Melodi Kehidupan
Linda Tiratana
Sepuluh tahun telah berlalu namun kenangan pahit itu tak
pernah lekang oleh waktu, seakan terus berputar seperti
adegan film yang direka ulang, bermain-main di pikiran Satta
selalu saat ia berada di tempat ini. Siang itu memang panas
tapi udara di sekitarnya sangat sejuk, mungkin pohon-pohon
cemara yang tumbuh di sekeliling tempat ini menghalangi
pancaran matahari langsung sehingga membuat tempat itu
begitu teduh. Satta melepaskan jaketnya membiarkan angin
yang berhembus perlahan menyentuh kulitnya yang putih
secara langsung, sentuhan itu dia rasakan seperti belaian
hangat seorang ibu. Rambutnya yang bergaya harajuku tak
beraturan dia biarkan berantakan diterpa angin, menutupi
sebagian wajahnya yang mulai basah oleh air mata. Dengan
perlahan Ia meletakkan setangkai mawar putih di atas sebuah
pemakaman dengan batu nisan bertuliskan “Naomi”, sebuah
nama yang dia rindu untuk dipanggil mama. Terakhir kali dia
temui ketika dia berusia tujuh tahun. Waktu itu ia meminta
mamanya untuk cepat pulang ke rumah, karena dia ingin
memainkan sebuah lagu dengan biola yang dibelikan mamanya,
sebagai hadiah untuk mamanya yang hari itu tepat berulang
tahun. Namun kondisi yang ada telah merenggut semuanya,
mamanya yang tergesa-gesa mengalami kecelakaan dan pergi
48 Seri Kumpulan Cerpen
untuk selama-lamanya. Kesedihan Satta tak berujung sampai
di situ, papanya yang tidak bisa menerima kenyataan selalu
menyibukan diri dengan pekerjaannya, bahkan hampir tidak
pernah pulang ke rumah apalagi bertemu dengan Satta.
Sejak saat itulah hati Satta seperti yatim piatu... sendiri…
tumbuh tanpa pijakan yang bisa menuntunnya…. “Mama
I miss you.” kalimat pertama yang selalu dia ucapkan saat
berbicara sendiri di tempat peristirahatan terakhir mamanya.
“Thanks Mom hari ini aku sudah tamat SMU… maunya sih aku
pergi ke tempat Mama... tapi waktu terus berputar di hidup
aku….” hasrat terpendam yang tak malu-malu dia katakan
pada mamanya “Canna mengajak aku untuk kuliah bareng,
bagaimana yah Mam?” mamanya pun tak bisa menjawab, kali
ini Satta harus pulang dengan tanda tanya di hatinya.
Sepulang dari pemakaman ia langsung memarkirkan sepeda
motornya di depan rumah Canna tepat bersebelahan dengan
rumahnya. Keluarga Canna bukan sekedar tetangga, tapi
melebihi keluarga sendiri buat Satta, karena cuma merekalah
yang dia punya yang selalu memberikan cinta dan kasih
untuknya. Setelah bertemu Canna, mereka bercengkrama
cukup lama membahas tujuan hidup mereka, kuliah, kerja,
usaha, merantau, seniman, relawan, cinta, kehidupan,
kematian…. Mungkin seperti remaja yang lain mereka masih
sangat rentan dengan jati diri, terutama Satta yang memang tak
punya pijakan dan motivasi hidup. Karena tidak menemukan
kata sepakat mereka meneruskan jalan hidup masing-masing.
Dua kepala dengan kondisi latar hidup yang berbeda, membuat
karakter dan sifat mereka kadang berlawanan, Canna yang
periang, ramah, aktif dengan lingkungannya terus maju untuk
kuliah mengejar mimpinya menjadi dokter dan aktif menjadi
Melodi Kehidupan 49
relawan di wihara untuk menumbuhkan dan mengembangkan
cinta kasihnya pada sesame. Ada juga keinganan hatinya untuk
mencari cinta sejati (hehehe...), cukup terencana dengan baik.
Sedangkan Satta, jalannya masih remang-remang bahkan bisa
dibilang gelap dan suram, lebih mengikuti arus yang datang,
terus mengalir tanpa ada tujuan.
Sejak memasuki liburan sekolah hari-hari Satta semakin sepi,
tak ada yang ingin dia kerjakan selain berkeliling dengan sepeda
motornya dan berhenti di tempat-tempat yang dianggap
menarik untuk diabadikan. Satta memang sedikit berbeda
dari remaja lainnya, dia cenderung pendiam dan menutup
diri dari lingkungannya. Tragedi masa lalunya membuat dia
tumbuh dalam kesendirian. Sepanjang hidupnya ini selain
Canna, dia hanya berteman dengan sepeda motornya yang
setia menemani dia menyusuri jalan raya di tengah malam
ketika perasaannya sedang kacau. Teman lainnya yaitu kamera,
karena dia memang senang dengan fotografi. Di komputer dan
dinding kamarnya banyak koleksi foto hasil jepretannya yang
tidak kalah bagus dengan fotografer handal, tapi kebanyakan
temanya tentang pemandangan alam yang mengisyaratkan
kesepian. Terakhir, temannya yang selalu memberi kekuatan
ketika dia merindukan mamanya yaitu sebuah biola usang yang
umurnya lebih dari separuh umur Satta. Tapi biola itu masih
terlihat bagus, menarik dan masih bisa digunakan, walaupun
selama ini Satta sangat jarang memainkannya, karena ketika
dia memainkannya hatinya menjadi sakit, air matanya terus
mengalir. Harapan itu tak mungkin lagi jadi kenyataan, sebagus
apa pun melodi yang dia mainkan, mamanya tetap tak akan
pulang untuk mendengarkannya. Tapi itulah satu-satunya
hadiah terindah yang terakhir kali diberikan mamanya, oleh
50 Seri Kumpulan Cerpen
sebab itu dia merawatnya dengan sepenuh hati.
Berkali-kali Canna mengajak Satta pergi ke wihara mengikuti
puja bhakti dan bantu-bantu kegiatan wihara, atau sekedar
duduk-duduk di wihara. Maksudnya biar Satta tidak seperti
anak ayam kehilangan induknya, bengong-bengong di kamar
dan keluyuran tidak jelas tempatnya. Tapi itulah Satta, dia
tidak suka dengan suasana yang ramai dan melibatkan banyak
orang. Bagi dia, dunianya cukup ada dirinya dan hal-hal yang
dia suka, yang lain tak perlu masuk ke dalamnya. Tetapi malam
ini sepeda motor Canna mogok, dan dia terpaksa meminta
bantuan Satta untuk mengantarnya ke wihara. Satta yang
memang tak punya kegiatan bersedia saja, “Ingat, aku hanya
mengantar kamu sampe depan yah, jangan coba-coba suruh
aku masuk temenin kamu” syarat itu begitu cepat keluar dari
mulut Satta. “Oke Sat, tapi harus cepat yah hari ini aku ada
rapat dengan pengurus yang lain, semua sudah pada datang
tapi belum bisa mulai karena data yang penting masih ada di
aku”.
Canna sudah bersiap-siap menaiki sepeda motor Satta, dengan
kecepatan penuh dan memang jaraknya yang tidak terlalu
jauh, tidak sampai lima belas menit mereka sudah berada di
depan wihara. “Thank you very much brother” Canna langsung
melompat turun dan sedikit berlari meninggalkan Satta,
memasuki wihara dengan tergesa-gesa. Melihat suasana yang
ramai Satta juga langsung menarik gas sepeda motornya yang
masih menyala, dalam perjalanan tiba-tiba dia baru sadar
“Ya ampun...katanya data penting? kenapa dia begitu mudah
melupakannya!”. Ternyata data Canna tertinggal di sepeda
motor Satta, Satta pun langgsung memutar balik sepeda
Melodi Kehidupan 51
motornya, untungnya masih belum terlalu jauh. Setibanya
di parkiran wihara dia langsung menelpon Canna, namun
sayang handphonenya tidak aktif. Malam ini memang malam
Cap Go, banyak orang datang ke wihara untuk sembahyang.
Pintu masuk wihara penuh sesak dengan kerumuan orang,
dari yang kecil, remaja, dewasa dan orang tua. Ditambah
lagi dengan kepulan asap yang membuat mata perih. Di hati
Satta mulai timbul perdebatan, cepat-cepat kabur dari sini
dan membiarkan sahabatnya dalam kesulitan, atau masuk
menembus keadaan yang tidak dia sukai dan mencaricari
Canna yang entah di mana keberadaannya. Namun di
telinganya terngiang-ngiang kata ‘penting’ yang dari tadi terus
diucapkan Canna, akhirnya hatinya pun luluh.
Helm dan jaketnya dia tinggalkan di sepeda motor. Dengan
sedikit kegelisahan dia mulai melangkah masuk setapak demi
setapak menembus tempat persembahyangan menuju aula.
Lebih mengerikan daripada memasuki sebuah hutan, seperti
itulah yang dirasakan Satta. Seketika langkahnya terhenti,
“Sejak kapan wihara berubah seluas ini yah? Di mana sih
Canna? Ughhh” Satta mulai menggerutu di dalam hati, merasa
kesal karena dia memang sudah lama sekali tidak pernah ke
tempat itu, keadaannya sudah banyak yang berubah tak tahu
ruang mana yang harus dia masuki. Seperti kata pepatah
‘malu bertanya sesat di jalan’ nah itulah yang terjadi dengan
Satta.
Langkah kakinya membawa dia ke pintu masuk Dhammasala.
Samar-samar dia mendengar melodi yang sangat indah, tapi
dia tau pasti itu bukan suara biola atau alat musik lainnya,
seperti nyanyian tapi entah bahasa apa yang digunakan.
52 Seri Kumpulan Cerpen
Semakin dipertajam pendengarannya, membuat langkahnya
tertarik untuk memasukinya. Perlahan-lahan dia membuka
pintu yang tidak tertutup rapat itu, berjalan ke dalam hanya
sepuluh langkah, dia pun duduk bersimpuh. Ternyata di
depannya terdapat altar rupang Buddha dan seorang gadis
yang sebaya dengannya sedang membacakan bait-bait
paritta. Denting-denting melodi itu mengalun perlahan, Satta
memejamkan matanya membiarkan melodi itu menyatu
dengan tubuhnya, mendamaikan hatinya seperti air yang
ditemui di gurun pasir, begitu menyejukkan. Sejenak dia lupa
dengan luka hatinya yang selalu melekat di pikirannya.
Kejadiannya hanya berlangsung beberapa menit, Satta yang
masih terlena dengan keindahan melodi itu pelan-pelan
membuka matanya, ia pun terperanjat kaget karena ternyata
gadis itu sudah ada di sampingnya “Maaf, ada yang bisa
saya bantu?” suara merdu gadis itu kembali memecahkan
kesunyian. Seperti habis tersengat listrik tegangan tinggi,
Satta masih terpaku membisu, namun matanya tak lepas dari
gadis itu. Raut wajah gadis itu ternyata seindah suaranya,
rambutnya panjang lurus terurai, matanya sipit, kulitnya
kuning berkilau, mengenakan kemeja merah muda dengan
lengan sebatas siku, dipadu dengan rok putih bermotif bunga
sangat kontras dan cantik sekali. “Maaf, saya pengurus di
sini nama saya Khema ada yang bisa saya bantu?” dengan
tersenyum dan beranjali gadis itu kembali bertanya kepada
Satta. “Saya...” senyuman itu membuat pikiran Satta semakin
kacau, bersusah payah dia mengingat tujuannya, “Oh iya...
saya sedang mencari teman, apa kamu mengenal Canna?”
malu-malu Satta menatap gadis itu. “Kebetulan sekali saya
Melodi Kehidupan 53
juga mau bertemu dengan dia, mari saya antar” kebaikan
hatinya tersirat pada ucapannya. Satta lalu menyerahkan data
yang dia bawa kepada gadis itu “Tolong berikan ini kepada
dia!”, setelah mengucapkan terima kasih tanpa panjang
lebar bahkan tanpa menyebutkan namanya, Satta langsung
bergegas keluar, dia tidak mau membiarkan dirinya semakin
larut pada makhluk indah yang satu itu.
Karena adanya kontak dengan sesuatu yang menyenangkan,
maka ia pun langsung terseret oleh sensasi yang muncul dan
tak dapat mengetahui bagaimana hal tersebut bisa terjadi.
Pertemuannya dengan gadis itu memang hanya sesaat saja,
namun bayangan, senyuman, dan suaranya yang merdu terus
menghantui Satta. Membuat dia lebih bersemangat namun
terkadang membuatnya gelisah. Ingin tahu lebih banyak
tapi tak mampu bertanya, ingin bertemu tapi tak tahu entah
bagaimana caranya. Ia ingin sekali bisa mengulang peristiwa
itu, ketika hatinya terasa damai dan tenang. Entah apa
yang sudah terjadi, resah gelisah selalu menghampirinya,
menimbulkan tanda tanya di hatinya.
Detik ini rupanya dewi fortuna sedang berpihak kepadanya,
gadis itu melintas di depannya saat Satta melamun sendiri
di kafe. Tanpa berpikir panjang ia langsung mengikuti gadis
itu. Dengan tidak menunjukan keberadaannya, ia pun
mulai memainkan tangannya dengan lincah di atas kamera,
fokus utamanya hanya satu “Khema”. Senyum Satta terus
berkembang melihat sosok yang ada di foto. Timbul pertanyaan
di dalam hatinya “benarkah ini yang aku cari?” satu hal yang
tampak jelas terlihat olehnya, dirinya telah mengijinkan gadis
itu masuk ke dalam dunianya yang sempit.
54 Seri Kumpulan Cerpen
Pagi itu begitu cerah, Satta berniat menghabiskan waktunya
untuk memotret. Setelah pamit dengan keluarga Canna,
ia pun melajutkan sepeda motornya menuju tepi danau
di pinggiran kota. Suasana hatinya yang bahagia ternyata
hanya berkembang sesaat, ketika melewati tikungan tajam
di pertigaan jalan... “Brukkkk” sepeda motornya keserempet
oleh mobil truk dari arah berlawanan yang ingin mendahului
mobil di depannya. Kejadiannya begitu cepat, darah segar
mulai membanjiri tubuh Satta, kesadaran terakhir yang dia
ingat yaitu bahwa dia berharap sekali kesempatan itu datang,
kesempatan dia untuk bisa bersama dengan gadis itu, gadis
yang sudah mengalunkan melodi indah di hatinya. Setelah
itu dia tak tahu lagi apa yang terjadi, yang ada hanya kosong
berkepanjangan.
Keluarga Canna sangat shock mendengar kabar itu, mereka
sibuk mengatur pengobatan Satta di rumah sakit. Mereka juga
sudah berusaha mengabari papanya Satta tapi hasilnya nihil,
papanya tetap tak bisa dihubungi, terpaksa segala tanggung
jawab tentang pengobatan Satta diambil alih oleh keluarga
Canna. Luka luarnya tidak terlalu parah hanya butuh beberapa
jahitan di kaki dan tangannya, tapi butuh operasi besar
karna tulang kaki sebelah kanannya patah harus dipasang
pen. Pengobatannya berjalan lancar namun kesadaran Satta
semakin melemah setelah operasi itu, Satta berada dalam
keadaan koma.
Canna sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya, setiap
hari bila tidak ada kesibukan dia selalu berada di sisi Satta,
ruangan yang didominasi warna putih. Keheningan yang
hanya dipecahkan detak jantung dari peralatan medis,
Melodi Kehidupan 55
membuat Canna ikut merasakan penderitaan sahabatnya. Ia
pun bercerita apa saja tak perduli Satta bisa mendengarnya
atau tidak, kata dokter itu bisa membantu meningkatkan
kesadarannya.
Sudah satu minggu berlalu, kondisi Satta tetap tak ada
perubahan. Selain keluarga Canna, hanya ada beberapa orang
yang mengunjunginya termasuk Key, anak laki-laki berusia
sekitar sepuluh tahun, salah satu pasien yang ada di rumah
sakit itu juga. Malam itu Canna mengajak teman-temannya
untuk membacakan paritta di ruangan tempat Satta dirawat,
bait demi bait terus mengalun penuh harap untuk kesembuhan
Satta. Detik itu juga, entah di mana dirinya berada, samarsamar
Satta mendengar melodi itu, suara yang begitu dekat di
hatinya seolah-olah menunjukan jalan untuk kembali ke dalam
hidupnya. Jemarinya mulai bergerak-gerak, mulutnya seakan
ingin mengatakan sesuatu. Melihat perubahan yang terjadi
setelah usai membacakan paritta, Canna langsung berlari
memanggil dokter. Setelah diperiksa pelan-pelan Satta mulai
membuka matanya, remang-remang dia melihat gadis itu,
gadis yang suaranya daritadi ia cari-cari, namun kesadarannya
masih lemah mulutnya tak mampu berkata-kata, hanya seulas
senyum melintas di bibirnya. Dia berusaha mengingat hal-hal
apa saja yang telah terjadi, pertemuannya kembali dengan
gadis itu telah mengalahkan rasa sakitnya. Di dalam hati dia
bersyukur bahwa kesempatan itu masih berpihak kepadanya.
Beberapa hari dalam keadaan koma membuat dia lambat untuk
berpikir, satu yang menjadi tanda tanya di hatinya, mengapa
gadis itu bisa ada di hadapannya? Suara-suara itu membuatnya
semakin kacau, ternyata teman-temannya Canna berpamitan
56 Seri Kumpulan Cerpen
pulang atas saran dokter. Namun Satta tidak perduli dengan
mereka, dengan suara-suara itu, fokusnya tetap tertuju pada
seseorang. Akhirnya, sebelum menemukan jawabannya dia
telah dihadapkan pada kenyataan, pendengarannya memang
masih belum jelas tapi samar-samar, matanya melihat gadis
itu bergandengan tangan dengan sahabatnya. Saat Canna
kembali ke kamarnya dia melihat Satta tertidur, tapi dari sudut
matanya mengalir butiran air mata. Canna pun menggenggam
tangan Satta untuk memberikan semangat “Berjuanglah
sahabat! Demi kehidupan yang lebih baik dan demi orangorang
yang menyayangi kamu”.
Kata dokter masa kritis Satta sudah lewat, maka malam itu
Canna berpamitan pulang dan meninggalkan Satta sendiri,
“Istirahatlah yang cukup, besok pagi aku akan kembali lagi”
Setelah Canna tak terlihat lagi, Satta pun membuka matanya.
Hatinya berteriak benarkah hidupnya bisa lebih baik? Benarkah
masih ada orang-orang yang menyayanginya? Secara medis
masa kritisnya memang sudah berlalu, tapi krisis mentalnya
baru saja menjalar. Di saat pikiran sedang kacau reaksi-reaksi
mulai timbul, tumbuh dan berkembang menjadi keputusasaan.
Dunianya yang kecil kini menjadi ciut, takkan ada celah lagi
untuk yang lain masuk. Secepat waktu berlalu, rasa syukur
yang tadi sempat dia ucap pun berubah menjadi penyesalan,
“Aku memang belum mengenalmu, tapi itu tak jadi alasan aku
tidak bisa jatuh hati padamu, kamu telah membangunkan
aku dari mimpi burukku, saat ini pun kehadiranmu mampu
mengembalikan kehidupanku, tapi untuk apa aku harus tetap
hidup? Lebih baik aku terkubur dibalut mimpi yang indah
daripada harus melihat kenyataan bahwa kamu adalah kekasih
sahabatku. Mom kenapa kamu biarkan aku kembali?, hidup
Melodi Kehidupan 57
ini telalu berat untuk aku jalani sendiri, harus bagaimanakah
menjalani hari-hari selanjutnya?.” Satta pun terlelap dengan
segala bentuk pikiran yang membelenggu hatinya.
Esok paginya cuaca begitu cerah, mentari seakan tak pernah
lelah untuk bersinar, pancarannya menembus kaca jendela
dan menerangi kamar Satta, seolah menyambut datangnya
kembali sang pangeran. Kehangatannya mengusik Satta
untuk membuka mata, setelah cukup beristirahat, Satta
baru merasakan sakit yang ada di tubuhnya, dia sadar kalau
kakinya belum bisa digunakan untuk berjalan. Tiba-tiba Canna
sudah ada di pintu “Morning brother, bagaimana kondisimu
sekarang? Apa yang kamu rasa?” Satta yang sedang melamun
sempat kaget namun berusaha untuk tersenyum, dia tidak
mau sahabatnya mengetahui apa yang sedang begejolak di
dalam hatinya, “Seperti yang kamu lihat, aku takkan semudah
itu dibiarkan lenyap” tatapannya matanya menerawang jauh
sekali, senyum sinis mengembang dibibirnya, “Thank Can...
selama ini kamu sudah merawat aku dengan baik”. Canna
membuka kaca jendela lebar-lebar berharap udara segar yang
mengalir dapat menjernihkan pikiran Satta, “It’s Okay Sat...
tapi aku tidak bisa menghubungi ayah kamu.” Canna merasa
bersalah kata-katanya seperti menegaskan bahwa Satta tak
punya keluarga. “Tak apa Can, dari dulu sudah seperti itu”,
bagi Satta itu memang hal yang biasa. “Sebagai gantinya aku
bawain ini buat kamu, biar kamu tidak kesepian, soalnya
kata dokter paling cepat satu minggu lagi kamu baru bisa
pulang” Canna menyerahkan biola kesayangan Satta, “Tapi
sayang kamera kamu hancur saat kejadian itu, nanti kalau
sudah sembuh aku antar kamu deh buat cari kamera baru”,
kali ini Satta yang merasa bersalah, bagaimana mungkin dia
58 Seri Kumpulan Cerpen
menghianati sahabat yang begitu tulus menyayangi dia.
Hembusan angin yang menerpa wajahnya seolah berbisik dan
mendorongnya untuk sekali lagi meyakinkannya, “Semalam
sepertinya ramai sekali? Mereka semua teman kamu?” Satta
tak berani manatap mata Canna. “Ya, mereka ingin mendoakan
kamu agar cepat sembuh. Semuanya temen di wihara, cuma
satu orang yang bukan, kamu liat gadis yang di sebelah aku?”.
Tiba-tiba saja bayangan gadis itu tergambar jelas, wajahnya,
senyumnya, suaranya melintas dengan cepat dipikiran Satta,
namun kata-kata terakhir Canna membuyarkan semuanya,
“Dia pacarku, kami baru jadian seminggu yang lalu, tepat saat
kamu kecelakaan.” Canna yang tak tahu luka hati Satta terus
bercerita, niatnya hanya satu yaitu berbagi kebahagiaan. Satta
memang bahagia melihat sahabatnya bahagia, tapi di sisi lain
terasa ada yang hilang, yaitu kesempatan bersama gadis itu
tak mungkin menghampirinya, sama seperti dawai biolanya
yang tak dapat mengukir senyum di wajah mamanya.
Ketika hari menjelang sore, Canna berpamitan pulang.
Sebelum beranjak dia sempat mengatakan kalau akan datang
tamu istimewa, tapi Satta tak begitu antusias. Sejak menuai
kekecewaan, baginya kata istimewa menjadi begitu tak
berharga. Tiba-tiba saja langit cerah berganti mendung, seperti
mengerti apa yang dia rasakan. Dia pun mulai memainkan
biolanya, denting melodi mengalun dengan merdu namun
terdengar menyayat hati. Setelah usai terdengarlah suara
tepuk tangan, “Permainanmu sangat bagus sekali, tapi buatku
itu terlalu sedih, perkenalkan namaku Key” dia mengulurkan
tangannya. “Kamu pasti Satta!” senyum yang manis
mengembang di wajahnya. Entah sejak kapan datangnya,
Melodi Kehidupan 59
bocah ini sudah duduk di dekat Satta. “Apa yang kamu lakukan
di sini?” melihat seragam yang dia pakai sama dengannya,
Satta jadi teringat tamu istimewa yang dikatakan Canna. “Aku
senang sekali kakak sudah sadar, tiap hari aku selalu datang
ke sini dan berharap bisa mengenalmu, kata kak Canna
kamu sangat hebat memainkan biola, kamu juga fotografer
handal, kelak bila sudah besar aku ingin sekali seperti kakak,
bisa menghibur orang-orang dengan melodi yang indah.”
Celotehnya. “Tapi tak bisa membuat orang yang kamu cintai
tersenyum, tak bisa membuat orang yang kamu cintai tetap
berada di sisimu” Satta nampak tak sepaham. “Setidaknya itu
lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa untuk orang yang
kita cintai dan mencintai kita.” katanya mantap. “Maksudmu?”,
sebenarnya Satta malas berbicara, tapi keceriaan bocah
itu menggelitik hatinya. “Kakak tau tidak? Sudah tiga bulan
aku berada di sini, aku terkena leukimia, setiap hari hanya
menunggu malaikat yang mau mendonorkan sum-sum tulang
belakangnya untukku... ” bocah itu mengatakannya hampir
tanpa beban membuat Satta malu dengan dirinya sendiri, “...
Bayangkan kalau selama itu aku hanya terbaring di tempat
tidur, tak melakukan apa-apa, pasti aku benar-benar terlihat
seperti anak yang berpenyakitan, dan sudah pasti itu membuat
papa dan mamaku sedih. Nah makanya saat kondisiku fit,
aku suka bejalan-jalan keliling rumah sakit ini. Aku yakin
ketika mampu membuat orang-orang yang ada di sekitarku
tersenyum pasti itu dapat mejauhkan kesedihan di hati orang
yang aku cintai, mama dan papa aku.” Sorot matanya yang
teduh menatap mata Satta yang mulai berkaca-kaca. “Ternyata
kamu jauh lebih hebat dari aku.” Dia sadar kesedihannya yang
membelenggu tak sebanding dengan bocah itu, tapi otaknya
60 Seri Kumpulan Cerpen
begitu dangkal membuat reaksi dalam menghadapinya
menjadi berlebihan. “Apa yang membuatmu seperti itu?”
Rasa ingin tahunya membuat dia bertanya, bocah itu bangkit
dari tempat duduknya dan membuka jendela di ruangan itu
lebar-lebar, “Kau lihat mendung tak selalu akan turun hujan,
angin itu telah membawa awan hitam berlalu, sebentar lagi
bias-bias cahaya akan membentuk sebuah pelangi dengan
warna-warni yang indah, kakak tahu warna pelangi?” dia
bertanya tanpa menoleh kearah Satta. “Mejikuhibiniu” jawab
Satta. “Benar sekali, lihat itu!” Tangannya menunjuk pelangi
yang mulai terbentang di cakrawala, “Aku sangat suka melihat
pelangi, indah bukan?” Kali ini dia membalikkan badannya
memastikan Satta melihat apa yang dia lihat. “Yah, lebih
indah dari yang pernah aku lihat.” Pelanginya yang berbeda
atau suasana hatinya yang berbeda? tapi begitulah yang
dirasakan Satta, kata-kata bocah itu telah menjernihkan lensa
matanya. “Kakak tahu kenapa di sana tidak ada warna hitam
dan putih?” tanyanya tersenyum. “Tidak.” Pertanyaannya
terasa aneh dia pun menjawab dengan singkat. “Sebenarnya
dengan mata hati kita bisa lihat, di awal pelangi itu ada warna
hitam, terus bergulir menjadi warna-warni indah hingga
berakhir dengan warna putih, sama dengan dimensi waktu
yang kita punya, saat lalu, saat ini dan saat nanti.” Satta yang
serius mendengarkan manggut-manggut dan berpikir sejenak
“Apa hubungannya dengan warna pelangi?” rupanya ia masih
belum mengerti. “Hitam itu diibaratkan masa lalu kita yang
gelap penuh dengan kesedihan, keputusasaan, kekecewaan,
kehilangan, kegagalan, semuanya cukup tersimpan di dalam
hati, tak perlu kita tunjukan kepada seluruh penghuni dunia.
Jangan berhenti sampai di situ, beralihlah untuk saat ini.
Melodi Kehidupan 61
Terus bergerak dengan melodi-melodi indah seperti langkah
pelangi yang penuh dengan warna-warni, menghias langit
yang biru dan mengukir senyum bagi mata-mata orang yang
memandangnya, hingga saat nanti warna putih bisa terlihat
di ujung kehidupan kita, bersih dan terang.” Senyum tulus itu
terlihat di wajahnya, kata-kata yang baru saja diucapkannya
seolah menghancurkan dinding kegelapan Satta, selama ini
dia hanya hidup di masa lalu, tak bisa menerima kenyataan,
tak membiarkannya berlalu, terus terjebak dalam lingkaran
kesedihannya dengan membangun dunia yang sempit di
atas dunia yang nyata. Sunyi sebentar, “Terima kasih karena
kamu sudah mengajarkan aku banyak hal, kupikir aku bisa
melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda sekarang,
menerima dan memafkan saja ternyata tidaklah cukup, aku
harus mengikhlaskannya, itu berarti mejalani hidupku ke
depan, mulai memikirkan masa depan daripada masa lalu.”
Bocah itu mengangguk, “Ya, kakak mengartikannya dengan
bagus sekali, tapi masa lalu dan masa depan tak nampak pada
pelangi, itu berarti kita harus berjuang untuk saat ini.” Sunyi
lagi. “Bagaimana caranya melukis warna-warni yang indah
itu?” Bocah itu kini duduk di samping Satta. “Dengan berbagi
apa saja yang kamu punya, supaya orang-orang yang berada
di sekitarmu bahagia dan hidupmu menjadi berarti untuk
makhluk lain.” Katanya sambil tersenyum lebar. “Semudah
itu?” Satta tak percaya. “Yah ayo kita mulai, bisakah kakak
memainkan sebuah lagu untukku?” Sikap manjanya mulai
terlihat. “Tentu saja adik manis” Satta bersiap-siap memainkan
biolanya. “Tapi tidak seperti tadi, bisakah kau mainkan lagu
Doraemon kesukaanku?” Dia terlihat malu-malu dan antusias
sekali. “Yahhh lagu ini khusus buat kamu, dengarlah....” Melodi
62 Seri Kumpulan Cerpen
itu mulai mengalun dengan indah membuat sukacita bagi
orang yang mendengarnya, bahkan setelah mereka berpisah
melodi itu terus bergema di hati Satta, jauh lebih indah dari
melodi gadis itu, karena melodi itu tercipta dari dirinya sendiri
yang disertai ketulusan hati.
Sepanjang malam Satta terus tersenyum, tak percaya bocah
itu ternyata benar-benar tamu istimewa. Seperti namanya
yang berarti kunci dia telah membuka pintu hati Satta yang
tertutup rapat tanpa celah, dan Satta merasa aneh saat Key
mengatakan bahwa ia tahu semua tentang itu dari peri pelangi
(hehehe..) dasar anak-anak paling senang dengan cerita dari
Negeri dongeng. Tapi Satta tidak perduli, kenyataannya bocah
itu telah mengajarkan arti kehidupan dan menyalakan sumber
melodi yang ada di hatinya. Ketika malam semakin larut dia
pun terlelap dengan nyenyak, menyiapkan energi untuk esok
yang lebih cerah dengan kehidupan yang lebih baik, untuk
orang-orang di sekitarnya seperti yang dikatakan sahabatnya,
tak ada lagi keputusasaan, tak ada lagi patah hati, tak ada
lagi dunia yang sempit. Entah sadar atau mimpi Satta melihat
mamanya tersenyum bahagia. ^^
*petikan
Penderitaan atau Dukkha bisa datang menghampiri siapa
saja dan usia tidak menjamin yang tua lebih bijaksana,
semua tergantung pola pikir kita dalam menyikapinya.
Masa lalu memang tak bisa dipisahkan, tapi bukan berarti
harus tenggelam pada masa lalu, hiduplah saat ini dengan
melukis warna-warni yang indah di setiap langkah kita.
Kebahagiaan dan kedamaian yang sesungguhnya terletak
di dalam diri kita, seindah apa pun melodi yang kita dengar,
tetap tak seindah melodi yang kita ciptakan sendiri dengan
ketulusan hati. Dengan segala keterbatasan yang kita
punya, mari kumandangkan melodi indah dalam diri kita
hingga tercipta satu harmoni yang selaras, saling berbagi,
saling memberi, saling membantu, sampai akhirnya hidup
kita benar-benar berarti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar