Selamat
Jalan koko
Jalan koko
Cici Metta
“Aku bagai rajawali kokoh yang telah jatuh dan siap terinjak.
Tidak ada lagi kepakan sayapku yang menjadi kebanggaanku.
Namun aku beruntung, di sisa hidupku ini kutemukan sebuah
arti hidup.”
Itulah curahan hati kakakku Ming saat ia divonis gagal ginjal.
Keluarga yang dicintainya menginginkan kematiannya.
Catatan hariannya sangat menyentuh hati dan membuat kita
sadar agar bisa menghargai kehidupan. Akhirnya ia menyadari
bahwa hidup bukan hanya menggapai kekayaan duniawi,
mengejar mimpi belaka, tetapi juga harus mengisinya dengan
cinta kasih, kebaikan dan kasih sayang.
KEPERGIAN KAKAK TERCINTA MEMBUATKU MENANGIS
BERHARI HARI
Panasnya mentari, tidak memberiku kehangatan. Sejuknya
angin berhembus, tidak menyejukan hatiku. Hatiku beku
dan penuh kesedihan. Aku tidak pernah rela melepaskan
kepergiaan kakakku selamanya. Aku menangis berhari hari,
penuh air mata dan kerinduan. Karena kepergiannya terkesan
tragis dan begitu menderita di akhir hidupnya.
Koko, itulah sebutanku pada kakak pertamaku. Kakakku
adalah kakak pertama, kami enam bersaudara. Aku terlahir
sebagai adik perempuan yang kedua. Tidak begitu banyak
memori yang terekam dalam ingatanku. Namun saat koko
mengantarkan ku kesekolah, berjalan kaki saat aku masih SD
kelas satu selalu teringat sampai hari ini.
Kehidupan koko terbilang cukup sukses, dan cukup kaya.
Diusianya yang keempat puluh ia sudah memiliki segalanya.
Mobil, rumah mewah, vila, tanah, toko, emas, deposito dan
tabungan yang cukup menjamin masa tuanya. Karena ia sangat
gigih dan selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya.
Masa kecil kami yang sulit membuatnya termotivasi selalu
untuk menjadi orang sukses dan kaya.
“Aku harus menjadi orang kaya,” begitulah kata koko dalam
menggapai mimpi-mimpinya.
Ternyata kekayaan duniawi, tidak menjamin kehidupannya
akan berlangsung dengan damai dan harmonis. Keinginannya
memiliki kartu miskin di saat ia menderita sakit, membuatku
menitikan air mata. Asuransi kesehatan yang seharusnya dapat
dipergunakan untuk memenuhi biaya pengobatan tidak dapat
dipergunakannya. Istri dan anak-anaknya mempergunakan
untuk jalan jalan keluar negeri. Kasih sayang yang telah
diberikannya selama ini, lenyap begitu saja bagai tenggelam
arus terbawa ombak.
Takut menjadi miskin adalah penyebab utama dari semua
kisah ini. Koko telah pergi dengan kerelaan hatinya. Ia tidak
mau makan dan minum saat-saat terakhir hidupnya saat
dirawat dirumah sakit. Kondisinya semakin parah dan akhirnya
ia meninggal. Aku sering berpikir, jangan-jangan koko sengaja
mengakhiri hidupnya. Namun kutepis semua pikiran itu,
biarlah ia pergi dengan damai dan tenang.
Selamat Jalan Koko, tidurlah dengan indah, semoga Cahaya
Terang akan selalu bersamamu selalu, menyertai koko hingga
tercapainya Pantai Seberang.
USAHA PAPAKU MENGALAMI KEPAILITAN
Usaha papaku adalah pabrik cor logam, seingatku usaha
papa adalah melebur besi dan membentuk cetakan sesuai
permintaan pelanggan. Sebagai anak pertama dari delapan
bersaudara, papa memiliki tanggung jawab yang besar. Papa
dan mamaku menikah diusia yang cukup dini, diusianya yang
keenam belas.
Kakekku adalah orang yang cukup ulet, merintis pabrik yang
dikelolanya dari kecil. Kebutuhan keluarga semua dicukupi dari
usaha ini. Kami adalah keluarga besar, dan tinggal serumah.
Terkadang konflik juga datang di keluarga ini. Namun kakekku
cukup bijaksana dalam menilai dan menyelesaikan masalah.
Sejak kakekku meninggal akibat penyakit stroke yang
dideritanya. Papa mewariskan usaha kakek diusianya yang
cukup muda. Papa juga memiiki segalanya sejak kecil.
Hidup serba berkecukupan. Papa adalah anak pertama dari
delapan bersaudara. Mungkin papa adalah orang yang sangat
beruntung, terlahir dalam keluarga berada.
Tapi hidup tidak dapat diduga, bagai roda yang selalu
berputar. Usaha papa mengalami bangkrut atau pailit. Entah
salah dimana, akupun tidak tahu karena usiaku masih sangat
kecil disaat itu. Yang pasti sejak saat itu aku mulai merasakan
tidak nyamannya hidup susah.
KARENA KECEWA KAKAKKU MARAH DAN PERGI DARI
RUMAH
Sejak usaha papa mengalami pailit, Koko mulai berjualan apa
saja makanan, baju, sepatu ataupun menyewakan video dari
rumah kerumah. Koko berusaha hidup mandiri. Koko juga
sangat rajin membantu mama mengurusi adik-adik saat itu.
Mengantar kami kesekolah, mencuci baju dan menyetrika.
Kami berlima adik yang beruntung rasanya. Memiliki kakak
yang perhatian.
Kami hidup serumah, dengan beberapa keluarga lainnya.
Hidup dengan keluarga besar membutuhkan kesabaran yang
tidak sedikit. Untungnya mama cukup sabar, menghadapi
sikap dan prilaku dari keluarga papa juga mama sendiri, saat
papaku gagal menjalankan usaha keluarga. Mama mampu
menyejukan hati kami, bagiku mama adalah segala-galanya.
Air mata ku selalu jatuh, mengingat saat masa sulit yang
pernah kami lewati. Namun aku sadar, aku jauh beruntung.
Masih memiliki tempat tinggal. Dan keluarga yang baik. Jauh
lebih sulit orang diluar sana, yang masih lebih menderita.
Entah mengapa suatu saat koko marah besar dengan sikap
papa, yang terkesan membela dan mengutamakan adikadiknya.
Keputusan koko untuk pergi dari rumah, karena
ajakan temannya membuat koko semakin menjauh dari
kehidupan keluarga. Aku tidak begitu paham, apa yang
terjadi sebenarnya. Papa sepertinya lebih memperhatikan
kebutuhan adik-adiknya daripada anaknya sediri. Mungkin
tanggung jawab moral yang dilimpahkan almarhum kakekku
kepada papaku untuk mengurus keluarga inilah yang mejadi
penyebabnya.
KOKO MENJADI PENGUSAHA YANG CUKUP SUKSES
Tahun demi tahunpun berganti, koko menikah dan mulai
merintis usaha yang digelutinya. Kehidupannya mulai mapan
diusianya yang masih cukup muda. Memiliki dua putri
yang cantik, rumah mewah dan harta kekayaan menurutku
sangatlah pantas mereka disebut keluarga ideal.
Namun sayang, koko melupakan kami. Koko terlena dengan
kesuksesannya. Disaat kami membutuhkan koko untuk
menopang keluarga, koko tidak pernah membantu ekonomi
keluarga sedikitpun.
“Ming, bantulah keluarga,” begitulah kata papa memohon
pada koko. Entah apa yang terjadi, aku sulit menerima
kenyataan. Mengapa koko sangat keras hati dan tidak pernah
peduli kepada adik-adiknya juga papa dan mama. Belakangan
baru kuketahui, keuangan koko dikendalikan oleh istrinya
yang berasal dari keluarga broken home dan juga kurang kasih
sayang orang tuanya.
Mungkin ini juga salah satu penyebabnya, mengapa koko
tidak bisa membantu kehidupan kami, dan selalu terdiam bila
diminta bantuan. Rasa kecewa karena sikap papa terhadapnya
dimasa lalu menambah beku hatinya untuk melihat keadaan
kami.
“Ma, mengapa mama dan papa tidak pernah marah atas sikap
koko. Mengapa koko begitu terhadap kita,” tanyaku penuh
heran .
“Cia, kami tidak pernah merasa marah ataupun dendam atas
apa yang dilakukannya, mama dan papa selalu mencintai
kalian. Suatu saat kamu akan mengerti, karena kelak kamu
juga akan mempunyai anak,” begitulah mama menjelaskan
perlahan.
“Mengapa papa juga tidak pernah marah atas sikap koko?”
tanyaku pada papa.
“Cia, berkali kali mama dan papa memberi nasehat, berkali kali
koko mengabaikan . Perasaan yang kami miliki jauh lebih sakit
dari rasa sakit apapun. Kalian kami besarkan dengan penuh
kasih dan sayang, Papa hanya menerima ini sebagai bagian
dari karma, suatu saat kokomu akan sadar, bahwa apa yang
dilakukannya adalah salah,” papa menjawab dengan datar.
Pendidikan mama dan papa tidak lah tinggi, mereka menikah
diusia sangat dini . Namun papa ku suka sekali ke cetya saat
masih muda, dan terkadang memberikan ceramah Dhamma.
Beliau sangat hobi membaca. Membaca buku-buku Dhamma
adalah salah satunya.
Aku sangat terharu memiliki orang tua seperti mereka.
Rasanya aku tidak pernah sanggup membalas budi mereka.
Air matakupun jatuh berlinang. Terima kasih ma, pa kalian
orang tua yang sangat berarti bagi kami.
Papa dan mama adalah pemaaf yang luar biasa. Selalu
membuka pintu maaf, memaafkan kami anak-anak yang
terkadang membuat kecewa hatinya. Kami beruntung sekali
pernah terlahir sebagai anak-anaknya. Papa dan Mama adalah
Matahari dan Bulan yang selalu bersinar dalam kehidupan
kami.
PAPA MENINGGAL KARENA STROKE DAN MAMA
MENINGGAL KANKER RAHIM
Papa cukup sabar dan tabah dalam menghadapi himpitan
ekonomi, dengan susah payah akhirnya papa berhasil
menyekolahkan kami kuliah sampai Sarjana. Papaku meninggal
akibat penyakit stroke yang dideritanya. Dan mamaku
meninggal setahun kemudian setelah kematian papa karena
kanker.
“Ma, mengapa papa meninggal begitu cepat, di saat aku
belum mampu membahagiakan papa,” tanyaku. Mamaku
hanya terdiam. Mama sangat tenggelam dalam kesedihan dan
kemelekatan. Sejak kepergian papa, mama selalu menangis
dan ingin pergi selamanya.
“Pa, bawa mama pergi,” begitu lah mama sering berharap.
Aku selalu merasa tidak pernah dapat membalas budi
kebajikan mereka sampai kapanpun. Bila kerinduanku datang,
airmataku jatuh karena selalu mengingat penyesalanku. Aku
selalu merasa tidak pernah membahagiakan mereka disaat
mereka masih hidup. Mama Papa, aku hanya bisa mendoakan
kalian setiap saat, agar terlahir di alam bahagia.
KOKO TERDIAGNOSA GAGAL GINJAL KRONIS
Begitu ironisnya kehidupan ini. Tidak dapat diduga dan tidak
dapat disangka. Koko yang terlihat segar bugar, dan terlihat
bahagia dengan kehidupannya divonis gagal ginjal. Bagaikan
disambar petir, kami menerima berita ini. Bagaimana mungkin
koko bisa terkena penyakit ini, karena belum lama ini, koko
jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarganya. Aku selalu
membayangkan kelak bisa seperti koko, hidup sukses maju
dan bahagia.
Pagi itu, masih sangat gelap, aku suka bangun pagi . Membuat
kesibukan kesibukan kecil sebelum memulai hari.
“Cia,….” koko ku menyapa secara online di computer.
“Bagaimana ko, sudah ada kemajuan? “tanyaku.
“ Sulit bernafas, engap engap,”ujar koko .
“ Yang sabar ya ko, coba koko tarik nafas perlahan dan buang
perlahan ,” ujarku.
“ Ya, cia.”koko pun berusaha bernafas.
Begitu susah untuk bernafas, dan satu helaan nafas sangat
berarti untuk mereka yang sakit ginjal kronis. Minum dibatasi,
makan dibatasi, terkadang kesulitan untuk bernafas. Maka
selagi nafas masih ada, berbuatlah yang terbaik untuk
kehidupan ini. Seringkali kita lupa menghargai setiap nafas
kehidupan yang masih dimiliki.
Di terakhir hidupnya, koko sangat dekat padaku. Sesekali ia
datang kerumah dan menginap di rumah. Berkeluh kesah
mengenai sikap istri dan anak anaknya. Terkadang ia sering
bermain bersama fefe, anakku.
“Yang sabar ya ko,’ ujarku. Hanya itu yang dapat kulakukan
untuknya. Hanya bisa menghibur hatinya.
38 Seri Kumpulan Cerpen
Walau hatiku terkadang penuh amarah terhadap koko, atas
sikapnya pada mama dan papaku. Namun rasa sayangku
kepadanya mengalahkan kebencianku pada sikapnya. Sebisa
mungkin aku memberikan dukungan semangat hidupnya.
Walaupun sedikit perhatian, koko sangat merasa senang dan
disayang.
ISTRI DAN ANAK-ANAK BERHARAP KEMATIANNYA
Mulanya aku kurang paham, apa yang terjadi pada kehidupan
kakakku. Aku menganggap semua akan baik-baik saja. Karena
setahuku kemampuan ekonomi keluarga koko cukup terjamin.
Koko sudah diikutsertakan dalam salah satu perusahaan
asuransi. Biaya cuci darah pun lumayan dapat terbantu.
Namun hidup memang bagai sinetron, koko diterlantarkan
oleh keluarganya sendiri. Takut jatuh miskin adalah penyebab
utama, hal inilah yang membuat mengapa mereka sangat
menginginkan kepergian koko.
CATATAN HARIAN ALMARHUM
Akhirnya kupahami melalui catatan catatan hariannya koko di
facebook. Ungkapan hati, penyesalan, juga kekecewaannya
dan sampai pada keputusannya untuk meninggalkan kami
semua selamanya.
Penuh air mata kulihat catatan hariannya. Kehidupan
koko, yang bagiku sudah termasuk lumayan ternyata tidak
berakhir bahagia. Penyakit gagal ginjal selama dua tahun ini,
menyiksanya secara lahir dan batin.
Aku terlahir prematur dan sering sakit-sakitan, mama menjaga
dan merawatku dengan baik sejak kecil . Aku sangat menyesali
Selamat Jalan Koko 39
sikapku pada papa dan mama. Hanya karena keegoisan dan
kebodohanku untuk melihat kasih sayang orang tuaku. Aku
membenci sikap papa yang selalu mengutamakan saudara
saudaranya daripada aku putra pertamanya.
Kokoku pernah kecewa, dikecewakan sekali oleh papa.
Merasakan pahitnya kehidupan, saat usaha papa mengalami
kebangkrutan. Aku baru paham sekarang, anak bisa kecewa
dan begitu sakit hatinya pada sikap atau kekeliruan orang tua.
Tapi orang tua berbeda, kasih sayang nya begitu dalam. Tidak
pernah orang tua mengeluhkan kekecewaan yang dirasakan
oleh sikap anak anak.
Kubaca setiap catatan terakhir hidupnya. Dan aku menghela
nafas berkali kali.
Jika kupikirkan kembali, apa yang dirasakan mama dan papaku
jauh lebih sulit. Dengan ekonomi yang tidak berkecukupan.
Papa dan mama tidak bisa mengobati dirinya. Aku mulai
sadar, apa yang kulakukan keliru. Jika saja waktu dapat
terulang , aku ingin memperbaikinya…
Aku menderita sakit ginjal, diusiaku yang keempat puluh.
Mempunyai kekayaan duniawi, namun tidak sanggup
membeli kehidupan. Sejak aku sakit, istriku mulai menghitung
berapa pengeluaranku. Mulai tidak membutuhkan diriku.
Aku bagaikan seekor rajawali yang siap terinjak-injak. Anakanakku
sudah mulai berani berkata tidak pantas padaku. Aku
merasa hidupku sudah tiada arti. Keluargaku mengharapkan
kematianku. Agar tidak menjadi miskin dan hidup susah.
Bahkan biaya pengobatanku dijatah, dan aku harus bekerja
untuk cuci darah.
“Cia, koko tidak ingin pulang kerumah,” tiba tiba saja koko
menjemput ku ke kantor.
“Kenapa ko, itu kan rumah koko,’ujarku.
“Rumahku bagai neraka, tidak ada ketenangan didalamnya,”
begitu kata koko memendam kekecewaan yang dalam.
“Ya sudah, koko menginap saja disini dahulu. Tenangkan hati
ya,” hanya itu yang bisa kuucapkan. Ia begitu bersemangat
bercanda dengan fefe anakku. Kerinduan kasih sayang disaat
terakhir hidupnya, terobati sedikit.
Keputusanku
Aku tidak akan pernah kembali kerumah, biarlah kucari jalan
hidupku sendiri. Biarlah aku hidup dalam kedamaianku.
Jika aku pergi selamanya. Aku akan menitipkan pesan pada
saudaraku agar tidak mengijinkan istri dan anak-anakku
untuk berada disekitar mayatku. Biarlah kucari sendiri jalan
hidupku mulai detik ini.
Keputusasaan yang sangat dalam, sedih sekali aku membaca
catatan hariannya, aku tak kuasa untuk tidak menangis.
Koko, mengapa ini terjadi pada koko. Koko memiliki
kekayaan duniawi, tapi tidak berada dalam kedamaian dalam
kehidupannya. Bekerja dan menghasilkan uang adalah prinsip
hidupnya. “Aku harus menjadi kaya,” begitulah kata koko.
Masih beruntungnya teman temanku yang memiliki penyakit
sama, tapi mereka mendapatkan cinta dan kasih sayang.
Istri dan anak anak teman temanku mendukung mereka
sepenuh hati. Memberikan dorongan semangat untuk hidup,
memberikan perhatian yang begitu dalam.
Berbeda dengan kehidupanku, disaat aku sakit, anak anak
dan istriku mencela dan selalu berharap aku pergi selamanya.
Karena aku tidak produktif lagi menghasilkan uang. Disaat aku
harus melakukan cuci darah, dan dapat menguras tabungan.
Aku diwajibkan bekerja. Mereka khawatir akan jatuh miskin.
Impian putriku agar bisa sekolah di luar negeri, membutakan
mata hati keluargaku sendiri.
Hari minggu, saat aku sedang ke vihara, koko tiba-tiba pergi
dari rumahku. Dan aku hanya ditinggalkan pesan. Terima kasih
Cia atas kebaikanmu, walau selama ini koko jarang dekat
denganmu. Kamu adik yang baik… begitulah tulisan koko
yang terakhir. Air mataku pun mengalir jatuh saat membaca
dan mengingatnya.
Tidak kusangka itulah pesan terakhir koko, sebelum
ajal menjemput. Karena kesibukanku aku tidak sempat
menjenguknya. Aku sempat menelponnya dan menanyakan
keadaannya. Kabar yang kuterima, ia kembali ke rumah dan
keluarganya sudah menerima kembali. Aku hanya berharap
koko mendapatkan kasih sayang dari keluarganya disaat
terakhir hidupnya.
Kondisi kesehatannya semakin parah dan Ia dirawat di rumah
sakit. Ia berusaha tegar dan tabah menjalani kehidupannya.
Di akhir hidupnya ia banyak merenung dan berdoa. Menyesali
setiap perbuatannya, namun tetap berusaha membawa
pikirannya ke arah yang baik.
Catatan terakhir, sebelum ajal menjemputnya.
Jika aku berpikir dengan bijaksana, sejauh ini aku yang
salah. Aku terlalu egois untuk menilai cinta keluargaku. Aku
terkadang emosi terhadap keluargaku. Rasa marah dan
kecewa, atas apa yang kualami menjadikanku buta. Buta dan
lupa untuk memahami arti hidup sebenarnya. Berdoa hanya
disaat kesulitan dan lupa apa itu arti kasih sayang yang
sesungguhnya.
Akhirnya kupahami yang terjadi, tiada yang patut ditangisi
ataupun disesali. Masih banyak yang harus dilakukan saat
nafas masih ada. Akhirnya kusadari arti hidup, bukan hanya
mengejar kesenangan duniawi. Hati yang keras menggapai
mimpi belaka. Takan berguna tanpa tahu arti hidup. Isilah
hidup dengan penuh kebajikan dan dekatkanlah hatimu pada
Ajaran Nya selalu, dimanapun dan kapanpun.
Selamat jalan koko ku tersayang. Damailah dalam tidur
panjangmu.
Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi tidak
bijaksana dan tidak terkendali, sesungguhnya lebih baik
kehidupan sehari dari orang yang bijaksana dan tekun
bersamadhi. Dhammapada 111.
*Petikan
Hidup tidak pernah mudah untuk dijalankan. Kita tidak
pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri dan keluarga
kita. Oleh karena itu selalulah mencoba bersyukur atas
apa yang ada dan berbakti pada keluarga. Agar tidak
meninggalkan rasa penyesalan, sebab penyesalan selalu
datang terlambat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar