kita?” “Ampun Baginda, kami berusaha kabur secepatnya
dan tidak bisa mengingat..” “Baiklah, malam ini kita akan
mengerahkan pasukan elit ular-ular terpilih untuk mematuk
semua bocah manusia yang ada di desa!!” “Ampun Baginda,
mohon kebijaksanaannya, tidak semua bocah manusia
bersalah dan terlibat,” terdengar sahutan yang ternyata
berasal dari ular kecil yang pernah diselamatkan oleh Ponijan.
Semua ular lainnya menatap sinis ke ular kecil dan sebagian
berseru, “Pengkhianat bangsa ular! Enyahlah dari sini!” Ibu
ular mencoba membela anaknya, “Ampun Baginda, mohon
Baginda pertimbangkan lagi, mungkin saja keputusan
tersebut bisa mendatangkan petaka bagi kaum ular.. kelak.”
“Kurang ajar!! Berani membangkang dan bahkan membela
Asal Usul Pohon Salak
musuh! Enyah dari sini !” hardik Raja Ular. “Enyah!” “Pergi”
“Dasar pengkhianat” terdengar seru-seruan dari massa ular.
“Pengawal, usir kedua ular pengkhianat dari negeri ini!” Ketika
malam menjelang, pasukan khusus ular pun mulai merayap ke
perumahan penduduk untuk membunuh bocah-bocah desa
ketika mereka terlelap..

“Iihhh, takuutttt..” sahut seorang bocah kepada kakek yang
sedang bercerita. “Terus gimana kelanjutan ceritanya kek?”
sambung bocah satunya lagi penasaran. “Kelanjutannya
ya? Gimana ya? Kakek juga sudah lupa..” “Yaahh.. kakek,
nanti malam kami ga bisa tidur deh..” “Iya kek, terus apa
hubungannya sama kulit salak yang mirip kulit ular?” “Iya, iya,
nanti kakek sambung lagi.. yuk kita makan siang dulu.”

Pasukan elit ular adalah pasukan terlatih, memiliki kecepatan
merayap yang sangat tinggi, kemampuan duel yang tangguh,
dan juga bisa racun yang paling mematikan. Untuk tiap rumah
penduduk desa telah ditugaskan satu ular elit, dan mereka
akan beraksi serempak di waktu yang berbarengan. Hit and
run, begitulah istilah militer modern untuk operasi yang akan
dilakukan oleh pasukan elit ular ini. Mereka hanya menyasar
bocah-bocah desa, untuk membalaskan dendam kematian
belasan rakyat ular sebelumnya.
Seekor ular elit merayap melalui pagar pekarangan rumah,
yang ternyata adalah rumah kediaman Ponijan! Ketika
hendak memasuki rumah, tiba-tiba ular elit ini dicegat oleh
dua ekor ular, yang ternyata adalah ibu ular dan anaknya!
Seri Kumpulan Cerpen
“Mohon enyahlah dari hadapanku,” seru ular elit dengan
nada dingin. “Tidak! Saya tidak akan membiarkan siapapun
melukai penyelamat nyawa anak saya!” “Enyah!” “Tidak!” Ibu
dan anak ular pun bergumul sengit dengan ular elit. Darah
mengalir deras dari luka-luka di tubuh ibu ular. “Enyah!”
“Tidak!” Pergumulan panjang pun terus berlanjut, ibu ular
hampir sekarat, anak ular pun terluka parah.
Tiba-tiba terasa sinyal getaran yang hanya bisa dipahami
oleh bangsa ular. Sinyal instruksi yang memerintahkan semua
pasukan elit ular agar kembali ke markas komando. Limit waktu
habis. Pasukan elit ular diasumsikan telah menyelesaikan misi,
dan harus segera kembali ke markas komando. Dengan marah,
ular elit pun terpaksa meninggalkan misinya membunuh
Ponijan, dan menghardik ke ibu dan anak ular, “Pengkhianat
keparat, mati saja sana!”
Ibu ular walaupun terluka parah dan sekarat, berkata ke
anaknya “Misi kita selesai.. ayo kita segera pergi sejauhjauhnya..
ibu punya firasat yang tidak baik..akan terjadi
bencana besar..”
Subuh belum menjelang pagi, seluruh desa mengalami gempar.
Bocah-bocah desa mati keracunan dipatuk ular. Kentongan
bergema-gema, ratap tangis terdengar di berbagai penjuru
sudut desa, para warga segera berkumpul bersama. Kepala
desa, sambil menahan isak tangis karena kedua anaknya juga
ikut menjadi korban, mengumpulkan seluruh warga, dan
setelah mendapatkan kepastian diagnosis dari tabib desa
bahwa kematian disinyalir akibat bisa racun, lalu menjelaskan
kepada para penduduk desa. “Bunuh semua ular yang ada!!”



“Bunuh semua ular keparat itu!” teriak para penduduk desa.
Dalam waktu yang singkat, semua pawang ular yang ada di
desa telah dikumpulkan. Para warga menyiapkan peralatan
pembasmi ular: perangkap ular, racun ular, garam, alat
pelindung badan, ranting-ranting panjang dan senjata tajam,
penyulut api, dan sebagainya. Perang besar pun berkobar.
Dipimpin oleh pawang-pawang ular, warga pun mencari
seluruh sarang ular yang ada. Setiap sarang yang ditemukan,
dihancurkan, di-luluhlantak-kan dan dibasmi habis. Hingga
tibalah warga di dekat sarang Raja Ular dan pasukan-pasukan
elitnya.
Pawang ular memperingatkan kalau itu adalah sarang
Raja Ular dan sangat berbahaya, dan meminta agar para
warga desa sangat berhati-hati. Setelah diusik oleh asap
dan api, garam dan racun ular, Raja Ular menjadi sangat
murka dan memerintahkan seluruh pasukan elitnya untuk
menyerang dan membunuh warga desa! Pasukan elit ular pun
bermunculan dari puluhan liang yang ada di sekitaran, dan
menyerang penduduk desa. Walaupun sebagian besar warga
telah mengenakan pelindung kaki dan tangan, beberapa
ular elit yang sangat gesit berhasil mematuk leher ataupun
perut beberapa warga. Akan tetapi warga yang sudah sangat
beringas dan dipersenjatai senjata tajam, akhirnya berhasil
memusnahkan seluruh pasukan elit ular. Sarang Raja Ular
pun dihancurkan, dan “ceerrrpppp!!”, Raja Ular pun tewas
tertancap senjata warga.
Beberapa bulan setelah hari naas dan berdarah itu,hasil
panen warga banyak yang rusak akibat populasi tikus yang
10 Seri Kumpulan Cerpen
meledak. Para pawang tikus pun dikerahkan untuk menjaring
dan membasmi tikus-tikus, akan tetapi ledakan populasi tikus
yang begitu dashyat sulit dibendung. Mati satu, lahir seratus.
Hasil panen pun mengalami kemerosotan.
Bencana demi bencana seakan tiada akhir. Tidak lama
berselang, terjadi kejanggalan di desa. Semua tikus-tikus
seakan panik dan kabur meninggalkan desa. Bukan cuma tikus,
burung-burung, serangga dan bahkan beberapa mamalia pun
ikut meninggalkan desa di bawah kaki gunung itu.
Ternyata tidak lama kemudian, terdengar gemuruh dari
kejauhan. Gunung nan indah yang selama ini sangat dikagumi
para penduduk desa, mulai bergetar dan memuncratkan abu
vulkanik. Beberapa penduduk yang sedang berburu di lereng
gunung dikabarkan tewas menghirup gas beracun yang
disemburkan gunung. Hujan abu pun mematikan hampir
semua tanaman dan hasil panen yang ada di desa.
“Mengapa bencana seperti ini harus menimpa kita??” ratap
beberapa penduduk desa yang berhasil mengungsi. Bencana
sesungguhnya terjadi beberapa hari kemudian, ketika sisa-sisa
makanan yang dibawa telah habis, semua tanaman di desa
juga mati tertimbun abu, dan di luar desa hanyalah hamparan
padang ilalang nan luas. Penduduk desa pun mulai kelaparan
dan sekarat.

Ibu dan anak ular yang mendengar musibah yang menimpa
bangsa ular dan juga penduduk desa pun segera kembali ke
desa untuk melihat keadaan. Kelam dan kelabu. Tanaman mati
Asal Usul Pohon Salak 11
dan abu gunung. Kesedihan yang mendalam pun dirasakan
oleh anak ular yang baik hati itu. Kebencian yang dibalas
dengan kebencian, pada akhirnya semua juga terkubur dan
berakhir oleh perubahan dan waktu. Seandainya saja ada yang
dapat ia lakukan untuk menolong penduduk yang kelaparan
tersebut..
Spirit gunung yang mendengar tekad mulia sang anak ular
pun bergemuruh, “Apakah Engkau bersungguh-sungguh
rela mengorbankan dirimu untuk menolong penduduk yang
kelaparan itu?” “Ya,” gumam anak ular mantap.
Tubuh anak ular pun mengalami perubahan aneh, ototototnya
menggumpal dan bermutasi, dan akhirnya menjadi
buah putih, dan hatinya yang teguh menjadi biji hitam yang
keras, dan kulitnya tersisa membungkus buah putih tersebut.
“Oooh, anakku.. apa yang terjadi padamu?” lirih ibu ular
sedih, “Spirit gunung, apapun yang terjadi, biarkanlah aku
selalu menemani anakku!” “Kasih sayang seorang ibu memang
tiada terkira..” Spirit Gunung menghela panjang, “Dikabulkan
sesuai kehendak..” Ibu ular pun mengalami perubahan aneh.
Kulitnya terkelupas, tubuhnya menghijau, dan terbelah-belah,
kemudian muncullah duri-duri, duri-duri yang akan selalu
melindungi anak yang ia kasihi.
“Biarlah abu gunung akan menjadi sari-sari yang menyuplai
pertumbuhan dan tekad kebajikan kalian..”
Para penduduk yang menemukan pohon berduri berbuah
terlapis kulit yang mirip kulit ular pun gembira ternyata buah
itu bisa dimakan. Mereka pun akhirnya membudidayakan
buah tersebut dan menamakannya salak.



Tentu saja para penduduk tidak tahu bahwa buah itu adalah
hasil mutasi anak ular dan ibunya. Namun, bagi anak ular, hal
itu tidaklah penting. Toh, kebajikan yang tulus adalah tanpa
pamrih dan tidak mengharapkan balasan apapun. Dan bagi
ibu ular sendiri, bisa berada dan terus melindungi anaknya,
sudah merupakan kebahagiaan yang mendalam dan sukar
dijelaskan dengan kata-kata.

“Wah apa di zaman sekarang masih ada ular yang sebaik itu
kek?” tanya si bocah polos setelah kakek menutup ceritanya.
“Oh ya kek, gimana nasib si Ponijan kek?” tanya bocah yang
satunya lagi.
“Ha..ha..ha..” kakek hanya tertawa, kemudian mengelupas
kulit salak dan memberikan buahnya ke bocah-bocah polos
itu. “Kelak, kalianlah yang akan melanjutkan kisah ini.”
“Awas, jangan sampai tertelan biji salaknya,” tambah kakek.
Matahari senja menghias cakrawala di lereng gunung yang
indah itu, seakan tidak sabar menanti musim panen yang
akan menjelang.









 *KESIMPULAN

Balas budi dan pengorbanan adalah wujud mulia dari nilainilai
kebajikan dan welas asih yang sesuai dengan Dhamma.
Dengan nilai-nilai kebajikan dan welas asih inilah, maka
rantai-rantai kebencian pun akan berakhir.
Dari kisah ini, kita juga dapat memetik pelajaran mengenai
pentingnya menjaga keseimbangan alam, menghargai
makhluk lain, dan bahwa segala yang berkondisi adalah
tidak tetap dan terus mengalami perubahan.
Tentunya poin terakhir yang bisa dipetik dari cerita ini
adalah mengenai kasih sayang seorang ibu yang tulus
kepada anaknya, kasih sayang yang tidak pernah akan
habis diceritakan sekalipun melalui ribuan tutur kata dan
kisah-kisah.


selamat menikmati


 

Legenda Danau Toba

Asal : S u m a t e r a U t a r a P a da j a m a n dahulu, h id u plah seorang p e m u d a t a n i y a tim p ia t u ...