Jumat, 21 Juli 2017

Senyum Bidadari

Senyum Bidadari



Lani

Gambar terkaitRindu menggebu di hati Dara. Semalam dia bermimpi tentang
Ibunya yang jatuh sakit, suasana hatinya menjadi rusak,
dadanya pun terasa sesak bernafas. Ibunya Dara tinggal di
kampung sedangkan Dara di kota untuk mencari uang dan
bekerja sebagai pelayan rumah makan atau istilah kerennya
waitress. Tiada hari tanpa bekerja, meski hari libur atau
pun tanggal merah. Semua hari baginya sama, dua belas
jam dalam sehari Dara habiskan untuk bekerja. Kadang
dalam hatinya memberontak namun apalah daya orang kecil
hanya bisa bermimpi. Sesuatu yang paling murah dan gratis
hanyalah sebuah mimpi, yang entah kapan bisa terwujud.
Dara mendesah, membelalakan kedua bola matanya ketika
mentari pagi terbit secerah lampu kamar yang lupa dia
matikan. Segera Dara mencari handphonenya dan menelpon
kakaknya untuk menanyakan kabar Ibunya. Badannya panas
dan berkeringat. Beberapa kali tidak bisa terhubung karena
sinyal yang kurang mendukung, setelah lima kali baru bisa
tersambung.
“Halo kak,” kata Dara.
“Ya, ada apa Dara?” jawab kakak Dara.
“Bagaimana keadaan Ibu?” lanjut Dara.
“Ibu lagi gak enak badan tapi udah minum obat, bagaimana
dengan kamu? Kapan pulang?” tanya Kakak Dara penuh
harap.
“Semoga Ibu cepat sembuh ya, aku baik-baik saja disini dan
belum tahu kapan pulangnya,” jawab Dara.
Hatinya menangis. Kapan pulang? Ingin sekali pulang, namun
mimpi bukan hanya sekedar untuk ditunggu lalu terwujud
namun perlu usaha dan harapan.
“Kamu jaga kesehatan disitu ya,” kata kakak Dara.
“Siap kak, aku akan segera pulang. Jaga Ibu ya, salam untuk
Ibu,” balas Dara.
Telepon pun ditutup dengan desahan nafas menahan rindu
pada Ibu dan keluarga di kampung. Waktu menunjukkan
pukul tujuh pagi, segera Dara bergegas mandi dan bersiap
untuk bekerja kembali. Matanya melihat sebungkus mie,
Dara teringat masa lalu ketika satu bungkus mie dijadikan
lauk untuk empat orang oleh Ibunya. Matanya berkaca,
bahwa hidup ini mungkin tidak adil menurutnya. Dara hanya
bermimpi mempunyai uang sebanyak-banyaknya untuk
membuat Ibu dan kakaknya bahagia, supaya orang-orang pun
tahu bahwa mereka juga bagian dari masyarakat yang tak
perlu dikucilkan karena kemiskinan. Maka Dara rela bekerja
tanpa libur bahkan kadang sampai lembur untuk menambah
tabungannya supaya Ibunya bisa menonton televisi, bisa
memasak dengan kompor gas tanpa perlu kayu bakar lagi,
rumahnya bisa terang tanpa mengandalkan cahaya bulan
seperti dikota-kota dan tetangganya yang gemerlapan cahaya
lampu, serta mempunyai rumah yang berdinding batu bata
bukan bilik dari tanaman ilalang yang kapan saja bisa terbakar
jika terkena panas. Sebagian sudah terwujud dan masih
banyak yang belum terwujud, maka Dara masih bermimpi
untuk segera mewujudkannya.
Senyum pun tersungging dibibirnya, Dara yakin jika dia
bekerja dengan giat, semangat, dan menyambut hari dengan
senyuman maka dunia pun akan tersenyum balik padanya
maka mimpi-mimpi pun akan segera terwujud.
“Semangat!!” ujarnya.
Sekarang Dara sudah rapi dan siap berangkat bekerja, untuk
memotongi sayuran, memasak nasi atau melayani pelanggan
rumah makan dengan masakan yang enak. Dara berjalan kaki
dari tempat mess-nya, sepanjang jalan angin menyertainya
seolah mengajaknya bicara memberitahunya bahwa hidup
ini sebenarnya tidak sesulit dan sekejam yang dia bayangkan.
Namun itu hanya terlihat seperti gerakan pantomim yang tak
bisa dimengerti oleh Dara, atau seperti tulisan novel yang
indah namun sang pembaca hanya mengagumi covernya
tanpa tahu isi dan jalan cerita dari judul novel tersebut. Dara
melihat kesekeliling, bahwa pagi ini indah apalagi kalau apa
yang kita inginkan terwujud, maka hidup akan terasa ajaib.
Dara melihat rumput-rumput yang bergoyang bersenandung
menghiburnya. Langkahnya terhenti karena kakinya menginjak
kertas merah yang sepertinya penting dan milik seseorang.
Kertas undian. Dara menoleh kanan kiri namun tidak ada
orang yang mau mengakuinya, maka Dara mengambilnya dan
menyatakan bahwa itu miliknya, wajar bukan!
“Dara!” dari kejauhan seseorang memanggilnya dan sudah
menatapnya dengan bengis. Itu bos-nya, sipemilik warung
makan yang sudah siap dengan kemarahan yang tidak jelas.
Itu sudah biasa, menjadi menu makanan setiap pagi bagi
Dara. Langkah kaki Dara makin dipercepat sebelum amukan
masal dengan percuma dia lewatkan.
“Ya bu bos,” jawab Dara.
“Lelet! Cepetan potong-potong sayuran itu, saya mau
sembahyang dulu.” Suruh bos perempuannya.
Dara hanya mengangguk. Berfikir sejenak bahwa kadangkadang
apa yang dimakan enak oleh orang adalah hasil
jerih payah orang kecil. Dan uang adalah penguasa nomor
satu yang tak terkalahkan sedangkan Tuhan hanya sebagai
alasan manusia menyimpan salah dan berharap berkah. Dara
mendendangkan sebuah lagu dimulutnya sebagai pengobat
hatinya yang sejak tadi pagi tak karuan. Suatu hari nanti, Dara
yakin akan suatu hari nanti segalanya akan tampak indah
sebagaimana adanya dan akan dia tunjukkan pada dunia
tentang mimpinya.
Sepuluh bulan kemudian...
Hati Dara kosong. Dara ingin pulang, tak bisa ditawar lagi.
Akhirnya Dara meminta ijin pulang kampung selama tujuh
hari. Uangnya belum banyak namun kerinduan membuatnya
mengubur sejenak mimpinya, Dara hanya ingin merasakan
belaian tangan Ibunya, tidur disampingnya dan membuatkan
masakan menu spesial.
Kereta melaju membawa sejuta gemuruh didada, sudah satu
tahun Dara tidak pulang kampung. Akan sangat berbeda
rasanya, akan banyak perubahan yang terlihat terutama
suasana desa. Delapan jam perjalanan tidak terasa, Dara
terhibur dengan adanya bencong-bencong yang berdendang,
macam-macam orang yang saling membanggakan diri. Dara
hanya membanggakan satu orang di dunia ini yaitu Ibunya.
Para pedagang tak henti-hentinya mondar-mandir membawa
dagangan serta berbagai macam aroma keringat tak sedap
hanya demi satu kata “UANG.”
Kereta berhenti di stasiun kecil, itulah tanda kalau Dara
harus turun sekarang, lima menit waktu untuk segera turun.
Buru-buru Dara menggendong tas ranselnya serta barang
bawaan yang dibungkus pakai kardus. Inilah tempat asalnya,
tempat dimana dia dilahirkan dan pertama kali harus berani
melangkah maju dengan mimpinya. Mimpi yang sangat
penting bagi orang kecil seperti dirinya. Dara memanggil
tukang ojek, ada ratusan yang siap mengantarnya, bukan
gratis tetapi sudah menjadi pekerjaan mereka sebagai tukang
ojek setiap harinya. Rumahnya jauh dari stasiun, terpencil
masih jauh dari modern namun banyak warganya sudah
terpengaruh oleh tayangan televisi dan pengaruh-pengaruh
dari luar kampung yang kadang hanya membuat perpecahan
dan pertengkaran, misalnya soal kepercayaan dan agama,
tradisi dan cara bersosial.
Wuzz! Angin mengombang–ambingkan rambutnya yang
tanpa helm. Kejutan! Dara akan memberikan kejutan pada
Ibunya. Pohon-pohon masih berdiri kokoh dan hijau, udara
sore hari masih sangat sejuk seperti dipagi hari. Rumah-rumah
di sepanjang jalan sudah berubah, tidak ada lagi yang seperti
gubug tua. Dara tersenyum, dia hanya ingin bertemu Ibunya
tanpa harus peduli dengan sekelilingnya yang membuat
dirinya merasa tidak puas. Sekelilingnya hanya membuat
dirinya tersiksa akan keinginan yang terus harus dipenuhi.
Dari kejauhan sepuluh meter matanya sudah melihat rumah
yang masih berdinding papan kayu dan bambu. Itu rumah
Dara, rumah tempat dia dilahirkan dan menjadi dewasa dalam
kemiskinan.
“Pak, disini saja,” kata Dara kepada tukang ojek.
“Ya neng,” jawab si tukang ojek yang kemudian menurunkan
barang-barang bawaaan Dara.
“Terimakasih pak,” Dara mengulurkan uang ditangannya.
Segera Dara berlari menuju rumah dengan girang. Sepi tidak
ada tanda-tanda kehidupan, yang ada hanya nyala sebuah
lampu minyak dan lilin yang menerangi rumahnya. Dara panik,
dia mencari disetiap sudut namun tak menemukan juga,
siapapun tidak ada. Dara membuka pintu,dilihatnya salah
seorang tetangga sedang melintas dan Dara memanggilnya.
Hasil gambar untuk senyum bidadari kartun nangisJantung Dara serasa mau copot ketika dia diberitahu bahwa
Ibunya masuk rumah sakit sejam yang lalu. Seluruh badannya
melemah, kekuatan dan keceriannya seakan luluh lantah tanpa
jejak. Dara merasa linglung sejenak, Ibu adalah nyawanya,
tawanya juga tangisnya, ketika tidak ada orang yang mengerti
tentang dirinya atau bahkan tidak peduli dengan dirinya Ibu
adalah orang pertama yang akan mengusap rambutnya,
membelainya dan membuatnya selalu tersenyum. Meski Dara
tahu diam-diam Ibunya sering menangis dan kecewa dengan
hidup ini, tapi Ibu selalu tersenyum tegar dan memberikan
kehangatan pada anak-anaknya.
Dari pintu Dara mengintip Ibunya yang sedang terlelap,
perlahan Dara menghampiri dengan langkah kaki sangat
hati-hati. Dara menggenggam tangan Ibunya yang keriput,
memandang wajah Ibunya dengan seksama. Wajah itu kini
telah menua, masa mudanya tercermin di wajah Dara
yang cantik tanpa jerawat. Dulu Ibu sangat cantik, menawan
bagai mawar yang mengundang kumbang-kumbang, bagai
bidadari yang tegar menghadapi kejamnya perubahan.
Senyum manis yang selalu mengembang dan membuat
pesona tersendiri bagi orang-orang yang mencintainya. Ibu...
Dara meneteskan air matanya, dia ingin melihat senyum yang
seperti bidadari itu tersungging dibibirnya kembali. Ketika
Dara menghapus air mata yang tidak sengaja menetes, Dara
melihat Ibunya tersenyum, tangannya menggenggam dengan
kuat.
“Ibu,” panggil Dara.
“Anakku,” jawab Ibunya.
“Aku sayang Ibu,” kata Dara.
Ibunya tidak berkata apa-apa lagi. Senyum terakhir Ibunya itu
membuat pukulan yang amat berat bagi Dara. Dara tidak tahu
harus menyalahkan siapa, nasib hanya menuntunnya bukan
menuntutnya atau menghakiminya. Tangisan Dara pecah,
menggelegar seperti petir. Ini adalah awal kehidupannya yang
baru, tanpa seorang Ibu.
“Aku sayang mama,” kata Irene anaknya Dara yang berusia
tujuh tahun.
“Mama juga sayang kamu nak,” jawab Dara.
Irene menangis dipangkuan Dara ketika Irene mendengarkan
kisah tentang neneknya, yang photonya terpajang didinding
ruang tamu. Wajahnya mirip dengan Dara, sama persis
tiada beda, begitu juga dengan senyuman bidadarinya yang
memiliki lesung pipit dikedua pipinya.
Dara menjadi orang yang berkecukupan ketika dia
memenangkan undian satu milyar yang tanpa sengaja telah
ditemukannya, satu hal yang Dara sadari adalah bukan banyak
uang yang menjadi mimpinya dan kebahagiaannya tetapi
senyum Ibunya yang terpenting dalam hidupnya. Kemiskinan
tidak menjadikan seseorang menjadi hina tetapi kebahagiaan
batin membuat diri seseorang mulia.


*Petikan
Ungkapkanlah rasa sayang kepada orang-orang yang kita
cintai sebelum semuanya terlambat.

Tidak ada komentar:

Legenda Danau Toba

Asal : S u m a t e r a U t a r a P a da j a m a n dahulu, h id u plah seorang p e m u d a t a n i y a tim p ia t u ...