Jumat, 21 Juli 2017

Percayakah Anda?

Percayakah Anda?

Hendry Filcozwei Jan



”Jessi... mau apa?” aku berusaha untuk tetap bersabar, meski
kepala ini rasanya mau pecah. Sudah hampir dua jam Jessica
menangis. Aku tidak tau apa yang diinginkannya. Makan
sudah, minum susu sudah, perutnya sudah kuusap dengan
minyak telon kalau-kalau Jessi sakit perut. Diberi mainan
tidak mau, dibacain cerita juga masih menangis. “Jessi, tolong
Mama dong...” aku coba kembali membujuk Jessica putriku
yang berusia 4 tahun dan berharap ia mengerti.
Kepalaku pusing. Kaos yang kupakai sudah basah, mandi
keringat karena stres. Andry suamiku sedang dapat tugas
kantor ke Semarang selama seminggu. Otomatis aku tak bisa
minta bantuannya untuk mengasuh Jessi sebentar, supaya
aku bisa istirahat sejenak. Kami tinggal di kompleks Permata
Kopo, Bandung. Baru 2 tahun kami tinggal di kompleks ini.
Rumah kami lumayan jauh dari gerbang kompleks. “Lebih
tenang dan relatif lebih nyaman,” suamiku memberi alasan
ketika dia memilih rumah ini.
“Permisi.... permisi...” kudengar suara teriakan dari arah luar
yang nyaris hilang ditelan suara hujan deras yang disertai kilat
dan petir. “Siapa pula ini?” pikirku. Nggak tau orang lagi stres,
malah bertamu di waktu yang sama sekali tidak tepat.
Kubuka pintu sambil tetap menggendong Jessi dengan tangan
kiriku. Seorang gadis berdiri di teras rumahku dalam keadaan
nyaris basah kuyub. “Ada apa?” aku bertanya dengan nada
ramah, meski suasana hatiku sedang tidak baik.
“Tidak ada apa-apa Bu. Maaf, saya cuma mau numpang
berteduh. Tiba-tiba hujan deras dan kebetulan saya lihat pintu
pagar rumah ini terbuka. Maaf kalau saya lancang.”
“Oh... tidak apa. Mari masuk.” Hmmm... pasti si pengantar air
galon tadi lupa menutup pintu pagar, batinku.
“Tidak usah Bu, di sini saja.”
“Tidak perlu sungkan, masuk dan duduk di dalam saja”
tawarku.
Singkat cerita, dia masuk setelah sebelumnya mengibaskan
rambut dan tangannya serta mengelap wajahnya dengan sapu
tangan agar tak terlalu banyak tetesan air yang membasahi
lantai rumahku. Sementara itu, tangis Jessi belum juga reda.
“Adik manis, kenapa menangis?”
“Ya nih... gak tau kenapa, dari tadi menangis saja.”
“Sini sama Cici yuk...” dia menyorongkan tangan ingin
menggendong Jessi.
Ajaib, entah mengapa Jessi sepertinya mau. Dia menatap
wajah gadis itu dan tangisnya sedikit berkurang. Kubiarkan
saja saat gadis itu mengambil Jessi dari gendonganku. Tidak
ada reaksi penolakan dari Jessi, itu sedikit membuatku lega.
Sejak pembantu lama berhenti karena pulang kampung dan
menikah, Jessi tidak cocok dengan 3 pembantu baru yang
kami ambil dari yayasan. Akhirnya aku memutuskan tidak
menggunakan jasa pembantu, meski untuk itu aku harus
merelakan karirku di sebuah bank swasta.
Tangis Jessi perlahan berkurang dalam gendongannya.
“Mau Cici ceritain?” Jessi mengangguk meski dari gerakan di
bahu Jessi aku bisa melihat gerakan yang menandakan sisa
tangisnya.
“Sebentar ya, saya ambilkan minum dulu” kataku sambil
melangkah ke dalam. Ada rasa khawatir juga meninggalkan
anak dengan orang yang baru kukenal beberapa menit
lalu. Tapi aku berpegang pada naluriku saja sebagai wanita,
tampaknya ia gadis baik-baik.
“Tidak usah repot-repot Bu. Sudah boleh numpang berteduh
pun saya sudah berterima kasih.”
“Tidak apa” kataku.

Aku lega mendapati mereka berdua masih di ruang tamu
dan Jessi sudah mulai tersenyum dalam gendongan gadis
itu. Terkadang kita merasa aneh, mengapa kita bisa merasa
benci atau merasa tidak suka pada orang yang baru kita kenal.
Atau kita begitu nyaman ngobrol dengan orang yang baru
kita kenal. Agak sulit menjelaskan kejadian seperti itu, sama
halnya dengan Jessica yang langsung bisa nempel pada gadis
itu. Menurut sumber yang pernah saya baca, itu karena ada
kedekatan kita di masa lalu. Karma masa lampau. Mungkin
gadis itu adalah teman atau sahabat atau ibu Jessica di masa
lalu. Siapa tau?
“Ayo diminum teh hangatnya” kuletakkan segelas teh manis
di meja.
“Terima kasih Bu.”
“Siapa namanya?” tanyaku.
“Oh ya, nama saya Metta.”
“Saya Celine.”
“Metta mau ke mana?” tanyaku lagi.
“Baru pulang mengajar les privat Bu” jawabnya sopan.
“Panggil saja Ci Celine saja. Ngajar di mana?”
“Itu di rumah bercat biru yang di ujung sana.”
“Oh... rumah Pak Jaya?”
“Ya...” dia mengangguk. “Kalau cuaca cerah, biasanya saya
jalan kaki ke depan kompleks baru naik angkot. Tapi kalau
hujan, saya naik becak. Tadi mendung, tapi tak terlalu gelap
sih, saya jalan kaki saja. Nggak taunya tiba-tiba hujan deras.”

“Jangan takut dan gentar, tidak akan terjadi apapun pada
dirimu yang bukan bagianmu (karmamu)” begitu kutipan
yang pernah saya baca pada pembatas buku Dhamma yang
saya dapatkan dari Andry. “Janganlah meremehkan kebajikan
walaupun kecil dengan berkata: Perbuatan bajik tidak akan
membawa akibat. Bagaikan sebuah tempayan akan terisi
penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian
pula orang bijaksana sedikit demi sedikit memenuhi dirinya
dengan kebajikan” itu yang pernah Andry ucapkan ketika aku
menangis mempertanyakan kebenaran Dhamma.
Apa arti “Apa yang kita tanam, itu yang kita petik?” Selama ini
saya menanam kebajikan, tapi yang saya terima sebaliknya.
Saya sudah berusaha berjalan di jalan Dhamma. Saya berusaha
jujur, tapi mengapa saya yang difitnah rekan sekantor, padahal
bukan saya yang melakukannya. Saya berbaik hati memberikan
pinjaman uang ketika teman saya butuh. Tapi apa balasannya?
Dia tak mau membayar hutangnya, bahkan selalu menghindar
ketika bertemu. Hilang uang, hilang teman.
“Kita tidak pernah tahu masa lalu kita, meski ada orang-orang
tertentu bisa melihat kehidupan masa lalu. Kita sekarang
sedang membayar hutang karma kita di masa lalu. Setiap
menerima sesuatu yang tidak menyenangkan, berusahalah
untuk ingat bahwa hutangmu sekarang semakin berkurang.
Bukankah itu lebih menenangkan kita? Buddha Dhamma
tidak mengajarkan kita untuk percaya begitu saja, tapi
ehipassiko. Kita lakukan, kita selidiki, dan nanti kita sendiri
akan merasakan bukti kebenaran Dhamma” untuk kesekian
kalinya Andry mengingatkanku.

Kubuka resleting bagian samping tas tangan untuk membayar
makan siangku di sebuah restoran Chinese food. Hari ini
aku ke Jakarta naik mobil travel bersama Jessica. Kami akan
menghadiri pernikahan saudara suami di sebuah hotel
berbintang. Suamiku masih ada tugas kantor di Jakarta
sehingga aku terpaksa ke Jakarta bersama Jessica. Aku minta
Andry menjemputku di sebuah mall, dari sana baru kami pergi
ke resepsi pernikahan.
“Oh... tidak! Dompetku sudah tidak di tas. Ternyata aku
kecopetan. Tas tanganku robek tapi rapi seperti habis disayat
dengan cutter. Aku shock. Kubuka resliting tas bagian tengah,
handphone-ku masih ada di sana. Untung saja (ini agak aneh
ya, sudah kecopetan masih merasa beruntung?)
“Hadirkan cinta, satukan rasa di dada, pancarkan kasih
pada sesama...” suara Iyet Bustami yang membawakan lagu
Hadirkan Cinta karya Joky mengalun dari ponsel-ku. Kuangkat,
kulihat dari nomor tak dikenal, tak ada nama yang muncul.
Kujawab “Halo... dengan siapa ini?”
“Ci Celine, apa kabar? Saya Metta. Masih ingat?”
“Oh... Metta. Kabar baik” jawabku, sopan santun khas orang
Timur meski aku sedang dalam masalah. Aku tak punya uang
untuk membayar tagihan makan siangku.
“Cici ada di mana? Maaf saya lupa kasih tau nomor lama saya
sudah gak aktif, sekarang ganti nomor ini ”
“Oh nggak apa. Cici ada di Jakarta, sekarang di Mall of
Indonesia.”
“Hah...? Gak salah denger nih? Bener sedang di Moi?”
“Ya. Emang kenapa?”
“Metta juga sedang di Moi. Karma baik nih. Kok bisa sama ya?
Lama gak telpon, sekali Metta telpon, eh...kita di tempat yang
sama. Cici di mana? Metta ke sana sekarang. Jessica ikut ‘kan?
Sudah kangen nih...”
“Ada di sini” saya menyebut nama restorannya. “Jessica juga
ada di sini, dia juga kangen sama Cici Metta”
Seperti kisah dalam sinetron saja ya? Sedang kesulitan, pas
sekali ada yang datang menolong. Itulah yang aku alami. Aku
tertolong oleh karma baikku?

“Hadirkan cinta, satukan rasa di dada, pancarkan kasih pada
sesama...” suara Iyet Bustami membuyarkan lamunanku. Aku
menoleh ke ponsel-ku yang tergeletak di atas meja. “Papa
Andry Sayang memanggil” itu tulisan di layar ponsel-ku.
“Ya, Papa sekarang ada di mana?”
“Sebentar lagi sampai ke rumah.”
“Kok lama baru diangkat?”
“Tadi lagi di toilet” aku berbohong (eh... kok bohong sih?).
“Sudah siap ‘kan?”
“Siap... Bos” aku bercanda.
“Maaf ya Ma, agak terlambat sedikit karena jalan Kopo Sayati
macet. Ada tabrakan antara motor dan mobil.”
Hari ini kami akan pergi makan malam merayakan 8 tahun
Percayakah Anda ? 21
pernikahan kami. Jessica, buah hati kami, sedang asyik
menonton televisi dan sudah siap dengan baju cantik
favoritnya.
Suara panggilan telpon dari suamiku tadi “membangunkan”
aku dari lamunan panjang. Lamunan kisah perkenalanku
dengan Metta. Selintas beberapa masalahku, rewelnya
Jessica, difitnah teman sekerja, kehilangan teman dan uang,
kecopetan, serta ditolong Metta pada keadaan tak terduga.
Yang terpenting dari semua itu, saya kagum atas ajaran Buddha
yang memberi keleluasaan untuk ehipassiko, membuktikan
sendiri kebenaran Dhamma. Tidak hanya percaya saja.
Saya sudah membuktikan kebenaran hukum karma, “Apa
yang engkau tanam, itu pula-lah yang akan engkau petik.”
Percayakah Anda?

Tidak ada komentar:

Legenda Danau Toba

Asal : S u m a t e r a U t a r a P a da j a m a n dahulu, h id u plah seorang p e m u d a t a n i y a tim p ia t u ...