Jumat, 21 Juli 2017

Asal Usul Pohon Salak

Asal Usul Pohon Salak
Willy Yanto Wijaya



Lekak lekuk daratan Jawa yang subur dan bergunung-gunung menyamai beragam bentuk dan benih kehidupan. Kerajaan-kerajaan angung pernah timbul dan tenggelam, sebagian mewariskan jejak-jejak sejarah yang bertahan. Hingga saat ini, sebagian besar lagi telah terkubur nan dalam oleh debu waktu.

Hasil gambar untuk kartun salakUdara sejuk khas pegunungan membelai lembut kehidupan para penduduk desa di sebuah lereng gunung. Halimun pagi dan air dingin yang mengalir keluar langsung dari mata air adalah cicipan langka yang jarang bisa dirasakan oleh penduduk perkotaan. Kehidupan yang bersahaja namun tidak berkekurangan juga adalah kebajikan yang selalu disyukuri oleh penduduk desa.

Mentari pagi perlahan mulai menghangati udara dingin. Aktivitas di perkebunan salak pun menggeliat, maklum musim panen sudah menjelang. Di sepanjang sisi jalan lereng yang sempit itu memang merupakan kebun salak yang lumayan luas.
Seorang kakek tua tampak sedang membersihkan rumput di sela-sela pohon salak. Kakek itu tampak berhati-hati dan cukup cekatan menghindari duri-duri menganga di pelepah daun salak. Mencabuti rumput, membuang tangkai daun yang layu, menggemburkan tanah adalah hal-hal yang selalu dinikmati kakek di kebun salak.
Dan ada satu hal lagi yang sangat disukai kakek yaitu mengamati perilaku serangga dan hewan kecil lainnya di pohon salak, selalu ada hal baru yang bisa dipelajari, ujar kakek suatu kali.
“Ayo, cepat tangkap! Jangan biarkan kabur!” terdengar teriakan beberapa bocah dari kejauhan. “Awas! Jangan kegigit” sahut bocah lainnya. Kakek yang penasaran segera pergi menghampiri. Ternyata bocah-bocah tersebut sedang mengejar dan mencoba menangkap seekor ular kecil. Ular yang berusaha kabur tersebut dihalang-halangi oleh ayunan ranting. Kakek tua menyadari apa yang dilakukan para bocah, lalu berseru, “Hentikan, anak-anak. Biarkan ular itu pergi.” Seakan enggan melepaskan mainan baru mereka, para bocah pun akhirnya membiarkan ular kecil tersebut kabur. Salah satu bocah lalu menyelutuk, “Tapi kek, kan ular itu bisa bahaya nanti kalau uda gede.” “Iya kek, kalo si ular uda gede ntar kamu bisa dimakan loh,” sambung bocah satunya lagi sambil menunjuk si bocah pertama, diikuti oleh tawa bocah-bocah lainnya. 

Kakek pun ikut terkekeh lalu berkata, “Kita butuh ular untuk mengendalikan jumlah tikus. Kalau jumlah tikus kebanyakan, habis deh buah salak kita.” “Oooh iya, tapi ular apa ndak bakal makan buah salak kita juga tho?” tanya seorang bocah dengan lugu. “Ular mah ndak doyan makan salak, geblek!” Tawa pun pecah diantara bocah-bocah dan kakek. Kakek pun melanjutkan, “Iya, kita butuh ular untuk menjaga keseimbangan kebun salak kita.” “Oh ya kek, koq kulit salak mirip sama kulit ular ya?” tanya seorang bocah dengan rasa ingin tahu. “Iya kek, saya dulu juga pernah salah sangka kulit salak itu sisa kulit ular yang habis ganti kulit lho.” Kakek tertawa, lalu dengan suara rendah seakan berbisik berkata, “Nah, ada satu cerita rahasia yang belum pernah diketahui orang, cuma kakek yang tahu, cerita tentang kenapa kulit salak mirip kulit ular, mau dengar?” “Mau, mau, mau,” sahut para bocah tidak sabaran. “Eits, tapi sebenarnya ini cerita rahasiaa..” kakek sedikit jual mahal. “Yaahh, kakek..” tampak raut kecewa menghias wajah bocah-bocah. “Baiklah, kalau kalian janji akan menghargai setiap bentuk kehidupan, merawat alam dan kebun salak kita, dan rajin belajar, kakek akan cerita. Gimana? Setuju?” “Setujuuuu...” sahut mereka serempak.

Dahulu kala, di sebuah kaki gunung, hiduplah sekelompok
bangsa ular. Ada seekor anak ular yang suka mengikuti
ibunya kemanapun ibunya pergi. Ketika ibu ular pergi
mencari mangsa, anak ular akan mengikuti dari belakang dan
menemani ibu ular. Suatu hari, ibu ular melakukan perjalanan
jauh yang cukup melelahkan, anak ular pun mengikuti dari
belakang. Ibu ular sebenarnya agak cemas karena mereka
akan menjelajahi bentang teritori asing yang belum begitu
familiar. Tiba di sebuah padang ilalang, kekhawatiran ibu ular
pun terbukti. Di ketinggian angkasa, tampak seekor rajawali
mengepak-kepakkan sayapnya, dan terbang berkitar-kitar. Ibu
ular yang menangkap gelagat tidak baik ini, segera mengajak
Seri Kumpulan Cerpen
anaknya menuju hutan rimbun menyeberangi sungai di
tepian padang. Akan tetapi, bahkan sebelum mereka sempat
merayap belasan meter, cakar tajam rajawali sudah melesat
menyambar. Ibu ular berusaha melindungi anaknya, mendesis
marah dan siap menggigit rajawali untuk menyuntikkan
bisanya yang mematikan. Akan tetapi, kibasan sayap rajawali
membingungkan ibu ular, dan dalam sekejap saja anak ular
sudah berada dalam cengkeraman cakar rajawali yang tajam.
Rajawali terbang melesat ke angkasa, tampak darah segar
mengalir di sela cakarnya, darah akibat luka di tubuh anak
ular. Ibu ular terhenyak dan berusaha mengejar rajawali,
namun rajawali tidaklah mungkin terkejar.
Sambil mencengkram anak ular, rajawali terbang melesat
di ketinggian angkasa, bersiap menyantap hasil buruannya.
Di ketinggian ranting pohon, seekor rajawali lainnya sedang
kelaparan, melihat rajawali yang membawa anak ular,
bermaksud ingin merebutnya. Rajawali kelaparan tersebut
pun menyambar dan terjadilah duel di ketinggian angkasa.
Tidak dinyana, anak ular terlepas dari cengkraman rajawali
dan terjatuh diantara semak belukar di dekat perumahan
penduduk desa.
Seorang bocah desa, sebut saja namanya Ponijan, mendengar
krasak krusuk, lalu keluar dari rumah dan menemukan
seekor anak ular yang sekarat bersimbah darah. Ponijan
mendekat, dan melihat ternyata ular kecil tersebut masih
hidup. Merasa iba, Ponijan pun membawa masuk ular kecil
tersebut, membersihkan luka-lukanya, memberi makan dan
merawatnya. Hanya dalam beberapa hari, ular kecil pun
sembuh dan menjadi jinak ke Ponijan.
Asal Usul Pohon Salak
Setelah memastikan kondisi ular kecil, Ponijan pun
melepaskannya kembali ke alam bebas. “Ular kecil, keluargamu
pasti cemas dan sedang menunggumu, kembalilah.” Ular kecil
merasa sangat berhutang budi pada Ponijan dan berharap
dapat membalas kebaikannya suatu hari.
Di suatu liang yang lembab, tampak seekor ular betina yang
sedang bermuram. Ular ini tampak sayu dan kelelahan, dan
seakan kehilangan gairah hidup. Sudah beberapa hari ular ini
terus mencari anaknya yang hilang, berharap anaknya masih
hidup, meskipun rasanya hampir mustahil. “Ibu.. Ibu..” Seakan
mendengar alunan suara surgawi, ibu ular terperanjat bahagia
melihat anaknya kembali. Ya, ular kecil akhirnya berhasil
kembali ke sarangnya setelah menjelajah kesana kemari dan
berkali-kali tersesat. Ular kecil kemudian menceritakan kepada
ibunya bagaimana ia terlepas dari cengkraman rajawali dan
diselamatkan oleh seorang bocah desa.
Hari demi hari berlalu dengan tentram dan damai, sampai
terjadilah peristiwa yang kelak menjadi musibah besar.
Sekelompok bocah desa yang nakal menemukan sebuah
sarang ular di dekat akar-akar pohon tua. “Lihat! Ada ular yang
masuk ke lubang sana!” “Wah! Kayanya tuh lubang sarang
ular.” “Ayo, siapkan perangkap besar, mungkin ada banyak
ular disana. Juga ayo kita siapkan pelapis kaki dan ranting
panjang.” Setelah mempersiapkan beberapa peralatan,
bocah-bocah nakal itupun menyulut api dan memasukkan
ke dalam liang ular. Tidak berapa lama, kontan saja, ular-ular
berhamburan keluar, dan sebagian besar masuk ke perangkap
karung goni yang telah disiapkan. Beberapa ekor ular berhasil
Seri Kumpulan Cerpen
menghindar dari perangkap dan kabur. “Wah, paling tidak ada
belasan ekor yang berhasil kita tangkap. Panen kulit ular deh
kita.” “Tunggu, coba kita gali lubang bawah tanah ini juga.”
Mereka menemukan puluhan butir telur ular, yang sebagian
mereka pakai untuk timpuk-timpukan, sisanya mereka bawa
pulang.
Hasil gambar untuk ular kartun lariBeberapa ekor ular yang berhasil kabur kemudian pergi
menemui Raja Ular, dan menceritakan apa yang telah terjadi.
Mendengar apa yang telah terjadi, Raja Ular murka besar
dan meminta agar semua ular berkumpul. “Hingga detik ini,
tidak pernah sekalipun kita mengusik kehidupan manusia.
Akan tetapi, bocah-bocah manusia keparat itu membunuh
rekan-rekan kita, menghancurkan sarang kita, mencuri dan
menghancurkan telur-telur kita. Saatnya kita membalas
tindakan biadab mereka!” Raja Ular lalu mengarah ke beberapa
ekor ular yang berhasil kabur tersebut, “Kalian masih ingat
bocah-bocah yang mana saja yang menghancurkan sarang
kita?” “Ampun Baginda, kami berusaha kabur secepatnya
dan tidak bisa mengingat..” “Baiklah, malam ini kita akan
mengerahkan pasukan elit ular-ular terpilih untuk mematuk
semua bocah manusia yang ada di desa!!” “Ampun Baginda,
mohon kebijaksanaannya, tidak semua bocah manusia
bersalah dan terlibat,” terdengar sahutan yang ternyata
berasal dari ular kecil yang pernah diselamatkan oleh Ponijan.
Semua ular lainnya menatap sinis ke ular kecil dan sebagian
berseru, “Pengkhianat bangsa ular! Enyahlah dari sini!” Ibu
ular mencoba membela anaknya, “Ampun Baginda, mohon
Baginda pertimbangkan lagi, mungkin saja keputusan
tersebut bisa mendatangkan petaka bagi kaum ular.. kelak.”
“Kurang ajar!! Berani membangkang dan bahkan membela
Asal Usul Pohon Salak
musuh! Enyah dari sini !” hardik Raja Ular. “Enyah!” “Pergi”
“Dasar pengkhianat” terdengar seru-seruan dari massa ular.
“Pengawal, usir kedua ular pengkhianat dari negeri ini!” Ketika
malam menjelang, pasukan khusus ular pun mulai merayap ke
perumahan penduduk untuk membunuh bocah-bocah desa
ketika mereka terlelap..

“Iihhh, takuutttt..” sahut seorang bocah kepada kakek yang
sedang bercerita. “Terus gimana kelanjutan ceritanya kek?”
sambung bocah satunya lagi penasaran. “Kelanjutannya
ya? Gimana ya? Kakek juga sudah lupa..” “Yaahh.. kakek,
nanti malam kami ga bisa tidur deh..” “Iya kek, terus apa
hubungannya sama kulit salak yang mirip kulit ular?” “Iya, iya,
nanti kakek sambung lagi.. yuk kita makan siang dulu.”

Pasukan elit ular adalah pasukan terlatih, memiliki kecepatan
merayap yang sangat tinggi, kemampuan duel yang tangguh,
dan juga bisa racun yang paling mematikan. Untuk tiap rumah
penduduk desa telah ditugaskan satu ular elit, dan mereka
akan beraksi serempak di waktu yang berbarengan. Hit and
run, begitulah istilah militer modern untuk operasi yang akan
dilakukan oleh pasukan elit ular ini. Mereka hanya menyasar
bocah-bocah desa, untuk membalaskan dendam kematian
belasan rakyat ular sebelumnya.
Seekor ular elit merayap melalui pagar pekarangan rumah,
yang ternyata adalah rumah kediaman Ponijan! Ketika
hendak memasuki rumah, tiba-tiba ular elit ini dicegat oleh
dua ekor ular, yang ternyata adalah ibu ular dan anaknya!
Seri Kumpulan Cerpen
“Mohon enyahlah dari hadapanku,” seru ular elit dengan
nada dingin. “Tidak! Saya tidak akan membiarkan siapapun
melukai penyelamat nyawa anak saya!” “Enyah!” “Tidak!” Ibu
dan anak ular pun bergumul sengit dengan ular elit. Darah
mengalir deras dari luka-luka di tubuh ibu ular. “Enyah!”
“Tidak!” Pergumulan panjang pun terus berlanjut, ibu ular
hampir sekarat, anak ular pun terluka parah.
Tiba-tiba terasa sinyal getaran yang hanya bisa dipahami
oleh bangsa ular. Sinyal instruksi yang memerintahkan semua
pasukan elit ular agar kembali ke markas komando. Limit waktu
habis. Pasukan elit ular diasumsikan telah menyelesaikan misi,
dan harus segera kembali ke markas komando. Dengan marah,
ular elit pun terpaksa meninggalkan misinya membunuh
Ponijan, dan menghardik ke ibu dan anak ular, “Pengkhianat
keparat, mati saja sana!”
Ibu ular walaupun terluka parah dan sekarat, berkata ke
anaknya “Misi kita selesai.. ayo kita segera pergi sejauhjauhnya..
ibu punya firasat yang tidak baik..akan terjadi
bencana besar..”
Subuh belum menjelang pagi, seluruh desa mengalami gempar.
Bocah-bocah desa mati keracunan dipatuk ular. Kentongan
bergema-gema, ratap tangis terdengar di berbagai penjuru
sudut desa, para warga segera berkumpul bersama. Kepala
desa, sambil menahan isak tangis karena kedua anaknya juga
ikut menjadi korban, mengumpulkan seluruh warga, dan
setelah mendapatkan kepastian diagnosis dari tabib desa
bahwa kematian disinyalir akibat bisa racun, lalu menjelaskan
kepada para penduduk desa. “Bunuh semua ular yang ada!!”



“Bunuh semua ular keparat itu!” teriak para penduduk desa.
Dalam waktu yang singkat, semua pawang ular yang ada di
desa telah dikumpulkan. Para warga menyiapkan peralatan
pembasmi ular: perangkap ular, racun ular, garam, alat
pelindung badan, ranting-ranting panjang dan senjata tajam,
penyulut api, dan sebagainya. Perang besar pun berkobar.
Dipimpin oleh pawang-pawang ular, warga pun mencari
seluruh sarang ular yang ada. Setiap sarang yang ditemukan,
dihancurkan, di-luluhlantak-kan dan dibasmi habis. Hingga
tibalah warga di dekat sarang Raja Ular dan pasukan-pasukan
elitnya.
Pawang ular memperingatkan kalau itu adalah sarang
Raja Ular dan sangat berbahaya, dan meminta agar para
warga desa sangat berhati-hati. Setelah diusik oleh asap
dan api, garam dan racun ular, Raja Ular menjadi sangat
murka dan memerintahkan seluruh pasukan elitnya untuk
menyerang dan membunuh warga desa! Pasukan elit ular pun
bermunculan dari puluhan liang yang ada di sekitaran, dan
menyerang penduduk desa. Walaupun sebagian besar warga
telah mengenakan pelindung kaki dan tangan, beberapa
ular elit yang sangat gesit berhasil mematuk leher ataupun
perut beberapa warga. Akan tetapi warga yang sudah sangat
beringas dan dipersenjatai senjata tajam, akhirnya berhasil
memusnahkan seluruh pasukan elit ular. Sarang Raja Ular
pun dihancurkan, dan “ceerrrpppp!!”, Raja Ular pun tewas
tertancap senjata warga.
Beberapa bulan setelah hari naas dan berdarah itu,hasil
panen warga banyak yang rusak akibat populasi tikus yang
10 Seri Kumpulan Cerpen
meledak. Para pawang tikus pun dikerahkan untuk menjaring
dan membasmi tikus-tikus, akan tetapi ledakan populasi tikus
yang begitu dashyat sulit dibendung. Mati satu, lahir seratus.
Hasil panen pun mengalami kemerosotan.
Bencana demi bencana seakan tiada akhir. Tidak lama
berselang, terjadi kejanggalan di desa. Semua tikus-tikus
seakan panik dan kabur meninggalkan desa. Bukan cuma tikus,
burung-burung, serangga dan bahkan beberapa mamalia pun
ikut meninggalkan desa di bawah kaki gunung itu.
Ternyata tidak lama kemudian, terdengar gemuruh dari
kejauhan. Gunung nan indah yang selama ini sangat dikagumi
para penduduk desa, mulai bergetar dan memuncratkan abu
vulkanik. Beberapa penduduk yang sedang berburu di lereng
gunung dikabarkan tewas menghirup gas beracun yang
disemburkan gunung. Hujan abu pun mematikan hampir
semua tanaman dan hasil panen yang ada di desa.
“Mengapa bencana seperti ini harus menimpa kita??” ratap
beberapa penduduk desa yang berhasil mengungsi. Bencana
sesungguhnya terjadi beberapa hari kemudian, ketika sisa-sisa
makanan yang dibawa telah habis, semua tanaman di desa
juga mati tertimbun abu, dan di luar desa hanyalah hamparan
padang ilalang nan luas. Penduduk desa pun mulai kelaparan
dan sekarat.

Ibu dan anak ular yang mendengar musibah yang menimpa
bangsa ular dan juga penduduk desa pun segera kembali ke
desa untuk melihat keadaan. Kelam dan kelabu. Tanaman mati
Asal Usul Pohon Salak 11
dan abu gunung. Kesedihan yang mendalam pun dirasakan
oleh anak ular yang baik hati itu. Kebencian yang dibalas
dengan kebencian, pada akhirnya semua juga terkubur dan
berakhir oleh perubahan dan waktu. Seandainya saja ada yang
dapat ia lakukan untuk menolong penduduk yang kelaparan
tersebut..
Spirit gunung yang mendengar tekad mulia sang anak ular
pun bergemuruh, “Apakah Engkau bersungguh-sungguh
rela mengorbankan dirimu untuk menolong penduduk yang
kelaparan itu?” “Ya,” gumam anak ular mantap.
Tubuh anak ular pun mengalami perubahan aneh, ototototnya
menggumpal dan bermutasi, dan akhirnya menjadi
buah putih, dan hatinya yang teguh menjadi biji hitam yang
keras, dan kulitnya tersisa membungkus buah putih tersebut.
“Oooh, anakku.. apa yang terjadi padamu?” lirih ibu ular
sedih, “Spirit gunung, apapun yang terjadi, biarkanlah aku
selalu menemani anakku!” “Kasih sayang seorang ibu memang
tiada terkira..” Spirit Gunung menghela panjang, “Dikabulkan
sesuai kehendak..” Ibu ular pun mengalami perubahan aneh.
Kulitnya terkelupas, tubuhnya menghijau, dan terbelah-belah,
kemudian muncullah duri-duri, duri-duri yang akan selalu
melindungi anak yang ia kasihi.
“Biarlah abu gunung akan menjadi sari-sari yang menyuplai
pertumbuhan dan tekad kebajikan kalian..”
Para penduduk yang menemukan pohon berduri berbuah
terlapis kulit yang mirip kulit ular pun gembira ternyata buah
itu bisa dimakan. Mereka pun akhirnya membudidayakan
buah tersebut dan menamakannya salak.



Tentu saja para penduduk tidak tahu bahwa buah itu adalah
hasil mutasi anak ular dan ibunya. Namun, bagi anak ular, hal
itu tidaklah penting. Toh, kebajikan yang tulus adalah tanpa
pamrih dan tidak mengharapkan balasan apapun. Dan bagi
ibu ular sendiri, bisa berada dan terus melindungi anaknya,
sudah merupakan kebahagiaan yang mendalam dan sukar
dijelaskan dengan kata-kata.

“Wah apa di zaman sekarang masih ada ular yang sebaik itu
kek?” tanya si bocah polos setelah kakek menutup ceritanya.
“Oh ya kek, gimana nasib si Ponijan kek?” tanya bocah yang
satunya lagi.
“Ha..ha..ha..” kakek hanya tertawa, kemudian mengelupas
kulit salak dan memberikan buahnya ke bocah-bocah polos
itu. “Kelak, kalianlah yang akan melanjutkan kisah ini.”
“Awas, jangan sampai tertelan biji salaknya,” tambah kakek.
Matahari senja menghias cakrawala di lereng gunung yang
indah itu, seakan tidak sabar menanti musim panen yang
akan menjelang.









 *KESIMPULAN

Balas budi dan pengorbanan adalah wujud mulia dari nilainilai
kebajikan dan welas asih yang sesuai dengan Dhamma.
Dengan nilai-nilai kebajikan dan welas asih inilah, maka
rantai-rantai kebencian pun akan berakhir.
Dari kisah ini, kita juga dapat memetik pelajaran mengenai
pentingnya menjaga keseimbangan alam, menghargai
makhluk lain, dan bahwa segala yang berkondisi adalah
tidak tetap dan terus mengalami perubahan.
Tentunya poin terakhir yang bisa dipetik dari cerita ini
adalah mengenai kasih sayang seorang ibu yang tulus
kepada anaknya, kasih sayang yang tidak pernah akan
habis diceritakan sekalipun melalui ribuan tutur kata dan
kisah-kisah.


selamat menikmati


 

Tidak ada komentar:

Legenda Danau Toba

Asal : S u m a t e r a U t a r a P a da j a m a n dahulu, h id u plah seorang p e m u d a t a n i y a tim p ia t u ...